Kelapa Gading, 3 Agustus 2013

Saya punya pakde yang kerap saya panggil pakde Ato. Kemarin malam, dia menyebut saya “anak istimewa”. Hmmm, saya hanya dapat mengeluarkan senyum mendengarnya. Saya tidak tahu mengapa dia mengatakan demikian. Saya dan dia pernah sangat dekat. Begitu juga dengan istri dan anak-anaknya.

 

 

Ketika saya belum sanggup menggapai jenjang sekolah dasar, papa sering mengajak saya ke kantor dinasnya di kawasan Tanah Abang. Dalam sebulan, satu dua kali pasti papa akan membawa saya mampir ke rumah kakak laki-laki tertuanya tersebut di wilayah Kebun Nanas, Jakarta Timur.

 

Sebelum berkunjung ke rumahnya, kami berdua selalu menyempatkan diri untuk membeli nutrisari toples kaca sebagai buah tangan di sebuah toko yang letaknya tak jauh dari jalan menuju rumah keluarga pakde. Setibanya di sana, saya segera bermain mobil-mobilan atau action figure kura-kura ninja bersama anak pakde yang nomor dua yaitu Dimas.

 

Selagi saya tengah menikmati dunianya anak kecil bersama Dimas, papa dan pakde akan berbincang-bincang khas orang tua di ruang tamu maupun teras sembari menyesap secangkir kopi disusul mengembus-embuskan kebulan asap rokok. Pada tempat yang berbeda, istri pakde, bude Nia (almarhumah), sibuk memasak pindang telur untuk menyambut kedatangan saya dan papa di dapur. Kalau malam terlalu larut untuk saya pulang, pakde akan menyuruh saya agar menginap hitung-hitung temani Dimas, nanti keesokan harinya barulah dijemput lagi oleh papa.

 

Itulah kenapa setiap keluarga besar kami mengadakan acara tahunan seperti buka bersama di bulan ramadan, saudara kandung papa yang saya kangeni adalah pakde. Penyebabnya karena saya merasa di antara oom-oom saya dialah yang intens saya temui di kala saya mengelap ingus pakai baju. Semasa dia masih bekerja dan mengalami kejayaan dia tidak pelit menyisihkan uangnya supaya saya bisa memberhentikan tukang jualan yang lewat. Walaupun kini dia telah kehilangan itu semua, namun sikapnya pada saya tetap ramah. Dia menghampiri saya duduk kemudian tanya-tanya bagaimana kabar saya, di mana ujung-ujungnya malah kami saling becanda.

 

Sepanjang perjalanan pulang, sambil menatap keramaian lalu lintas Jakarta yang padat dari balik kaca jendela mobil yang bening, saya memikirkan ulang maksud dari perkataan pakde. Yang dia maksud saya ini anak istimewa apakah lantaran saya keponakannya yang keukeuh terhadap pekerjaan yang saya pilih, saya yang belum menikah, atau perihal saya yang memiliki indera keenam? Tolong yang soal indera keenam jangan ditanggapi serius sebab rekaan.

 

Saya pun terkesiap mengingat bahwa pakde kan orangnya suka becanda, jadi saya langsung membuyarkan lamunan saya. Terkadang kita sulit menemukan sebuah jawaban atas rasa penasaran kita sama sesuatu. Biarkan saja.