Seni lebih kuat daripada perang

“SENI LEBIH KUAT DARIPADA PERANG” : 
Wawancara Dengan Seorang Seniman Jalanan Perempuan Pertama Afganistan.

Seorang seniman graffiti asal Afganistan dengan berani turun ke jalanan dengan sebuah kaleng cat semprot dan berharap untuk sebuah masa depan yang damai. Shamsia Hassani, seniman jalanan perempuan pertama Afganistan, telah muncul sebagai seorang “penyambung lidah” bagi hak-hak asasi kaum perempuan di Kabul. Lisa Pollman dari “Art Radar” berbincang-bincang dengan seniman tersebut untuk mencari tahu lebih banyak mengenai seni visual pasca konflik dahsyat dan gerakannya yang ingin membuktikan bahwa seni lebih kuat daripada perang.

Shamsia Hassani, ‘Sound Central Festival’, Kabul, 2012. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Sound Central Festival’, Kabul, 2012. Dokumentasi pribadi seniman.

Lahir di Iran dengan orang tua asal Afganistan, Shamsia Hassani adalah seorang seniman jalanan dan digital yang berkarya di negara yang bersituasi rumit dan berkonflik hebat, dia pulang kembali di 2005 demi mengejar pendidikannya di seni rupa di universitas Kabul. Seorang perintis di layar seni kontemprer Kabul, dia bekerja untuk membuat lokakarya seni graffiti tahunan di negerinya, dengan sebuah skala yang lebih besar, untuk mengubah cara masyarakatnya dalam memandang kaum perempuan yang menolak untuk menyembunyikan pendapat mereka di balik tudung kesunyian. Karyanya meliputi “Dreaming Graffiti”, sebuah seri yang mana dia lukis atau golah-digitalkan warna dan gambar ke dalam foto-foto digital untuk mengeksplorasi isu-isu keamanan nasional dan individu.

P: Tolong beri tahu kami bagaimana kau memulai seni jalanan di Afganistan.

J: Saya mulai mengerjakan seni jalanan di suatu lokakarya seni graffiti di Kabul di Desember 2010 ketika seorang seniman graffiti bernama Chu datang dari Inggris untuk mengajari kami. Lokakarya itu diorganisir oleh Combat Communication di Kabul.

P: Sebagai perintis seni jalanan di negaramu, siapa dan apa yang menginsipirasimu?

J: Setelah lokakarya graffiti tersebut, saya merasa bahwa saya bisa memperkenalkan seni kepada orang dengan membuat graffiti sebab (secara alamiah) graffiti selalu ada di tempat terbuka. Apabila Anda menyelenggarakan beberapa pameran seni, kita tidak bisa mengundang setiap orang, jadi tidak semua orang bisa datang. Jika kita mempunyai karya seni di tempat yang terbuka, setiap orang bisa menikmatinya.

Saya ingin memberi warna pada kenangan-kenangan buruk perang di tembok-tembok dan kalau saya mewarnai semua kenangan buruk ini, maka saya menghapus (perang) dari pikiran orang. Saya ingin membuat Afganistan terkenal karena seninya, bukan perangnya.

P: Dalam pendapatmu, bagaimana perbedaan seni jalanan dibandingkan jenis seni kontemporer formal kebanyakan? Apakah hal itu lebih atau kurang penting? Kenapa?

J: Di Afganistan, graffiti merupakan sesuatu yang berbeda. Di Eropa dan negara lainnya, graffiti adalah sesuatu yang ilegal. Di Afganistan, saya menggunakannya dengan jalan yang berbeda untuk pesan yang berbeda, untuk ide yang berbeda. Setiap jenis seni sangat bagus untuk pengembangan seni di Afganistan. Saya pikir graffiti itu lebih baik karena seluruh orang bisa melihatnya dan seni graffiti ada setiap saat. Begitulah gagasan saya.

Shamsia Hassani, ‘Sound Central Festival’, Kabul, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Sound Central Festival’, Kabul, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.

P: Bagaimana keluargamu menilai karyamu?

J: Keluarga saya menyukai seni yang saya kerjakan. Mereka selalu senang mendukung saya. Mereka tidak berupaya untuk menjegal pekerjaan saya, mereka justru memiliki ide-ide untuk karya seni saya. Mereka menyenanginya dan saya gembira akan hal ini.

P: Apakah keluargamu di Afganistan? Di manakah kau lahir?

J: Keluarga saya di Afganistan. Saya lahir di Iran. Iran tak sama dari negara-negara lainnya. Meski kau tinggal di sana selama 100 tahun, kau tidak dapat menjadi warganegaranya. Di Iran, saya ingin kuliah di jurusan seni namun karena kewarganegaraanku, saya tak bisa. Kami pulang kembali ke Afganistan sekitar 8 tahun yang lalu. Aslinya, keluarga kami berasal dari provinsi Kandahar.

P: Apa tantangan dan kesulitan mengerjakan seni jalanan di Kabul?

J: Di Kabul, graffiti berbeda dibandingkan dengan yang ada di Eropa, di mana seseorang pasti amat berhati-hati dengan para polisi. Di sini, saya tak mendapat masalah dengan polisi. Saya punya permasalahan dengan orang yang berpikiran tertutup. Saya punya permasalahan yang besar dengan keamanan yang buruk. Saya mencemaskan sepanjang waktu permasalahan keamanan itu saat saya tengah berada di jalanan, mungkin sesuatu akan terjadi, saya takut saya seharusnya pergi.

Shamsia Hassani, ‘Rote Fabrik’, Swiss, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Rote Fabrik’, Swiss, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.

P: Hal yang mengejutkan seperti apa yang kau temukan dalam mengerjakan seni jalanan di Kabul?

J: Awalnya ketika saya ingin mulai untuk mengerjakan graffiti, saya tidak membuatnya di tempat umum. Saya melakukannya di dalam ruangan, di sudut-sudut, bagi saya lebih nyaman, sekarang saya pun mengerjakan graffiti (di luar) di jalanan.

Saya tak punya gagasan tentang permasalahan seperti apa yang akan saya hadapi. Karena graffiti adalah sesuatu yang baru, tentu saja orang akan memiliki ide yang berbeda (dan reaksi). Saya sudah mendengar kata-kata yang tak enak dari orang yang tidak senang terhadap karya seni tersebut. (Saat melukis di luar), orang menghampiri saya, mendiskusikan (pendapat mereka) bersama saya. Beberapa dari mereka bertengkar dengan saya, dan yang lainnya ingin menghentikan karya seni saya.

Saya begitu terkejut dengan mereka yang mengatakan “mengapa kau membuat tembok-tembok kotor?” Sejumlah orang juga khawatir bahwa aku mengerjakan sesuatu yang tak dibolehkan di Islam. Sisanya berpikir apa yang saya lakukan tersebut tak elok karena berada di jalanan, dan melakukan seni semacam ini. Di waktu yang sama, saya melihat segelintir orang menyukai karya saya.

P: Reaksi seperti apa yang kau dapatkan sebagai seorang perempuan yang mempraktekkan seni jalanan di Afganistan? Apakah kau diancam atau apakah kau merasa ditakut-takuti? Apakah kau disanjung?

J: Ada sekelompok orang yang berlainan yang melihat karya saya secara beda. Di antara mereka ada yang tertarik untuk mengetahui seni apakah itu. Saya senang pada orang-orang yang menanyakan karya saya. Ada sedikit orang yang suka terhadap karya tersebut akan tetapi tidak tahu itu seni graffiti atau itu disebut apa. Yang lainnya bilang “kau membuat suatu gambar. Itu tidak boleh” dan “kenapa kau mau membuat tembok kotor”. Beberapa orang lainnya berpandangan bahwa saya terlalu bebas dan tidak ada kerjaan, makanya saya mengotori tembok-tembok tersebut. Ada banyak perbedaan pemikiran.

Shamsia Hassani, ‘Dreaming Graffiti di Istana Darulaman', 2012. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Dreaming Graffiti di Istana Darulaman’, 2012. Dokumentasi pribadi seniman.

P: Tolong beritahu kami tentang “Dreaming Graffiti” dan apa yang menginspirasimu untuk memakai teknik ini?

J: Saya tak melulu dapat membuat maupun menemukan kesempatan yang baik untuk mengerjakan graffiti (di luar). Mungkin hanya setiap 2 atau 3 bulan saya memiliki kesempatan tersebut. Terkadang ada masalah keamanan atau saya tidak bisa pergi ke beberapa tempat lantaran orang-orang itu.

Saya memutuskan menggunakan gambar digital lebih besar, dan (saya) bisa mengerjakan graffiti di dalam studio saya. Saya mampu mengerjakan graffiti di atas gambar-gambar di studio saya dengan mempergunakan kuas dan kaleng cat di atas seluruh gambar.  Jadi seperti itulah karya “Dreaming Graffiti” saya. Itu graffiti tetapi hanya berada di benak saya. Tidak nyata.

P: Apakah kau atau ada seniman lain yang memberikan bimbingan pada seniman-seniman muda jalanan di Afganistan?

J: Iya. Saya mau menunjukkan mereka betapa mereka bisa membuat graffiti. Apa yang saya tunjukkan bukanlah seperti yang saya ajarkan di kelas formal di kampus, namun kami mengadakan lokakarya yang berlangsung dua minggu di mana aku mengajarkan graffiti ke para mahasiswa, di mana saya dapat membahas tentang graffiti. Mereka benar-benar bahagia membuat graffiti karena graffiti itu sebuah bentuk baru seni. Graffiti berbeda dari menggambar di atas kertas, dan graffiti itu keren sebab kau bisa mengerjakan sebuah gambar graffiti yang sangat besar.

Saya ini dosen termuda di kampus, dan kebanyakan mahasiswa saya di lokakarya itu berusia sama dengan saya. Rata-rata umur mereka di antara 20 dan 26 tahun.

P: Adakah perhatian yang kuat dalam seni visual, atau sejarahnya, di Afganistan?

J: Ada sebuah tradisi lukisan-lukisan miniatur, dimulai oleh seorang seniman Afganistan bernama Kamaludin Behzad. Dia adalah orang pertama yang membuat lukisan-lukisan miniatur di Afganistan. Dia berasal dari Herat. Dia melukis pada jaman yang sama saat Leonardo Da Vinci mengerjakan lukisan-lukisan di Eropa.

P: Apakah seni visual diajarkan di sistem pendidikan Afganistan ke para mahasiswa?

J: Iya, namun masih terdapat sedikit rintangan dengan sistem pendidikan yang kolot di kampus. Hanya ada pelatihan yang umum di kampus, seperti menggambar. Pelan-pelan, timbul beberapa gagasan dan program-program seni lainnya, seperti seni kontemporer.

Saya adalah seorang dosen dan anggota fakultas dari departemen seni rupa di universitas Kabul. Ketika para mahasiswa mengetahui bahwa saya membuat graffiti, saya menawarkan untuk mengajari graffiti ke mereka. Tahun lalu, saya mempersiapkan sebuah lokakarya graffiti untuk mereka. Setiap tahun, aku ingin mengadakan lokakarya graffiti untuk para mahasiswa karena saya tidak dapat mengajarkan graffiti sebagai subyek yang biasa. Saya bisa memperlihatkan dan mengajarkan mereka bentuk baru seni serta memperkenalkannya pada mereka. Kini ada begitu banyak seniman di Afganistan. Ketika saya datang ke Afganistan 8 tahun lalu, saya tak bisa menemukan seniman atau karya seni yang bagus. Sekarang, semuanya berkembang, dan jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Shamsia Hassani, ‘Dreaming Graffiti Kabul’, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Dreaming Graffiti Kabul’, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.

P: Tolong beritahu kami tentang keterlibatanmu dengan Berang Art Organisation.

J: “Berang artinya “berwarna”. Ada kisah tentang Berang Art Organisation. saya terpilih sebagai salah satu dari 10 seniman teratas di 2009 di Kabul. Sesudah itu, kesepuluh seniman ini bersama-sama ingin membuat sebuah organisasi baru demi mengembangkan seni kontemporer. Kami bekerjasama dan menciptakan pengkoleksian seni. Saat pertama kami menyebutnya “Rosht” dan sekarang disebut “Berang”. Kami memiliki seminar-seminar dan lokakarya. Kami masih belum mempunyai dana yang cukup dan kami mencoba untuk melanjutkannya lagi.

Kami mempunyai cita-cita untuk memungkinkan para seniman yang lainnya dapat belajar. Ada seniman-seniman yang mau berkarya tetapi tak mendapatkan tempat untuk berkarya. Kami ingin memiliki sebuah perpustakaan (yang tersedia) bagi seluruh seniman. Kami dapat banyak gagasan, kami bekerja untuk mengembangkan seni kontemporer di Afganistan dan kami akan mengembangkannya lebih lanjut.

P: Apakah kau berpikir bahwa kebanyakan orang di Afganistan lebih sadar terhadap seni kontemporer karena internet?

J: Saya tidak tahu secara percis. Mungkin orang terinspirasi oleh internet atau cuma terinspirasi untuk membuat atau mempelajari bentuk baru karya seni. Saya pikir bahwa ketika orang melihat seni itu mempunyai sebuah pesan, mereka tak hanya berpikir sekilas, seni (juga) mempunyai sesuatu untuk dikatakan. Setiap orang senang mengekspresikan perasaan mereka melalui gambar. Moderen atau seni kontemporer bukan hanya soal sebuah gambar, ia mempunyai sesuatu untuk dikatakan.

Inilah situasi yang amat berbeda di Afganistan sebab setiap orang punya sesuatu untuk dikatakan perihal politik dan kondisi terkini. Setiap orang semakin lelah dengan peperangan. Mereka melihat sebuah gambar dan suka mendiskusikannya. Hari-hari ini, ada berbagai pembahasan tentang perdamaian dan gencatan senjata. Hal ini merupakan pemikiran yang penuh harapan yang orang mau kembangkan.

P: Apakah seniman menggunakan seni mereka sebagai sebuah cara untuk menyuarakan pandangan politik mereka?

J: Iya. Tidak hanya politik namun juga permasalahan yang lainnya, seperti pendidikan. Siapa pun mau membawa sebuah perubahan pada politik dan menyoroti kesulitan-kesulitan rakyat dengan beragam gagasan. Mereka juga ingin mengembangkan seni dan mengubah sudut pandang orang dalam melihat seni mereka sembari memberi sebuah dampak dalam masyarakat dengan seni tersebut.

Shamsia Hassani, ‘Message Salon’, Swiss, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Message Salon’, Swiss, 2013. Dokumentasi pribadi seniman.

P: Bagaimana kau memakai seni jalanan untuk menyoroti hak-hak asasi kaum perempuan di Afganistan?

J: Ini merupakan topik yang ingin sekali saya bicarakan. Saya kerap menjumpai bahwa pada waktu dan kesulitan yang berbeda yang berhubungan dengan peperangan serta kelompok Taliban, rakyat menghadapi segudang permasalahan. Bagi kaum perempuan, mereka berhadapan dengan banyaknya pembatasan-pembatasan yang disebabkan oleh berbagai masalah. Di masa lalu, kaum perempuan disingkirkan dari masyarakat, kaum lelaki menginginkan kaum perempuan untuk tinggal saja di rumah serta berupaya untuk melupakan hal-hal yang menyangkut tentang kaum perempuan. Kini, saya ingin menggunakan karya seni saya untuk mengingatkan semua orang tentang kaum perempuan.

Saya telah mengubah karya gambar saya demi menunjukkan kekuatan kaum perempuan, kegembiraan kaum perempuan. Di karya seni saya terdapat berbagai pergerakan. Saya mau memperlihatkan bahwasannya kaum perempuan telah kembali ke tanah Afgan dengan sebuah pembaharuan, bentuk yang lebih kuat. Bukan lagi perempuan yang tinggal di rumah. Seorang perempuan yang baru. Seorang perempuan yang penuh daya kekuatan, yang mau bergerak memulai lagi. Anda dapat menyaksikan itu di karya seni saya, saya mau mengubah rupa kaum perempuan. Saya lukiskan mereka lebih besar daripada kehidupan. Saya mau menyampaikan bahwa sekarang orang dapat melihat mereka secara berbeda.

P: Media barat mungkin melihat burqa sebagai semacam “penjara”. Bisakah kau bicara bagaimana kau memandang burqa? 

J: Begitu ramainya orang di seluruh dunia yang berpikir bahwa burqa adalah sebuah masalah. Mereka berpendapat kalau kaum perempuan melepaskan burqa, lantas segala permasalahan mereka bisa teratasi. Namun ini sesungguhnya tidak benar. Saya rasa bahwa terdapat banyak masalah di Afganistan bagi kaum perempuan. Contohnya, ketika kaum perempuan tidak memiliki akses menuju pendidikan, ini melebihi sebuah masalah dari sekadar mengenakan burqa. Seandainya kau melepaskan burqa tersebut, mereka tetap memiliki masalah yang sama. Hal ini bukanlah permasalahan yang utama. Kita seharusnya tak berkonsentrasi pada soal ini. Kita seharusnya memikirkan permasalahan yang utama itu, maka burqa tidaklah terlalu buruk. Kau dapat mengembangkan bakatmu dan tetap mengenakan burqa. Kau bisa berkarya dan masih dapat hidup di masyarakat serta mengenakan burqa.

Shamsia Hassani, ‘Dreaming Graffiti di studionya,’ Kabul. Dokumentasi pribadi seniman.
Shamsia Hassani, ‘Dreaming Graffiti di studionya,’ Kabul. Dokumentasi pribadi seniman.

P: Saya tak bisa membantu meskipun begitu memperhatikan bahwa kau menggunakan warna biru pada kebanyakan karya lukismu. Kenapa?

J: Biru adalah warna favorit saya. Saya sungguh menyukainya. Mungkin terlalu berlebihan. Saya merasa nyaman saja dengan warna itu, di saat yang bersamaan saya mendengar orang mengatakan biru itu warna kebebasan. Menurut saya, kebebasan bukanlah melepas burqa. Kebebasan adalah mendapatkan rasa damai.

P: Apakah seni kontemporer di Afganistan penting? Kenapa?

J: Iya. Orang kian letih dengan kata-kata (tanpa aksi). Apabila kau menunjukkan beberapa gambar ke mereka, sama saja dengan menunjukkan kata-kata. Gambar mempunyai dampak luar biasa. Sebagaimana kau ketahui, satu kata cuma sebuah kata tetapi sebuah gambar, memiliki banyak kata. Satu gambar melepaskan kita untuk berbicara dengan orang lain melalui sikap yang bersahabat. Kami mendiskusikan (topik yang sensitif) lewat seni dan kami bisa mengubah pemikiran (kuno) dengan seni. Kami bisa membuat perubahan yang positif lewat seni. Kami bisa membuka pikiran orang dengan seni.

Afganistan yang sekarang layaknya seorang bayi yang baru saja lahir. Ia ibarat seorang anak kecil, belajar berjalan dengan segenap kemampuannya. Negara-negara lain berusaha membantunya agar ia tetap berdiri dengan kedua kakinya.

P: Apakah kau ada rencana melakukan pertukaran dengan seniman-seniman dari luar untuk datang ke Afganistan?

J: Belumlah, karena sampai saat ini kami tidak memiliki uang. Kami bekerja dengan sejumlah proposal untuk memperoleh dana supaya kami dapat memiliki rencana untuk berkarya terus.

Shamsia Hassani dan El Mac, ‘Ho Chi Minh City’, 2012. Foto oleh Propeller Group.
Shamsia Hassani dan El Mac, ‘Ho Chi Minh City’, 2012. Foto oleh Propeller Group.

P: Pentingkah bagi seniman Afganistan mendapatkan pengakuan dan kesempatan internasional? Bisakah mereka  didukung lebih baik?

J: Iya. Mereka sangat senang mempunyai program internasional dan mengerjakan program-program seni dengan negara lain. Sebagai seorang seniman, saya suka berbagi ide dengan para seniman di luar Afganistan, beberapa seniman punya kesempatan ini namun tak semuanya.

Saya suka jalan-jalan. Beberapa seniman memiliki alasan yang berbeda (berkeliling ke luar Afganistan). Alasan saya adalah bahwa saya senang bertemu dengan orang lain dari negara-negara di luar Afganistan dengan demikian saya bisa mengubah pikiran orang tentang Afganistan. Afganistan tersohor karena perang. Jika orang melihat bahwa ada seniman-seniman dan seni di sana, pelan-pelan barangkali kami bisa mengganti pembicaraan mengenai Afganistan. Orang bisa mengubah gambaran mereka tentang Afganistan. Aku harap begitu.

Memang ada perang, tetapi di balik itu juga ada seni. Kami ingin membuat seni lebih terhormat dari perang.

P: Apakah kau punya pameran internasional  atau proyek di masa mendatang lainnya?

J: Sebagaimana kau ketahui, saya baru saja pulang dari Swiss. Di September 2013, saya akan mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengunjungi sebuah program seni anak muda yang disebut “World Images Motion” di Denmark. Juga karena lokakarya graffiti, saya akan bepergian ke Amerika pada Oktober 2013. Begitu banyak undangan yang di antaranya belum dikonfirmasi karena acara tersebut diselenggarakan di waktu yang bersamaan. Saya mengalami kesulitan dalam mengambil cuti dari kampus karena kesempatan bepergian saya itu. Bagaimanapun juga, sebisa mungkin saya berusaha mengaturnya.

P: Apakah kau ada rencana berkolaborasi dengan para seniman dari negara lain?

J: Saya senang terhubung dengan karya seniman jalanan Inggris, Banksy. Saya telah memakai karyanya untuk beberapa bagian karya saya (Dreaming Graffiti). Ada rangkaian yang saya sebut ‘Dreaming Graffiti in Collaboration with Banksy’. Saya suka menggunakan beberapa karya graffiti milik Banksy kemudian saya melukis karya saya “Dreaming Graffiti” di belakang karya seninya. Saya berharap bisa terhubung dan berkolaborasi bersama dirinya kelak.

 

Dokumenter tentang Shamsia Hassani oleh ‘Kabul at work TV’.

Artikel ini saya terjemahkan dari wawancara Lisa Pollman dengan Shamsia Hassani. CMIIW🙂

Link asli buka di sini dan di sini