MEREKA PROTES KARENA DILUPAKAN

Dengan mudahnya kita mendokumentasikan sesuatu. Mencatat, memotret, atau menggambar atau bahkan melukis adalah beragam cara yang bisa kita lakukan. Semuanya kita lakukan semata-mata mengartikulasikan sebuah perjalanan menjadi citra keabadian. Masih kata yang sama, yaitu berharga di kemudian hari apabila apa yang kita dokumentasikan  dilihat dan dipertanyakan oleh diri kita sendiri maupun anak cucu. 

Yang paling ideal, saya anggap saja ialah menyusunnya dengan baik. Saya acapkali mengesampingkan pengumpulan dokumentasi. Ini seperti menyia-nyiakan suatu momentum, dulu, di mana ketika saya berhasrat mengabadikan sebuah gambar yang indah, yang bercerita, yang menyisakan renungan, dan merasakan bahwa sang kala tak pernah membosankan.

Momentum-momentum itu punya bagian tersendiri sehingga lama-kelamaan mereka seolah protes karena dilupakan. file-document oriented tampaknya jangan lagi saya acuhkan. 

Foto, gambar dan sebagainya yang pernah saya ambil dan saya kerjakan melalui proses keriangan akan saya publish. Bagaimanapun mereka ada karena saya menginginkan mereka.  Setahap demi setahap saya bakal  mengais-ngais kardus dan kantong-kantong plastik yang sudah berdebu dan teronggok di gudang kecil rumah saya untuk mengumpulkan mereka. Jika sudah ditemukan maka yang lainnya dapat menyusul. 

 Sementara  waktu, saya letakkan dahulu file-file yang tersimpan di laptop.