MENG(H)AJAR SNOBISME PARAH PAKAI METALLICA

Respect itu apa yah? Kamu tahu? Apa? Kok suaramu sayup-sayup. Melambai-lambai seperti kurang makan. Kamu sehat kan? Oh sehat. Nah, begitu dong ini baru kedengaran jelas. Bukalah mulutmu lebar-lebar dan beri penekanan yang tebal. All right, that sounds good.

Respect adalah saling menghargai satu sama lain. Benar katamu, yang enteng merenteng saja lah. ‘Loe respect gue respect!’ kira-kira bahasa prokemnya demikian. Kita remis. Seri. Tidak ada yang merasa sok-sokan. Bakar rokok bareng yuk?

Tetapi ada sebagian orang yang tak kunjung lulus mengerti ‘respect’. Seakan-akan yang hidup di dunia ini dia seorang. Yang lain pada ngontrak. Jadi, kelakuan apa pun dianggap biasa saja karena batas moral, tsaaaah, moral, hentikan! Maksud saya dia tak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang. Mengabaikan keberadaan manusia lain. Pseudo-bohemian. Hipster tanggung. Saya kawinkan, hybrid, keduanya jadi satu spesies: Alay keparat.

Maaf bila bernada bengis. Temparatur suhu tubuh saya sebenarnya sedang baik-baik. Lagipula saya tidak pukul rata. Hanya terkadang kelemahan saya, yaitu, sinisme, tiba-tiba berhasrat hendak menjewer orang yang belagu. Bisa juga sebut dia oknum alay. Merantau dari kampung halaman buat sekolah. Setiba di rantau setahun dua tahun otaknya malah kram. Memancing keributan. Membakar sekam dengan api. Dikasih jantung minta biji.   Tepat kan jika saya kutuk dia alay keparat.

Tentang penampilan saya beri jempol. Muda, sekitar 20 tahunan, aksesoris yang dikenakan berkaitan dengan musik. Kalung di leher. Gelang di lingkar tangan. Cincin tengkorak menggigit di jemari. Topi gaul menudung kepala. Kaos dijejali ornamen-ornamen Avenged Sevenfold.

Sayangnya, dia terkesan seorang snobisme. Songongnya bikin jempol saya berubah terbalik. Turun ke bawah.

Sekali dua kali sepuluh kali ratusan kali saya acuhkan dia. Saya tidak usil sebab kita ini sama-sama perantau. Malu kalau mengurusi hal seupil kayak begitu. Pikir saya. Lama kelamaan kok saya berpikir saya bakal tambah bego seumpama memberinya ‘monggo’ terus. Pagi siang malam menyarapi orang-orang dengan rongrongan speaker yang kalap. Padahal alay ini anak kost baru.

Sejak dia menjadi tetangga kamar dalam beberapa minggu telinga saya pengak. Keresehannya makin menyulut ke permukaan, dia kerap naikkan volume speakernya dengan gonggongan super jahanam magrib-magrib. Saya serasa menggelinjang sampai ke lapisan bumi yang paling berkerak. Kumal. Amis. Tak berbelantara. Kaki gemetar lemas bagai disengat janda yang kesepian. Kepala seolah tersiram kuah cah kangkung dengan cabe rawit yang barusan diangkat. Pedas dan panas. Kehidupan saya sekejap memasuki zaman kegelapan.

Di sinilah kesabaran saya mengering. Dangkal. Tanduk dua segera menjulang dari timbunan rambut saya. Samber geledek. Kecoa buntung. Kadal bunting. Monyet ngangkang. Itulah manifesto hari pembalasan saya.

 

Saya  mapping tindakan buatnya.

1. Mengetuk pintu kamarnya dan bicara halus.      

     “Tok..tok..tok! Maaf bro, bisa tolong dipelanin?”

2. Mencegatnya di parkir dan bicara halus.      

    “Bro, pada budeg nih!”

3. Melapor induk semang alias bapak kost.    

    “Pak, mohon bantu bilang ke si anak SMA kalo nyetel musik tau aturan”

 

Ketiga hal tersebut tak pernah saya lakukan, karena bermanis-manis hanya pekerjaan biduan dangdut yang minta saweran. Tak sesuai bila saya terapkan. Itu keputusan yang make sense bagi saya. Saya mengulik-ngulik ide sembari menatap atap kamar yang berlampu buatan Belanda.

Pikiran saya sempat mentok kemudian memilih keluar untuk menyambangi tempat kawan. Menumpang menyeduh kopi, menyaring masukan, dan membagi kegeraman. Saya sedikit lega walau pun tidak menghasilkan apa-apa selain pertanyaan tambahan yang kita reguk, “malem minggu gini-gini aja?”.

Titik terang menghampiri. Saya mendapat pencerahan. Bukan dari bisikan seorang filsuf import. Apalagi dari para motivator. Pencerahan itu datang dari folder di laptop. Cling. Cling. Cling. Mata saya berbinar-binar saat membongkar satu persatu folder. Dan saya menemukan cara yang cukup meninju.

 

SAYA AKAN MENG(H)AJAR ALAY ITU PAKAI METALLICA.

HA HA HA HA HA. JRENNGGGGGGGGG!

 

Saya rancang waktu penyerangan. Ketika kamarnya sudah terdengar gaduh, maka pembalasan saya lancarkan. Saya dorong lagu-lagu Metallica ke playlist. Terutama dari dua album mereka, Black dan Load. Saya hanya punya itu. Menyalinnya dari kawan yang baik hati. ‘Bom atom’ saya seketika menggempur. Tombol speaker ditinggikan hingga penuh. Semut-semut berduyun-duyun mengungsi.

Yang tampak di depan mata adalah asbak dan pintu yang terbuka. Gelegar Metallica menyeruak ke segala penjuru. Mosi kemarahan memberangus cuaca. Ia memagari si alay supaya tidak bisa lari.

Boleh dikatakan itu merupakan perang urat syaraf. Taktik gerilya peperangan batin antar batin dalam sejumput asa. Muka kalem reaksi dingin. Snobisme tingkat parahnya harus dicolek dengan Metallica. Superb. Biar psikisnya lebam dan kapok. Tanpa kekerasan, tanpa menarik kerah, tanpa petanta-petenteng. Betapa ideal.

Saya kesampingkan skeptikal penilaian dari diri saya sendiri bahwa saya dan dia sama gobloknya. Norak. It was just mind games. Have fun, folks!

Penggempuran terus berlangsung selama beberapa hari. Bom atom saya terlihat memiliki kuasa daripada lagu-lagunya. Metallica meng(h)ajar dia dengan sangat beringas. Saya dapat merasakan kegelisahan yang luar biasa dari bilik jendela anak itu ketika saya melewati kamarnya untuk kencing di wc. Avenged Sevenfold’s hard-die fans kalah telak. Saya jumawa sesaat. Metallica adalah hero of the day.

Dia pun telah enggan menghidupkan speakernya kuat-kuat. Dia seperti anak bengal ingusan yang terjerembab kepada sebuah keculunan. Diam tak berkutik. Saya bertepuk tangan dalam hati. James Hetfield memulihkan kehidupan saya. Kemerduan suara burung yang meloncat-loncat di atas genting pada pagi hari kembali saya dengar sambil memeluk bantal guling.

Beberapa bulan kemudian anak tersebut akhirnya pindah kost. Wah, saya tak mengira sampai sejauh itu. Semoga ia bisa memikirkan ulang imbalan orang jika dia respect terhadap orang lain di luar sana. ‘Yang reseh diresehin, yang asik ditemenin’. Adil.

Dalam catatan pengalaman ini ada mekanisme yang bekerja. Saya semata menuliskannya untuk melupakan. Kesenangan akan ada di dalam setiap momentum, dan saya pernah mendekapnya bersama Metallica.

Welcome to Indonesia, Metallica \m/