Nafsu gebet sial belakangan. Paaaraaah.

Dugaan gue meleset, rupa-rupanya cewek yang mau gue gebet, galak. Tertantang sih dengan karakter yang kayak begitu. Buat gue nggak ada kerisauan yang besar. Justru sebaliknya, gue semakin memantapkan diri untuk mengenal pribadinya lebih dalam. Siapa tahu, kegalakannya sebatas untuk menguji sejauh mana perjuangan gue.

Oleh karena itu, gue mencoba menaburkan benih-benih pikiran positif di lingkar kepala gue. Segalak-galaknya perempuan pasti menyimpan hati nan halus.

Malam itu, kedai kopi tersebut gaduh bukan kepalang. Dipadati para pengunjung. Mayoritas terdiri dari anak-anak muda, cewek cowok, yang ingin mengkoneksikan antara peran secangkir kopi dan malam yang dingin menjadi suatu ikatan yang hangat, yaitu kebersamaan.

Yang ngobrol, ngobrol. Yang pacaran, pacaran. Yang main kartu remi, ya tebar duit. Pencahayaan kedainya dirancang supaya mengeluarkan cahaya berwarna putih campur keoranye-oranyean sehingga membuai mata terasa teduh.

Lewat celah lebar jendela-jendelanya, kita dapat menyaksikan kilatan puluhan lampu milik kendaraan-kendaraan yang melaju silih berganti. Beradu mengkilap dengan lampu-lampu trotoar jalanan. Tumbuhan merambat yang menggantung serta pohon-pohon hias yang rindang selaksa penambah kesegaran yang sengaja dikonsepkan secara teliti.

Begitulah pandangan mata gue sesaat setelah gue berada di tengah-tengah kedai kopi itu.  Puas akan hal itu, gue teruskan pencarian gue, yaitu mencari seorang kawan yang sebelumnya berjanji bakal mengopi di sana.

Dengan yakinnya, gue menghampiri sebuah meja kayu bundar yang dipayungi oleh kanopi. Ternyata, dia bergerombol. Di sampingnya tampak beberapa orang lain yang gue kenal juga. Yang bikin gue bertanya-tanya adalah kok ada satu orang cewek menyempil. Perkenalan gue sama doi terjalin semenjak itu.

Rambutnya hitam panjang. Sekujur kulitnya kuning langsat. Hidungnya menjorok ke luar, mancung. Postur tubuhnya ramping dan tinggi bagai seorang model catwalk. Kalau bagian mata, dia punya dua mata yang nampak mengantuk. Katanya, dia begitu karena habis menyelesaikan jam kerja. Gue  cuma menyeletuk ooh aja.

Sekilas tingkahnya seperti orang tipsy. Cara bertuturnya ceplas-ceplos kemudian kadang-kadang diselingi oleh luapan tawa yang terkekeh-kekeh. Bibirnya yang tipis mengapit batang rokok mild saat dia mendapat hukuman untuk mengocok kartu-kartu.  Jadilah, gulungan asap menyembur lalu memenuhi udara di sekitar kami.

Gue menikmati minuman yang gue pesan, teh tarik yang nggak terlalu panas.  Selain kopi sebagai menu andalan, kedai tersebut menyediakan pula teh tarik.  Teh tariknya memikat.

Mereka menawarkan gue ikut bermain kartu, namun gue beralasan sudah lupa menghitung angka kartu. Sejujurnya, gue cenderung memilih mengobrol pas nongkrong dibandingkan bermain kartu.

Bisik punya bisik, cewek yang berkaos hitam itu orangnya asyik dan berstatus single. Info A1 yang bagus pikir gue. Gue putuskan untuk melakukan pedekate. Gue akan menyamarkan identitas doi  dengan nama samaran yang gue karang. Jadi, gue samarkan namanya pakai nama Komariyah. Di kehidupan yang urban ini nama Komariyah jangan kita pinggirkan. Sebab, arti Komariyah adalah  seperti bulan. Ia indah menerangi saat mati lampu.

Gue secepatnya ingin mengetahui tempat tinggal Komariyah. Tetapi  sebuah masalah sudah gue hadapi. Gue buta di mana percisnya doi menetap. Yang gue mengerti ancer-ancer jalannya doang. Makanya, gue meminta pertolongan seorang sohib yang pernah ke rumahnya.

Gue bilang ke dia, gue hanya perlu ditunjukkan rumahnya. Kita langsung balik setelah gue ngeh rumahnya. Dia pun mengantarkan gue ke sana. Itu merupakan survey yang gue lakukan. Dan gue sebut itu sebagai date mapping. Kegunaannya sekedar memudahkan pedekate.

Pada kelusaan harinya, gue melaksanakan misi gue. Antara selasa atau rabu deh, seingat gue. Modal gue standar. Bensin full-tank, sebungkus rokok, sama sebotol pocari sweat. Selebihnya, kekuatan doa dan kegantengan yang gue klaim tanpa peduli pendapat orang lain.

Sebotol pocari sweat tersebut adalah strategi gue buat mengambil hati Komariyah. Gue kepikiran, doi pasti capek kalau pulang kerja tuh, nah minumannya kan bisa mengembalikan energinya yang terkuras seharian. Mudah-mudahan hatinya meleleh.

Memasuki gang yang cuma memuat dua motor, gue sudah disambut oleh anjing-anjing kampung. Mereka menyalak seakan-akan mengira gue pencuri. Hey jing, gue memang pencuri tapi pencuri hati. Suasana daerahnya senyap banget. Sekejap, gue membangunkan ketololan gue dengan meracau jika warganya lagi pada sibuk kelonan, memperbanyak keturunan.

Gue berusaha mengendalikan diri dengan memutar gas hati-hati. Lagipula namanya kampung orang, kita mesti taati plang yang sering terpampang di  gapura yang memberi peringatan alon-alon asal kelakon, ngebut benjut.

Di depan pagar kecil yang pintunya terbuat dari besi, gue parkir. Gue memanggil-manggil sang tuan rumah sembari mengetukkan slot pengunci beberapa kali. Sesosok pria kurus yang berambut cepak 2 cm lantas muncul. Ia menanyakan keperluan gue. Gue menjawab bahwa gue mencari Komariyah. Dia mempersilakan gue untuk segera  masuk.

Selagi pria yang pipinya cekung itu menghilang ke dalam, gue mendudukkan pantat ke sebuah kursi. Gue menanti dengan sabar di teras. Orang-orang di rumah itu nampaknya menyukai keasrian. Itu terlihat dengan beragam tanaman yang tertanam di pekarangan rumah.

Pohon mawar merah tanaman yang nggak asing di mata gue. Walau keadaan telah malam namun duri-duri di batangnya tetap bisa gue kenali. Warna bunganya agak berubah jadi merah kelam karena tertimpa cahaya yang nggak sempurna.

Gue disuruh agar lekas ke kamar Komariyah. Perasaan gue kayak gimana gitu, antara galau dan yes..yes..yes. Beruntungnya gue terdampar di sarang perawan. Padahal bertemu di ruang tamu aja cukup gue rasa. Patung Jesus yang menempel di dinding menyaksikan setiap langkah-langkah gue menuju area khusus Komariyah.

Alakadjaangg! Doi cuma berpakaian daster doang, bro. Posisinya sedang tengkurap menatap layar laptop. Bokongnya menyembul. Pahanya ke mana-mana. Malu-malu, doi menutupinya pakai sprei. Sekuat tenaga gue ikat  iman gue biar nggak kendor.  Ragu? Seterah loe deh, bro. Wkwkwkwkw…..

Busyeet, asbaknya penuh puntung-puntung rokok putih. Kamarnya berantakan. Baju-baju bertebaran di mana-mana. Selimut kasur awut-awutan di lantai. Kendati begitu, bagi gue itu nggak masalah. Perempuan juga manusia biasa. Sewaktu-waktu sifat malasnya untuk membenahi kamar bisa dimaklumi. Yang paling penting, aku fokus ke daster kamunya kok.

Gue sepiknya sekalian lewat habis pulang dari suatu tempat, kepengen mampir sebentar.  Untung aja kata doi santai. Gue menemani doi yang serius mengerjakan pr kantor. Lumayanlah tahu tentang kehidupan doi meski secuil. Persepsi gue doi anaknya bener-bener asyik.

Sial,  strategi untuk  memberi minuman   nggak kesampean.

Rasa keingintahuan mengenai pribadinya kian membara. Perlahan tapi pasti modal sudah gue simpan dari kunjungan kemarin. Gue kemudian menghitung hari kapankah gue akan mengajaknya ngedate. Membawanya makan malam dan menonton ke bioskop.

Dunia serasa dunia fantasi yang mengagumkan. Ada macam-macam manisan gula di hati orang yang lagi pedekate. Seketika pikiran gue tumpul menanggapi hal-hal lain selain pedekate lebih jauh ke Komariyah. Bagaimana kalau Komariyah gue tanya maukah kamu jadi pacarku, detik ini dan sampai hari-hari yang belum kita tentukan? Akankah doi mengiyakan yang membuat gue tersenyum selebar-lebarnya?

Semuanya terkesan masih abu-abu. Aksi gue berikutnya yang akan mampu membuktikan.

Nafsu gede gue nggak tertahankan, terus mendorong-dorong gue supaya jangan lemot mikir. Lebih cepat lebih baik ucap gue. Gue mengirimkan pesan ke doi yang isinya mengajak makan malam pada sore harinya. Akan tetapi, malapetaka itu pun terjadi. Pesan balasan belum muncul-muncul di inbox gue.

Pesan yang sama gue kirimkan hingga akhirnya doi membalas. Gue sungguh terkejut, kalimatnya bikin gue sempet jengkel. Doi menghardik bahwa gue ini siapa, doi nggak kenal gue.

Loe bayangin, bro, kemarin cewek ini ngobrol bareng gue di kamarnya, 360 derajat berubah melupakan gue besoknya.

Gue berupaya redakan rasa jengkel gue dong, sehingga dapat berpikir jernih. Dan gue akhirnya merasa,  wah, itu temannya mungkin ingin menjahili gue pas Komariyah  jebar-jebur mandi. Hp digeletakan dan dia iseng menggunakannya tanpa sepengetahuan doi. Masa bodo menurut gue. All is well.

Pria yang sama yang gue ceritakan di atas kembali membukakan pintu rumah yang bergaya klasik dan hanya memiliki dua buah kamar utama. Gue sampaikan keinginan gue untuk menemui Komariyah. Gue  menunggu di ruang tamu yang sudutnya terdapat pot yang  ditinggali oleh ranting-ranting bohongan, tanaman plastik, yang menjulang.

Hampir rokok setengah bungkus gue habiskan. Hisap, matikan, hisap, matikan, hisap, matikan. Bibir gue jadi pedes sepedes-pedesnya. Mata perih dan merah.  Gue bertanya-tanya mengapa Komariyah nggak keluar-keluar. Sekitar 1 jam-an gue di situ. Hawa berubah panas sehingga keringat  mengucur sampai membasahi baju.

Firasat gue sebetulnya sudah nggak enak ketika cowok itu menghampiri gue kedua kalinya sambil bingung melihat gue yang tetap duduk. Lha, bukannya dia tadi yang menyuruh gue tunggu? pada kenapa sih orang-orang rumah itu? aneh.

Tiba-tiba gue mendengar seorang cewek mendumel dari balik kamar. Suaranya Komariyah. Kata-kata yang jelas terngiang di telinga gue adalah ASU. Paaaaaaaraaaaaaah. Berarti gue dikatain anjis  nih. Hahahaha. Apa salah gue?

Selama ini mana pernah gue disapa cewek dengan sapaan guk guk guk. Malam yang apes.

Gue  bertamu dengan sopan, kenapa timbal balik yang diberikan umpatan  asu.  Ngenes banget gue, bro. Susah payah gue tampil maksimal. Rambut dingacengin pakai gel yang harganya 8000 rupiah di Indomaret, badan disemprot-semprot  parfum refill-an, eh masa endingnya gue diusir.

Sedari awal mestinya doi tegas jadi gue akan mengurungkan niat untuk datang. Gampangnya, bilang aja nggak ingin diganggu melalui pesan pendek. Gue pasti menghargai itu. Baiklah, gue diusir, gue pun pamit dan memohon maaf bila kedatangan gue dikira bikin risih.

Bro,  gue menggeser persepsi ya, doi horor, bukan galak. Sumpah, gue kapok.

Ya tuhan, akulah manusia yang teraniaya. Sudilah pertemukan aku dengan perempuan yang lemah lembut. Nggak apa-apa deh kalau ketemunya di pesawat.  Amin YRA.