Dank je Opa, Karenamu Bola Terlihat Indah

Sangat beralasan jika kita memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim kesayangan kita yang tampil menawan. Betapa peluhan keringat sudah tak jadi persoalan lagi, saat kemenangan akhirnya jatuh ke dekapan. Titik zenit yang diharapkan para suporter cuma kemenangan. Kekalahan merupakan aib yang memalukan.

Ernest Happel malah berkata “menang dan kalah seiring sejalan di bola”

Di kultur sepak bola eropa, kemenangan akan disambut dengan perayaan yang gegap gempita. Stadion akan menjadi taman kanak-kanak yang riuh, bahkan keriuhannya menjalar hingga ke luar stadion dan jalan-jalan kota. Setiap orang menenggak bir sambil bernyanyi dan mengepal tangan ke langit. Mereka meledak dengan sukacita seperti orang keranjingan. Di sana, bir jadi menu utama atas sebuah perayaan.

Di Jerman justru pernah terjadi yang lebih ekstrem. Tahun 1992, Juup Heyckness, pelatih Muenchen, berjanji akan mengirimkan satu truk champagne ke Gladbach jika Bayern Muenchen juara liga, dengan syarat Gladbach bisa hantam Kaiserlautren.

Bicara bola tak serta merta terus menyinggung sebuah kemenangan. Sejatinya, di sepak bola ada keindahan yang mestinya dibangunkan ke hadapan kita. Keindahan tersebut adalah taktik dan strategi! Tim-tim terbaik dunia hafal sekali bagaimana taktik dan strategi yang “beracun” supaya lawan tak berkutik.

Dan Totaal Voetbal timnas Belanda merupakan satu konsep taktik dan strategi sepak bola modern yang diklaim sudah seperti diktat. Inti Total Football membiarkan para pemain bebas, berlari memanfaatkan ruang lapangan, dan menyerang habis-habisan. Di samping pemain dituntut dengan spirit “tentara”, mereka pun harus mengeluarkan kreativitas masing-masing. Aliran bola mesti beritme cepat dan dari sini hadirlah gol-gol berkelas.

Total Football merupakan mahakarya Rinus Michels, diciptakan ketika dia melatih timnas Belanda di piala dunia 1974 di Jerman Barat. Michels adalah pelatih yang sangat dingin dan selalu menjaga jarak terhadap pemainnya. Dia memang pelatih hebat, namun banyak anak-anak asuhnya enggan akan “kepahitan” dan kekakuan sikapnya.

Makanya, Michels diberi gelar “jendral.” Dia sering mengkomando anak buahnya bukan dengan memanggil nama, tetapi dengan menyebut nomor punggungnya saja. Untunglah anak-anak asuhannya sudah terbiasa dengan karakter tersebut.

Opa Michels menjelaskan terperinci Total Football dengan bahasa tajam, “menciptakan permainan dan berani merangsek masuk ke dalam pisau-pisau menganga” “maju ke depan dengan pisau menganga itu memang sulit. Tetapi harus kita lakukan,” katanya (Sindhunata: Bola-Bola Nasib, 2002).

Begitu jelas, bahwa betapa seriusnya dia agar permainan sepak bola jangan defensif, pemain harus menyerang. Pola defensif cuma mengekang kreativitas. Total Football telah membidani kelahiran seniman-seniman lapangan yang kreatif dan hebat. Sebutlah Marco Van Basten, di babak penyisihan Piala Eropa 1988 ia jebol gawang Inggris 3 kali.

Rinus Michels memang fenomenal. Warisannya tak boleh dilupakan oleh pelaku dan pecinta sepak bola di era sekarang. Tiki-taka Barca tak akan pernah ada tanpa jasa seorang Michels. Tahun 1971-1975 ia latih Barcelona dan mempersembahkan gelar la liga serta copa del rey pada publik kota Catalan. Dia peletak dasar permainan atraktif Barca.

Tiki-taka lahir karena proses panjang, di sana juga kita bisa lihat sentuhan-sentuhan Total Football sepeninggalan Michels. Orang Belanda ini memang jenius, sepak bola disihir jadi laga “pertempuran” yang elegan dan tidak membosankan.

Dank je Opa, karenamu bola terlihat indah!