Hiu Raksasa

Saya rada iri sama kedua anak kecil itu, sejak usia 10 tahunan sudah mengerti pentingnya budaya membaca. Beda dengan saya, di umur-umur segitu saya malah belum secara dekat mengenal budaya membaca. Mama saya memang sering membawa pulang bahan-bahan bacaan ketika balik kantor tapi semuanya majalah, majalah Kartini.

Buat saya buat apa sih baca kayak begituan, majalahnya emak-emak, asyikan pergi ke si empek, main ding dong.

Siapa empek?

Empek adalah seorang pria tua tiong hoa, senang pakai celana pendek dan kaus singlet putih. Di rumah ia membuka permainan ding dong. Saya kerap main di sana, karena terlalu memberhalakan ding dong mama kesal lalu menyatroni saya. Beliau menjewer telinga saya di depan orang banyak, jadilah saya ditertawakan, saya malu banget.

Saya dijewer hingga ke rumah. Bisa bayangkan?

Melihat kedua anak kecil tadi, saya ngomong dalam hati “kalian beruntung, kecil-kecil udah pada suka baca.” Mereka adik kakak, satu perempuan satu laki-laki, keduanya mengenakan piyama, duduk di sebelah kanan saya. Di antara puluhan orang yang duduk, yang membaca hanya 4 orang, saya dengan majalah esquire, kakak beradik tersebut dengan buku dongengnya, serta ibu mereka dengan majalah properti.

Yang mencuri perhatian saya ialah buku dongeng yang mereka baca. Saya amati buku dongeng yang sedang dibaca ilustrasinya bagus-bagus. Warna-warninya keren. Tulisan untuk ceritanya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Ada kesempatan saya intip sebuah halaman yang lagi dibaca oleh si kakak (laki-laki), judulnya “HIU RAKSASA”, ada gambar ikan hiu yang badannya bercorak abu-abu dengan mulut bergigi sambil menganga. Serius banget mata si kakak, badannya gak bergeming, saya kira dia terpesona akan cerita di dalamnya.

Sebenernya saya tunggu-tunggu sekali bocah itu ke toilet, kali aja sewaktu pipis bukunya ditaruh di bangku atau dititip ke saya, kan saya jadi kebagian isi ceritanya. Ah prek tapi tuh anak manteng terus, ya sudahlah gak perlu diperpanjang.

HIU RAKSASA menceritakan tentang apa sih? Apa mungkin ceritanya tentang sang hiu yang senang mencaplok para pelaut yang tengah berlayar? Namun kemungkinan lain bisa juga lho sebaliknya, bercerita mengenai kemarahan sang hiu terhadap ulah para pelaut yang merusak terumbu karang.

Si hiu tokoh protagonis atau antagonis yah? Saya mengandai-andai lebih cenderung kalo si hiu ini merupakan karakter yang baik, makannya hanya tumbuh-tumbuhan laut, gak pernah makan ikan-ikan lain, suka menolong orang yang tenggelam, makanya karena si hiu dianggap ikan yang memiliki jiwa penyayang, ia dianggap panutan oleh ikan-ikan di laut.

Oleh karena itu, saya kira si hiu berubah marah, setelah kehidupan yang sebelumnya damai nan tentram, tiba-tiba terusik bom-bom ikan dari para pelaut.

Beneran deh, saya iri banget ama kedua anak tersebut, saya baca HIU RAKSASA belum tamat nih! Kalo ding dong Punisher mah saya udah tamat berkali-kali!