CYINSME, BENARKAH BUDAYA POP? (CERPEN)

Adalah Ucok Beset yang melakukan penelitian dan kritik terhadap fenomena cyinsme. Sebagaimana yang tertulis di catatan pentingnya bahwa cyinsme ia anggap budaya pop. Ucok secara khusus menaruh perhatian pada perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat perkotaan. Akumulasi masalah perkotaan yang semakin kompleks membuat penyebaran cyinsme kian meluas.

Dari beberapa fotografis yang ia pajang di meja kerjanya, yang paling menonjol adalah gambar jari ngetril. Oleh karenanya, Ucok Beset barangkali telah diberi ucapan selamat dari sebagian orang yang menilai apa yang dilakukannya justru akan menimbulkan kajian tandingan untuk muncul ke permukaan.

Seorang tamu berkemeja pendek tetiba menghampiri Ucok. Tanpa basa-basi, lelaki tinggi dengan kaca mata tersandar di ubun-ubun itu bertanya mengenai garis besar yang Ucok ingin tuju.

“Bung Ucok, tolong jelaskan lagi, apa garis besarnya?”

“Saya pikir, bung mengerti kenapa X dan Y memiliki kaitan.” Balas Ucok sembari menuangkan teko teh ke gelas lawan bicaranya.

“Jika masyarakat terbata-bata dalam mengartikulasikan hubungan sebab-akibat, maka sepertinya jawaban saya ke Anda tak kan sampai jelas!”

“Duh, bung Ucok njilmet banget sih! Saya pengen jawaban sesederhana mungkin!”

“Ada asap ada api!” Ucok memandang tajam ke lawannya.

“Ini esensi praktis yang mesti bung temukan sendiri.”

“Kenapa sebab-akibat bisa timbulkan energi tarik menarik yang dasyat? Jawabannya satu, sana kau cari!”

“Lho, bung sangat menggelikan. Ketika orang melempar pisang ke monyet, tak mungkinlah monyet melempar kembali ke orang tersebut.”

“Pukimak!! jadi kau pikir aku monyet?”

“Enggak lah, jangan tersinggung bung, kita ini sama-sama monyet!”

Suara tawa renyah serentak.

“Kita saling bingung, sebenarnya apa sih yang hendak diketahui?”

“Apabila bung Ucok berkata tentang cyinsme maka saya bertanya garis besar cyinsme itu!”

“Relasi cyinsme dan perubahan sosial di mana?”

“Paparan budaya pop itu sifatnya massif!” Balas Ucok.

“Masyarakat cenderung apriori soal budaya ini. Ya, saya liatnya sih begitu.”

“Agar bung tidak buntu, sebaiknya lakukanlah observasi sesegera mungkin.”

Cyinsme sekedar menawarkan sentimental. Yang saya cemaskan adalah efek kejutnya.”

“Apa maksud bung Ucok?”

“Tengok poster itu!” Suruh Ucok.

“Syd Barrett memperhatikan percakapan kita!”

“Oh ya, saya suka lagunya yang money.” Kata lawannya.

“Kenapa?” tanya Ucok sambil menyalakan rokok kreteknya.

“Sesuai saja bung. Uang mengisi pikiran kita. Merem melek eksistensi uang gak bisa menghilang.”

“Saya suka omongan bung tersebut.” Ucok tertawa.

Perbincangan mereka tampaknya sedang mengalami suasana yang menyenangkan. Kendati apa yang kita nanti-nantikan soal inti penelitian dan kritik Ucok Beset terhadap cyinsme tiada jua terucap.

Hal lain, tetapi masih berkaitan dengan Ucok Beset adalah forum percakapan diikuti dua orang saja. Andai terdapat peserta lain, kemungkinan seru. Setidaknya Ucok Beset bakal kita saksikan dikeroyok argumentasinya oleh dua orang.

“Pink Floyd sangat fenomenal. Legenda musik rock dunia.”

“Nah, sekarang saya yang suka omongan bung itu.” Lawannya tertawa lebar.

“Silahkan nikmati tehnya lagi!” Ucok menuangkan teko teh.

“Rasa tehnya enak bung. Terima kasih.”

“Teh itu diberikan kawan sejawat saya yang baru pulang dari Malang.”

“Oh pantas!”

“Ya, cyinsme menurut saya sarana aktualitas yang seolah mengasingkan identitas gender sebenarnya.” Ucok menjelaskan.

“Hipotesa sebatas melihat itu. Pendek kata, penelitian saya mengalami kegagalan mendasar untuk merepresentasikan bagaimana kritik ini bisa diterima!”

“Tapi bukannya bung Ucok sudah memprediksi hal demikian?”

“Betul, namun terlalu banyak borok yang saya sembunyikan.”

“Maksud bung?”

Cut saja!” pinta Ucok.

“Kenapa bung tertawa?” tanya Ucok.

“Eh, kubilang jangan ketawa. Ketawamu artinya kau paham dengan borok yang kumaksud?” Ucok makin melotot.

“Hahaha, bung tak mengertilah aku perangai kau ini. Ketawaku bukan kayak ketawa politikus, ketawa untuk bersembunyi. Ini merupakan cara diplomasiku ke bung Ucok. Bung bergembiralah..bergembiralah!”

Ucok Beset mengangguk.

Ucok kemudian berhenti untuk melihat reaksi lawan bicaranya. Akan tetapi sepertinya Ucok menanggapi keluh-kesahnya sendiri. Mengingat ruangan tersebut hampir kosong, maka lawan bicara Ucok mengeluarkan smartphone untuk melihat waktu.

“Baiklah bung Ucok, cyinsme agak mengerutkan dahi saya. Bung hingga detik ini belum juga sampaikan kritik yang hendak dialamatkan kepada penganutnya.”

“Tidak. Anda salah! “Saya akan mengatakan cyinsme menyajikan perubahan sosial. Budaya pop!” Ucok membela diri.

“Fiiiuh lagi-lagi bung Ucok argumennya membingungkan saya!”

Lawan bicara Ucok masih bingung. Bingung-bingung orang biasanya akan mengalihkan pembicaraan atau pergi.

“Ok bung Ucok, thanks atas waktunya. Saya mau muter-muter liat foto-foto yang sudah bung ambil.”

“Oke kalo begitu, bung saya biarkan sendiri. Mohon tutup pintu setelah selesai!” Kata Ucok Beset.

“Daaaghh ya cyin, kalo butuh sesuatu kontek aja..deehhhh!!” Kata Ucok Beset sambil ngetril-in kelingkingnya. Ucok Beset melenggang keluar.

Lawan bicaranya bengong dengan apa yang baru saja terjadi.

“Inikah yang namanya efek kejutnya?” Lelaki itu berbisik dalam hati.

“Sekarang saya tahu, kritik bisa berbalik oto-kritik. Garis besar cyinsme ternyata penularan yang spontan. Ngeri ah, meh!”