SIKETEK BRENGSEK

Episode perdana: Siapakah aku?

Kata ayahku, sore ini kesempatan yang baik untuk menjenguk bayi laki-laki adik perempuannya yang pukul 9 pagi tadi baru dilahirkan. Bahkan ibuku telah membingkai sebungkus kado buat si dede mungil nanti. Ayah menginginkan aku turut serta namun aku mengatakan kalau aku sudah punya janji yang tidak mungkin kubatalkan.

“Tek, kamu janjian sama siapa sih? Sok penting ah!” tanya ayah sekaligus menepuk pundakku.

Yoi, sejak berumur belasan aku akrab disapa Siketek oleh keluargaku. Mula-mulanya aku marah dan kerap merajuk di bawah ranjang jika diledek. Pernah saking kesalnya aku sampai mencakar muka ayahku hingga meninggalkan luka gores yang pedih. Itu lantaran karena ayah memanggil aku Siketek keras-keras di depan teman-teman kerjanya. Spontan, mereka mentertawai sebutan Siketek itu.     

Perbuatanku yang mencakar ayah berbuntut setiba kami di rumah. Ayah mengunciku di gudang belakang. Saat aku tengah ketakutan pada tikus-tikus yang berseliweran, ayah malahan siul-siul.  Ibu yang mendengar jeritanku lantas menjewer telinga ayah lalu pintu pun dibuka. Ibu membelaku dan balik menyalahkan ayah. Ayah dihukum ibu untuk selalu menceboki aku sesudah aku buang air besar selama 3 hari.     

Tiap ayah mentaatinya, tangannya bentol-bentol. Alergi ayah kambuh. Ayah memang punya riwayat dengan penyakit itu. Dokter Pandi, dokter klinik perusahaannya, menyarankan ayah agar senantiasa menghindari bersentuhan dengan sesuatu maupun kegiatan yang dapat memicu kesensitifannya.

Panggilan Siketek akhirnya menyebar termasuk ke seluruh teman-temanku. Tetapi makin aku bertumbuh besar, jiwaku makin ikhlas dan terbiasa. Aku menerimanya sebagaimana kenyataan yang tidak dapat kutampik. Ketiakku diciptakan tidak lazim. Permukaannya retak-retak seperti sebidang tanah yang dilanda kemarau dan  aroma yang berhembus serupa aroma bangkai kaus kaki. Suatu kali, aroma itu membubarkan pertemuan senat mahasiswa  se-Indonesia yang dihadiri presiden.

Keganjilan pada ketiakku terus menerus kusadari. Puncaknya adalah keganjilan terhadap pertumbuhan bulunya. Aku SMP hanya bagian ketiakku yang kiri saja yang ditumbuhi bulu-bulu. Bulu-bulunya kebal dicukur. Sedangkan yang bagian kiri nyaris botak. Kesuburannya segan menyemai. Aku ditengarai kena guna-guna oleh seorang paranormal yang iklannya berjejer di surat kabar abal-abal. Aku tidak mudah saja mempercayainya. Saat ia sedang lengah, aku bekap dirinya dengan ketiakku. Dia pingsan. Aku cepat-cepat kabur sebelum satpam mall memergokiku. 

Berbagai obat penyubur bulu telah kubeli dan hasilnya sungguh mengecewakan. Kesal-kesal aku sirami saja cairan sisanya yang tak terpakai ke akuarium ayah. Aku mengira siapa tahu  ikan arwana kesayangannya bisa lebih menarik bila berbulu. Namanya juga remaja tanggung, polos. Naas, dalam hitungan menit arwananya pindah dunia.

Ayah merengek-rengek bak banci kaleng. Satu persatu anggota keluarga kami diinterograsi. Ibu mengaku tak tahu menahu apalagi Lisa yang umurnya  belum genap 4 tahun. Tiba giliranku, aku pertama-tama membisu. Tidak lama, tanganku menunjuk ke botol kecil yang berwarna cokelat yang kepalanya terbuka. Aku secepat kilat lari bersembunyi di belakang punggung ibu.

Arwana itu dahulu pemberian mantan bos ayah yang kekayaannya nomor 100 di Asia. Kini dia berkewarganegaraan Malaysia dan hidup satu atap bersama dua istrinya di sana. Konon, dia ganti kewarganegaraan gara-gara jengah dengan wabah korupsi di negeri ini.

 

*Okesip bro n sis, udahan dulu kisah Siketek Brengsek. Tungguin episode selanjutnya yak..!!