Ini Toh Arti Komunikasi

Di tengah stagnannya saya untuk melanjutkan sebuah sket gambar yang anatominya agak jlimet, tiba-tiba pikiran saya berpaling kepada satu hal yang mesti ditulis ke blog saya ini. Ketika di luar sana, orang-orang sedang menikmati kesenangan, justru saya di sini harus menimbun kata-kata untuk membentuk sebuah tulisan baru.

Untunglah, saya bukan tipikal orang yang banyak mengeluh jika suatu pilihan harus membuat diri saya terjaga untuk waktu yang lama di kursi. Malah saya senang, karena otak saya terus berjalan dan produktif dalam merangsang saya untuk membuat satu pekerjaan yang mungkin berguna di kemudian hari.

Pada prinsipnya, mengatur atau mengelola hubungan kita agar baik terhadap siapa saja, dibutuhkan komunikasi yang baik pula. Sifat dasar manusia yang ingin selalu dihargai dan diakui eksistensinya menjadikan manusia sebagai individu yang menginginkan kenyamanan dan apresiasi.

Saya dapat mengerti sekarang, mengapa tuhan menggiring saya selama beberapa tahun untuk mempelajari ilmu komunikasi. Komunikasi di mata saya bukan lagi sekedar “ocehan-ocehan panjang lebar atau pun singkat”. Komunikasi benar-benar alat yang berguna untuk mempengaruhi seseorang.

Bagaimana Plato bisa mendidik para muridnya dengan bahasa-bahasanya yang menyihir jika yang ia pakai hanyalah simulasi lewat gestur-gestur tubuh.  Kiranya ia sadar, bahwa setiap kalimat yang keluar disampaikan, perlu diimbangi oleh komunikasi yang bagus.

Kita bisa saja menyeruduk opini tadi, lalu mengatakan seniman tanpa komunikasi bisa menciptakan karya. Dan sejumlah orang tidak keberatan jika tidak ada petunjuk yang menjelaskan apa maksud dari karya tersebut.

Saya kok rasanya ingin menyeruduk kembali pendapat barusan ya. Karya seniman tidak sepenuhnya diam, atau gagu di ruang-ruang pameran dan sejenisnya. Meskipun jargon art for art’s sake dipakai sebagai pelurusan, tapi saya menganggap, itu terlalu menyepelekan arti sebuah karya seni yang semestinya.

Karya seni bagi saya punya mulut, pikiran, dan hati. Mereka berbicara makna. Kadang makna tersebut bermonolog sendiri. Kadang makna tersebut mengajak kita berkomunikasi secara interaktif.  Pernah saya melihat suatu lukisan seorang seniman lukis, Nasirun,  yang ukurannya dua kali lipat tv lcd. Saya saat itu,  memandang bahwa karya itu berbicara atau berkomunikasi tentang bagaimana nanarnya hidup seorang penari kecak.

Visual, warna, bentuk, ruang, garis, atau volume seperti pecahan-pecahan kata-kata yang disatukan oleh sang seniman. Sering terjadi dialog antara seniman dan dirinya, bagaimana mengkonfirmasi suatu objek, kejadian, ungkapan jiwa agar karya yang dibuatnya membuat orang yang melihat bertanya, merasa nyaman, bahkan terperangah pada pesan. Berdialog bukankah bagian dari komunikasi?

Saya semakin kerasan di kursi. Apalagi Morrissey dan Siouxsie mau menemani saya dengan “interlude”  yang kolosal dan mengundang kesepian. “Paman nakal” dan “tante punker” ikut serta dalam pelarian saya malam ini ke paragraf demi paragraf. Paragraf yang tiada area peristirahatan di dalamnya.

Saya tidak mau membongkar isi pikiran John Fiske. Sebab saya tidak mau bergulat dengan teori yang panjang. Saya ingin membiarkan pikiran saya berbicara arti komunikasi dalam konteks yang ringan dan sederhana. Dengan apa yang saya lihat di sekitar lingkungan tempat di mana saya tinggal.

Saya cuma  ingin mengorek-ngorek jantung dia saja. Bahwa komunikasi telah berjasa besar dalam menyambung hubungan yang telah putus. Memperbaiki persepsi yang keliru. Menyalurkan pendapat atau ide. Mengambil hati seseorang. Mengobati perasaan yang disakiti. Menenangkan orang yang dirudung masalah. Menjadikan orang nyaman. Menarik perhatian orang. Memperbesar rasa cinta dan kasih sayang. Bahkan, membuat orang tertawa.

Selamat malam