Perjalanan

Sungguh bising! Manusia selalu menanak kata seenaknya. Bikin mendidih di telinga.

Saya bertahan demi masa. Saya harus menoleh sebab bau tengik sebuah perjalanan telah terendus. Membiarkan berarti akan membuatnya menjelma seperti hantu, ya hantu kehidupan. Ia akan membuntuti kita untuk menagih janji.

Janji keabadian!

Entengnya ia berkata; manakah yang lebih penting menggenggam sebuah perjalanan ke dalam kata atau bernista berlama-lama dengan gengsi dunia?

Cibiran yang absolut!

Seorang kawan tergeletak. Dari dinding yang retak lalu jatuh tersungkur ke ranjang berselimut singa-singa biru yang diam. Bertelanjang dada. Tangannya tersingkap. Mungkin ia menyerah pada mimpi yang setiap saat ingin ditemuinya, yaitu datangnya sinar yang cerah.

Di situ ia bermunajat agar tak perlu lagi menyeka keringat dengan tangan yang berkuman. Di bawah kaki ibu ia menangis! Diciuminya ruas-ruas jari yang keriput,  kemudian membasuhnya dengan sedanau air mata.

Saya berdiri sebagai saksi. Saksi keabadian! Saksi sebuah perjalanan! Konsep di mana sesungguhnya tuhan saya temukan. Yah ketika saya melihat tuhan dalam bentuk yang agung, kasih sayang ibu pada anaknya yang terluka.

Inilah sebuah perjalanan! Jika kita sadar, di bola matamu yang pucat, yang terang, yang merah, hiduplah seorang manusia dengan nasibnya. Kadang berwujud bak gladiator, hewan, malaikat, sampah, bahkan seorang anak kecil yang sangat manja.

Mereka, kita, bertemu dalam “kereta” yang dinamakan perjalanan. Kereta yang suatu saat akan diberhentikan oleh sang “Masinis” atau diri kita sendiri.

Gemericik hujan pudar. Hawa tubuh yang berkeringat tersiangi angin. Rasa teh ini berkelindan dengan ketibaan petang yang sudah menjelang. Catatan yang saya buat selaksa membujur tertadah langit-langit yang menggelembung. Sebuah perjalanan saya rasakan kenikmatannya.

Selagi saya terus bisa menulis maka keingintahuan terhadap sebuah perjalanan akan tetap ada.

Sorga dari sebuah perjalanan  adalah manusia!

Sungguh bising! Kawan saya sudah terbangun. Beleknya melekat. Matanya kembali membaca. Pulanglah beserta cinta!