Manusia “SW”

Jika di antara kamu banyak yang belum ngerti istilah atau arti dari manusia “SW” apaan sih, maka saya bakal memberi tahu kalian sekarang. Manusia “SW” bukan manusia “setengah waras” atau pun manusia “selegit  wafer”.  Maksud singkatan “SW”  adalah “sekedar wacana”.

Jadi, kalo mau dijelasin secara jelas, manusia “SW” merupakan julukan untuk orang yang omongannya ngebual melulu. Kalo kata temen saya yang bocor, ngombersambau, ngomong berak sama bau. Semacam pepesan kosong juga.  Nah, manusia “SW” itu, omongannya gak pernah diimbangi oleh tindakan yang sepadan. Contoh sederhana dari manusia “SW”, bisa kita lihat pada orang-orang yang mau nembak para gebetannya tapi gak jadi-jadi. Kejadian ini sering banget kan terjadi.

“Iya dong, kita udah jalan n nonton bareng. Pokoknya reaksi dia positif titik. Besok aku mau nembak dia! Kalian liat ya gimana aku ngedapetin hati dia!”

Namun apa yang terjadi pemirsa? Setelah keesokan harinya, ketika gebetannya sudah di depan mata, si manusia “SW” keliatan mulutnya gagap, badan gemeteran,  malahan dia ketakutan kalo ditolak. Nah ini nih, niatan yang cuman sekedar wacana aja, ngomongnya selangit, mau nembak tapi nyali ciut.

Ada lagi tentang manusia “SW” yang ngebuang-buang tenaganya dengan bercerita ini lah, pengen ke sanalah di depan temen-temennya. Mungkin karena gengsi kali ya, dia ngomong sekenanya supaya biar dikira orang gimana-gimana gitu.

“Gila..gila..pokoknya gila..mereka, maennya bagus, soundnya cakep, garang di kuping. Kita harus belajar dari mereka! Ayoo..yoo, kita kulik bareng-bareng musiknya ntar malem di studio. Biar aku yang bayarin sewanya!”.

Tapi apa yang terjadi lagi hadirin hadirot? tuh orang pas latihan justru bilang: “setelah dipikir-pikir ngulik mereka susah, apalagi arrange musik yang bagus sekaliber mereka, takut ditertawakan. Jadi mending maennya yang biasa dimaenin aja, gak usah muluk-muluk”. Ya amplop, lagi-lagi sekedar wacana.

Saya jadi terperanjat soal problematika manusia “SW”, dan mulai paham akan alasan-alasannya. Sip, ketakutan ialah alasan utama yang secara gak kita sadari mempengaruhi, kenapa apa yang ingin kita dapatkan gak pernah tercapai.

Saya seratus persen setuju pada ungkapan “there’s nothing more destructive in the world than fear”.  Yoi bro, ketakutan hanya membawa kehancuran pada diri kita. Seharusnya kita melakukan suatu hal, tau-tau pikiran kita berubah. Takut rusaklah, takut jeleklah, takut ga bisa lah, halaaah pokoknya ribet berlevel-level deh!.

Buat tulisan soal manusia “SW”, saya pun ikut berkaca, dan tersenyum lebar. Pada layar monitor, saya akuin bahwa saya terkadang termasuk juga lho ke dalam golongan manusia “SW”, hehehe.

Oleh karena itu, kalo kamu gak jauh beda dari manusia “SW”, marilah kita bersama-sama mendirikan sebuah sekte manusia-manusia “SW”. Semua tujuan dan program isinya sekedar wacana. Kita buat aturan keras yang berbunyi: “seluruh anggota dilarang keras melakukan suatu tindakan atau perbuatan yang bisa menghasilkan  karya dan sebagainya. Bagi siapa yang melanggar, akan dikenakan sanksi yang hukumannya sekedar wacana”, hihihi, lucu banget kan aturannya.

Mengenai  sekte tersebut, saya cuma sekedar wacana kok.  Lagipula kita gak perlu repot-repot, sektenya udah ada, noh di  DPR dan di Istana Negara!. Sedikit demi sedikit berubah yuk, segala apa yang kita harapin harus dibarengin ama perbuatan. Walau apa pun risiko yang bakal kita hadapi, kita gak perlu takut, kita mesti berani menerimanya, semangat!. Pelajaran yang paling berharga itu, didapat karena perbuatan kita di kehidupan. Bahwa dengan keberanianlah, niscaya kita bisa benar-benar merayakan kehidupan. Siapa berani, menang!.

For more spirit, hear this song🙂