Dia Mengenalkanku Sampai Ke Milan

Ali adalah kawan sepermainan sewaktu saya kecil. Panggilannya Alay. Mungkin sekarang bisa jadi dia malu, karena istilah Alay dikonotasikan dengan ejekan yang kurang enak didengar.

Ali lebih tua dari saya. Kira-kira begini, saya SD sementara dia SMP. Kami sama-sama suka sepakbola. Bahkan karena sepakbola, kami berkelahi dengan anak-anak lain dari blok  yang berbeda.

Ali keberaniannya melebihi saya untuk menantang atau memukul orang tanpa pikir panjang padahal bocahnya pendek, botak dan anti pakai celana panjang. Sekolah bolos terus.

 

Mari saya ceritakan peristiwa yang bikin bulu kuduk bergidik. Jadi begini, ketika tim bola kami dihina oleh kesebelasan blok D, dia merasa kesal kemudian menghajar anak yang menghina tersebut.

Perlawanan tak seimbang terjadi, Ali dikeroyok. Suasana semakin kacau, emosi Ali semakin meletup. Karena kalah, dia pun pulang ke rumahnya hanya untuk mengambil sebilah parang.

Saya yang masih bau kencur terbelalak dengan apa yang dia lakukan. Saya termangu dan diam saja. Lagipula Ali orangnya kepala batu mana mau dilarang-larang. Keluarga Ali dan tetangga mencoba menghalau Ali supaya jangan bertindak gila.

Ali berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan parang yang dia genggam di tangan kanannya sehingga membuat komplek perumahan kami heboh seketika. Saya tidak dapat membayangkan jika Ali saat itu benar-benar membelah batok kepala orang.

 

Begitulah potret sepakbola di komplek saya dahulu kala. Sepakbola kerap mengundang perkelahian yang sebenarnya sering dipicu oleh hal-hal sepele seperti mengata-ngatai “mandul lu…” atau berebutan lapangan.

Samurai, parang dan batu adalah senjata-senjata kami ketika sepakbola sudah seperti sebuah harga diri yang patut dibela. Dari sana juga saya mengerti, perkelahian di sepakbola juga terjadi tak luput karena ada kepentingan politik yang terselip.

Sebuah tim akan menggunakan banyak cara agar lawannya hancur, kalah, hingga tersingkir dari kompetisi.  Semata-mata demi kuasa, dan akhirnya menjadi juara.

 

Akan tetapi lepas dari keburukan tersebut, saya dan Ali adalah di antara anak-anak komplek yang selalu mengganggap hari sabtu dan minggu merupakan hari-hari di mana sihir sepakbola membelit hati dan kaki kami.

Sihir yang melenakan penat dan kesuntukan. Sihir yang memercikkan pernyataan bahwa untuk melengkapi identitas seorang laki-laki, maka laki-laki haruslah menendang sebuah bola bundar sampai keringat berjatuhan di rumput.

 

Ali itu sumber pengetahuan saya tentang sepakbola. Dia sangat menguasai nama-nama pemain dan tim-tim bola dari dalam maupun luar negeri. Dia fans Jerman dan Bayern Munchen, memuji kaum bavarian yang gemar mabuk dan sepakbola.

Sekali waktu, saat itu menjelang siang sehabis tim kami latihan, dia menceritakan pengalamannya kepada saya bahwa Jerman Barat pernah bermain melawan Persita di stadion Benteng.

Katanya, ia menyaksikan Lothar Matthaus, idolanya, menyepak-nyepak bola dengan gagah. Saya mengangguk-angguk saja dengan apa yang dia bilang. Dan hari ini setelah saya dewasa, saya berpikir apakah hal itu benar?

 

Tahun 90-an merupakan masa di mana pertama kali saya mengenal sepakbola. Saya pernah bertanya ke Ali siapakah Fraank Rijkaard Siapakah Ruud Gullit siapakah Marco Van Basten?

Dari Ali saya tahu bahwa mereka itu pemain-pemain hebat AC Milan asal Belanda. saya selalu bangga ketika sedang menggiring bola Ali senantiasa menyemangati saya dengan yel-yel “Ayo Van Basten…ayo!!

Saya ibarat menemukan pandangan ringkas lantaran hal tersebut yakni bahwa klub AC Milan tempatnya pemain-pemain luar biasa. Semenjak itu, saya mempatenkan diri sebagai Milanisti.

 

Liga Indonesia sedang bagus-bagusnya di musim 94-95-an, semarak liga Dunhill mencuat. Persib menerima kampiun juaranya. Yang mengagetkan sebelumnya itu, AC Milan sambangi Indonesia untuk bertanding dengan Persib Bandung.

TV di rumah masih hitam putih dan siarannya renyek sehingga pertandingan itu tidak bisa saya nikmati. Saya kemudian menumpang ke rumah tetangga untuk menonton. Senangnya tak terkira, saya melihat AC Milan di layar kaca, sudah begitu sedang main di Indonesia pula.

Pemain yang mudah menempel di benak saya di pertandingan itu, yah Boban, Savicevic dan si Gianluigi “Gigi” Lentini. Kesukaan saya terhadap AC Milan berlanjut setelah kedua orang tua mengganti tv keluarga kami yang sudah buluk dengan tv berwarna bermerek digitech ninja. TV tersebut masih ada walau sudah tidak hidup lagi.

 

Begitulah saya mendekat ke AC Milan. Saya melafalkan masa kanak-kanak saya tanpa pretensi macam-macam. Kehidupan masa kanak-kanak saya penuh dengan bola dan bola. Kadang suka muncul halusinasi ketika saya main di lapangan dekat rumah saya membayangkan seperti sedang berada di San Siro, penuh asap dan mercon. Sungguh! Sungguh lebay.

Teruntuk Boban dan Weah, saya mengenang  gol-gol saya ke gawang bahkan ke jendela balai warga. Jendela yang kacanya pecah karena tendangan saya sehingga Abah sang penjaga tempat itu mengejar-ngejar saya kayak kesetanan.

 

Saya ini Milanisti yang tidak terorganisir. Kalau ada gunjingan fans sejati harus berinduk dengan satu organisasi pecinta klub  atau punya pernak-perniknya lengkap sebodo teing, kenapa repot-repot saya pikirkan.

Asmara saya dan AC Milan yang bermekaran saya pikir selalu terletak di satu momen yaitu di saat Milan main dan saya duduk manis menyaksikan sambil merokok lalu mengumpat “goblok!” “tae!” apabila lawan Milan yang menang. Garis keras men!

 

Saya membuka kejujuran diri saya bahwa di mata saya sepakbola tidak melulu moderat, toleran dan sebagainya. Mana ada fans yang senang klubnya kalah. Ngomong-ngomong, Maya Asterix ke mana sih? Ada yang tahu? Saya cinta banget sama tahi lalat dan rambut bondolnya.