Maddafakin’

Habis hujan, aroma udaranya khas sekali di rongga hidung. Dan seolah ada sebuah magic yang mengarahkan jemari saya untuk membuat note kembali di Facebook. Hehe, saya mau menulis note tentang sebuah “sepatu”, di mana sepatu ini dulu sering kali saya sapa, ngopi bareng dan sebagainya. Bahkan pada suatu malam, saya dan sepatu ini pernah sengsara sama-sama karena tidak punya uang sepeser pun untuk membayar parkir. Tanggal tua, kismin bange, haha. Kejadiannya malam-malam saat kami akan menyaksikan konser Iwan Fals di sebuah lapangan sepak bola di bawah kaki gunung Merapi.

Saya mengibaratkan diri sebagai sepatu juga. Saya puma dia adidas atau converse.

Sepatu ini suka dengan hal-hal yang berbau Andy Warhol, Green Day, Cobain dan manual drawing. Saya terkadang memperhatikan keseriusannya saat mencorat-coret kertas, sesekali ia akan berhenti untuk mengisap rokoknya sambil menyorotkan matanya yang tajam ke sket yang sedang dikerjakan. Saya merasakan bahwa ia menikmati sekali pekerjaan iseng-isengnya tersebut. Biar malam telah larut, kalau belum selesai maka ia tak akan hempaskan badan ke tempat tidur.

Hahaha, saya juga ingat bagaimana sepatu itu jengkel setengah mampus sewaktu pedal sepeda fixie-nya terlepas di tengah jalan. Untungnya ada seorang tukang becak yang berbaik hati memberikan pertolongan dengan meminjamkan tang untuk memperbaiki pedalnya.

Saya dan sepatu itu kini menjalani takdir masing-masing. Saya pergi ke mana hati saya ingin pergi, dan ia pergi ke mana hatinya ingin pergi. Ada quality time yang saya rindukan dari persahabatan saya dan sepatu itu, di mana saya tidak bisa mendapatkan atau membelinya di mana pun. Bareng ngopi, ngepoci, sepedaan dan seterusnya.

Maddafakin’…!