Kacamata kuda

Inisiatif semut api untuk membawakan seorang penolong dari desa di balik bukit Gumarang rupanya tidak dipuji oleh kawannya. Terutama sekali oleh si burung gereja yang berparuh cokelat kekuningan. Ia terbang ke kepala kuda yang tengah mondar-mandir sambil mengarahkan kedua matanya ke rerumputan yang tingginya setinggi jari kelingking seorang bayi mungil.

Keadaan menjadi senyap. Suara angin yang berdengung saja yang terdengar di sekitar mereka ketika sang kuda menghentikan rasa kebingungannya dan melihat wajah semut api.

Kesenyapan itu kemudian pecah. Terbelah berkeping-keping mengikuti angin yang pergi ke samudera. Sebabnya tak lain karena suara burung gereja itu menyeringai pedas ke semut api.

“Hey mut! Volume otakmu sama saja seperti ukuran badanmu, kecil”.

“Kita tidak mengenal siapa yang kau bawa. Lagipula dari penampilan orang tersebut jelas bahwa dia kurang pantas. Kau salah membawa orang”.

Orang yang berambut gimbal dan bergigi kuning pekat itu seketika raut wajahnya berubah. Senyumnya sekarang terlukis kecut. Kesal dalam hatinya seperti merasa disepelekan. Percuma saja ia membungkus barang-barang yang tadinya akan dipersiapkan untuk hari ini. Buntalan kain yang digendongnya itu pun ia lipat kembali. Ia melipatnya tanpa memperhatikan semut api yang sedang terpojok disalahkan burung gereja.

Semut api membangunkan tanduk kecilnya. Tanduk itu kemudian perlahan mengeluarkan cahaya merahnya. Cahaya yang sering dikatakan paman kerbau sebagai lampu neon di kala gelap. Setelah cahaya kemerah-merahan itu menyala penuh, semut api dengan lantang mengomentari perkataan burung gereja.

“Kerja kerasku setidaknya tampak nyata. Daripada kau bisanya cuma santai-santai. Makan dan tidur sepanjang hari di sarang ranting-ranting keringmu. Membosankan.” semut api berdiri sembari mengelus-elus taringnya.

“Cih!” burung gereja meludah. Ia tak berkutik tak dapat membela diri. Skak mat.

Kuda membaca cepat keduanya. Ia berpikir bahwa percekcokan jangan sampai menjurus perkelahian yang tidak ada gunanya. Suatu persoalan akan semakin ruwet apabila diselesaikan dengan api amarah. Yang harus menjadi prioritas yaitu solusi. Seharusnya burung gereja menghargai usaha yang dilakukan semut api. Sebaliknya, semut api ada baiknya menahan diri serta mengabaikan ucapan sinis burung gereja.

Balas membalas keburukan atau kekurangan satu sama lain merupakan pertempuran psikologis yang bakal memupuk dendam. Di sini, di dunia ini, terlalu banyak permusuhan yang terbuka maupun tersembunyi. Bahkan alasan yang mendasarinya kadang dicari-cari. Begitulah sekiranya kuda berpendapat.

Kuda lalu meloncat. Ia mengibaskan kepalanya mengusir burung gereja. Burung gereja terhempas ke udara seketika.

“Kikkkkkkk..kikikikikkikikk” Kuda mengikik

“Ja, mut, kalian tega. Aku yang sudah rabun ini dan hendak buta sungguh ditambah merana karena percekcokan kalian.”

“Biarkan saja dukun ini mengobati mataku.” kuda mendekati orang itu.

“Tapi?” burung gereja menyela.

“Ah, kau ini kenapa sih? Kita belum tahu kemampuan orang bila kita tak pernah memberikannya kesempatan.” kuda mengunci rapat mulut burung gereja.

Semut api mulai menurunkan tanduk kecilnya. Rasanya ia puas mendengar kuda mau percaya bahwa orang yang ia antar ke hadapannya mampu menolongnya segera.

“Tuan, silakan kau berikan ramuan dan mantra-mantra untukku!” pinta kuda.

“Aku bukan dukun.” ucap lelaki itu lugas.

“Lho, gawat. Bagaimana dengan kerabunanku? Sebentar lagi malam dan ini sangat berbahaya bagiku.” kuda resah.

Malapetaka akan terjadi jikalau bayang-bayang terus menempel di bola mata kuda. Tentunya ia merasa kepayahan menarik pedati yang berisi bahan-bahan makanan untuk tuannya menyusuri jalanan menuju pedusunan. Malam adalah wilayah kekuasaan gerombolan lintah berbulu duri serta pemangsa darah yang keji. Sungai merupakan pusat kekuasaan mereka. Dan kuda setiap harinya menyusuri sungai tersebut. Dengan mata rabun keselamatan kuda terancam.

Sebelum matanya mendadak rabun, kuda tenang-tenang saja ketika melewati sungai yang juga sempat diberitakan sebagai ladang emas. Pasir-pasirnya konon mengandung logam-logam emas murni. Akan tetapi tentang kebenarannya belum ada yang membuktikan. Mungkin saja tiada yang berani merisikokan hidupnya demi seonggok emas.

Kuda rabun maka lompatannya jadi pendek. Batas penglihatannya terbatas. Sekali lagi ini berbahaya buat kuda.

“Aku adalah seorang pengumpul barang bekas.” balas lelaki yang dikira dukun itu.

“Di dalam buntalanku ini terdapat benda-benda yang sudah tidak digunakan orang lain.”

“Ahh mut, ternyata burung gereja benar. Kau…?” kuda menggeram

“Kuda, kau plin plan ya. Sekarang ikut menyalahkan semut api. Padahal semut api telah bersusah diri menaiki bukit Gumarang yang terdapat kawah belerang beracun. Dia membawaku ke sini untuk menolong kau. Tolong hargai jerih payahnya.”

“Rabunku membikin pikiranku kalut. Sejak kau berbicara kau bukan dukun aku seperti putus asa dengan nasibku.”

“Baiklah, coba pakai ini!” pengumpul barang bekas tersebut menjulurkan kacamata.

“Haaa! Rabunku hilang! Horeeeeeeeee!” kuda kaget sekaligus gembira.

Kuda dengan gagah perkasa akhirnya bisa menuju pulang ke rumah tuannya. Kacamata yang dikasih kepadanya cuma-cuma kini senantiasa mengingatkannya bahwa sebuah kerja keras patut dihargai dan menolong tanpa pamrih ialah sikap hidup yang mulia.