TETAP MEMUKAU TIADA MELAWAN

TETAP MEMUKAU TIADA MELAWAN

Keinginan saya yang sebegitu besar terbayar. Catatan ini akhirnya saya kerjakan, jangan kalian bayangkan substansinya akan mencerahkan pikiran. Cari saja orang yang lebih pintar jika kalian mau tulisan yang bisa merangsang IQ kalian agar merangkak naik.

Sampah pikiran memang seharusnya dibuang, buanglah yang jauh, jauh, jauh. Dan sejauh-jauhnya saya membuang ya di sini. Oke, tanpa panjang lebar saya sembur sampah pikiran ini dengan ucapan “CROOOT”  

Mendengarkan musik saya anggap seperti sebuah ritual untuk memberi makan batin. Singkirkan sementara perhitungan kualitatif, mari bergerak kepada jenis musik apa pun, berikan telinga kalian hak dalam memilih apa yang keduanya suka.

Saya suka Iwan Fals, sangat-sangat suka dengan ratusan lirik  yang telah ia cipta dan nyanyikan selama ini! Sejak umur saya awal-awal belasan tahun, sosok beliau saya kenal melalui radio yang kerap dinyalakan oleh abang kawan saya. 

Kalian purba bahkan amat purba kalau memandang his music is nothing. Jangan, jangan, jangan! Mari kita bersuka ria bernyanyi dan menari bersama dirinya untuk menginjak-nginjak ketidakadilan atau merayakan sebuah cinta yang sepele di negeri kleptokratis, sebuah negeri yang pejabat-pejabatnya gemar bersandiwara menutupi kebebalan mereka,  Endonesah! 

Ketika saya sedang menonton BIP, seketika ada alunan suara yang tak asing bagi saya. Ia datang dari A stage yang letaknya di tengah-tengah event dan paling megah. “Oo..ya…oo..ya…oo…ya bongkar…” Sontak itu membuat saya pergi untuk menyatu dengan ribuan manusia lainnya yang sudah berjoget dan memasang mata mereka sungguh-sungguh ke om Iwan.

Iwan Fals at A stage, taken by my smartphone

Saya meliuk-liuki kerumunan massa dengan tujuan supaya bisa semakin melihat om Iwan, Namun saya harus terima nasib “sial rapet banget, gak mungkin nerobos,” gumam saya di hati. 

Seperti biasa, saat om Iwan mengadakan pertunjukan di mana pun venue akan penuh sesak oleh fans. Yang bikin saya tak habis pikir adalah bocah-bocah kecil (bocil) yang selalu saja ada dan  dempet-dempetan di sekitar saya, padahal Soundrenaline memiliki peraturan jika di bawah umur 18 tahun dilarang masuk.

Tapi sudahlah, buat apa pusing-pusing membahas mereka, lagipula mikir gampangnya, jika terjadi hal-hal buruk maka panitia dan pihak keamanan lah yang paling bertanggung jawab. 

Om Iwan mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Penampilannya selalu sederhana, tidak neko-neko apalagi berdandan glamor, kharismanya memancar kuat. Di usianya yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, ia kian membumi.

Saya kadang berimajinasi mengharapkan om Iwan mau tampil seperti dirinya di dekade 80 hingga 90an, gondrong kriwil, brewokan, kumis yang tebal, buka baju, serta memakai ikat kepala di atas panggung, pasti bulu kuduk saya rontok semua, merinding disko hehe. *bersambung