PENCARIAN SEBUAH PERAYAAN HIDUP (Bag.1) #After #MetallicaJKT

Sepasang kekasih tampak tak sanggup menanggung sisa-sisa euphoria. Meski konser telah usai, mereka masih saling meracau sambil berjalan menyusuri jalan Gerbang Pemuda Senayan.

Sang perempuan adalah orang Indonesia. Ia bertubuh kurus, berkaos buntung, bercelana jins ketat sobek-sobek di bagian paha, dan bersepatu stiletto. Semuanya serba hitam. Kalungnya dengan deretan mata yang berbentuk segitiga tajam, berkilauan ditimpa cahaya lampu Jakarta. Sedangkan sang lelaki adalah warga negara asing. Perawakannya gempal, rambutnya keriting kuyup sehabis disiram keringat, kaosnya juga buntung berwarna putih, celananya pendek sedengkul, lalu memakai sepatu tracking layaknya sepatu seorang pendaki gunung.

Setelah menempuh puluhan meter, lelaki itu menggendong sang permata hati karena tumitnya sudah kepayahan. Adegan romantis tersebut  ibarat sinema bollywood bagi orang-orang di sepanjang jalan. Saat bayangan mereka sejajar denganku, si perempuan bertanya “Mas, hotel atlet di mana?” Tangan kiriku pun memberi arahan. Mereka semakin semangat. Kaki-kakinya berdetap-detap kencang tanpa ragu untuk menuju tempat yang lokasinya di selatan Stadion Gelora Bung Karno.

Konser Metallica apabila ditakar dalam relasinya terhadap pencarian manusia terhadap perayaan hidup yang mutlak tidak akan mendekati silogisme nan sempurna. Permenungan tentang perayaan hidup yang mutlak hanya bersemayam di masing-masing kepala kita.

Episode singkat sepasang kekasih di atas menggiringku ke setitik petunjuk bahwa perayaan hidup tidak mesti berhenti pasca konser berakhir. Selalu saja ada peluang untuk merekonstruksi perayaan hidup itu ke dalam bingkai-bingkai afektif yang maha mesra.

Bagaimanapun pembenaran atas perayaan hidup di antara kita tak sebegitu darurat untuk dicacah menjadi sebuah polemik. Akan lebih menarik sifatnya andai kita menanak soal apologetik yang dipermainkan itu dan secara kontinyu acapkali dipolitisir atau dikomersialisasi oleh agamawan di bumi manusia yang hakikinya hanya semacam candu bagi sekalian umat. Candu yang disihir sebagai jembatan yang mengantarkan mereka melenggang diam-diam ke dalam mobil mewah hingga mempoligami perempuan-perempuan yang jelita. Sempalan tak kasat mata dari peradaban manipulatif.   

Perayaan hidup dalam fungsi transendentalnya mengajak kita untuk berdialog secara intens dan intim dengan bulir-bulir makna yang tersembunyi di balik setiap peristiwa. Namun sialnya, kita justru seringkali tergelincir kepada pengejaran kenikmatan yang masif. Lupa esensi dasar. Seperti tulis Gabriel Garcia Marquez “joie de vivre”, di dalam novelnya (Seratus Tahun Kesunyian), yang artinya bahwa manusia tak lepas dari kecenderungan untuk menikmati hidup sepuas-puasnya. Dan demi Metallica, aku rela tergelincir sementara. Terpaku.