Rasisme Dan “Huuu” Untuk Luis Suarez

Fury: Patrice Evra (right) pushes Luis Suarez away at Anfield.  Courtesy of dailymail.co.uk

Prilaku seorang pemain sepak bola bisa mengalami perubahan yang cukup drastis. Saat di luar lapangan, mungkin ia akan bersikap bersahabat atau sebaliknya, menjadi sangat pemalu. Namun, ketika sudah berada di dalam lapangan, bisa saja prilaku tersebut berubah, malahan di luar dugaan banyak pihak.

Akhir-akhir ini, prilaku buruk yang sedang jadi sorotan tajam dalam bola adalah rasisme. Isu rasisme ini, setidaknya, telah membuat tanah air sepak bola, Inggris, memanas. Dua pemain EPL yang menjadi perhatian publik karena melakukan rasisme adalah, John Terry, Chelsea, dan Luis Suarez, Liverpool. FA pun secara tegas mengambil sikap terhadap kedua pemain tersebut. John Terry, dicopot sebagai kapten the three lions.Keputusan FA membuat Fabio Capello mundur dari jabatan allenatore timnas Inggris. Sementara Suarez, disanksi bersalah dan dilarang bermain selama beberapa pertandingan.

Isu rasisme yang paling populer tentu saja dialamatkan kepada Luis Suarez. Penyerang berusia 24 tahun ini, disebut-sebut melakukan rasisme kepada Patrice Evra saat laga MU kontra Liverpool, di Anfield, pada paruh musim pertama EPL 2011/2012. Investigasi FA mengumumkan, bahwa Luis Suarez berkata ke Evra dengan celaan “Negro”. Suarez boleh saja berkelit dan membela diri, lalu bilang, bahwa menurutnya, kata itu di negaranya adalah biasa.

Kalau digarisbawahi, Inggris dan Uruguay merupakan dua negara yang berbeda, latar belakang sosio-kultur pun tak sama. Suarez rupanya lupa, jika Inggris merupakan tanah air bola, dan di sanalah semangat untuk menjunjung sportivitas pertama kali dibangun. Oleh karena itu, perbuatan-perbuatan yang melanggar sportivitas seperti rasisme, kerap dianggap bukanlah anak kandung sepak bola Inggris.

Dari tahun ke tahun, di negara mana pun, perkembangan di dunia sepak bola sebisa mungkin menciptakan pertandingan bebas dari rasisme. Sejatinya, para pemain sepak bola semestinya menunjukan keeleganan selama bertanding. Rasisme memang persoalan yang tidak ada habisnya. Ia adalah musuh bagi fair-play. Untuk membasminya bukanlah pekerjaan mudah. Bahkan, karena saking muaknya dengan tindakan rasisme oleh beberapa kelompok tifosi di liga Italia, Filipe Melo enggan untuk membela kembali klub lamanya, Juventus. Ia menegaskan, bahwa ia lebih senang tinggal di Leverkusen, sebab, orang-orang lebih menghargai dirinya.

Perasaan Melo dan Evra akibat rasisme yang menimpah mereka, sama, menimbulkan rasa sakit dan kecewa. Mereka sama-sama menjadi korban, harga diri sebagai manusia seperti terinjak-injak. Kata-kata “Negro” atau lainnya, tidak bisa dipandang remeh. Di lingkungan pemain bola atau di kehidupan orang biasa, kata-kata celaan semacam itu, sungguh dinilai amat keterlaluan dan menyinggung hak asasi manusia.

Tengoklah Afrika Selatan, di negeri kaya permata itu, semenjak rezim apartheid runtuh, rakyat mereka kini berlomba-lomba menata segala dimensi kehidupannya ke arah yang lebih baik. Sejarah perseteruan rasial yang memakan banyak nyawa berusaha mereka kubur dalam-dalam. Rekonsiliasi dengan masa lalu yang dibawa oleh Nelson Mandela berdampak ke mana saja, termasuk ke sepak bola. Jika dahulu orang berkulit hitam dilarang menghuni skuad bafana-bafana oleh mereka yang berkulit putih, maka sekarang larangan tersebut sudah tak ada lagi. Kulit hitam atau putih adalah sama, satu darah, satu perjuangan, seibu pertiwi, semua berhak menjadi pemain di timnas Afrika Selatan.

Suarez dibesarkan di perkampungan kumuh, Montevideo, Uruguay. Bakatnya dalam menggiring bola terlihat sejak usia dini. Klub lokal nacional terpesona akan kecemerlangannya, kemudian merekrutnya. Karirnya menanjak, ketika ia bermain di Ajax Amsterdam. Di Ajax,  ia adalah raja gol. Di Ajax pula, ia pernah tersangkut masalah. Ketika Ajax menghadapi PSV Eindhoven, ia menggigit leher pemain lawannya, Otman Bakkal. Asosiasi sepak bola Belanda pun menghukumnya dengan larangan bermain selama 7 kali pertandingan. Peristiwa itu, sekaligus menamatkan karirnya bersama Ajax.

Kepada news of the world, ia mengaku:

“Memang ada perbedaan besar soal perilaku saya,”

“Di atas lapangan saya merasa sedikit berjiwa pemberontak, seseorang yang terkadang melakukan sesuatu yang di luar kesadaran. Saya benar-benar benci kekalahan. Bukankah sepakbola selalu soal menang?”

“Saya bahkan ingin menang saat bermain gim dengan Sofia [istrinya]. Saya tidak bisa menahannya. Tapi semua orang berperilaku berbeda di dalam dan luar lapangan.”

Pengakuan Suarez tentang tindakannya di lapangan, bertolak belakang dengan pendapat para saudara kandungnya mengenai kehidupan pribadinya di luar bola. Pada sebuah tayangan dokumenter tentang kehidupan Suarez di kampung halamannya dulu, Giovanna, saudara perempuannya bilang:

“Dia anggota keluarga yang paling pendiam,”

Pendapat tersebut diamini saudara laki-laki Paulo dan ibunya, Sandra:

“Dia jarang sekali berkata-kata.”

Sofia turut menanggapi perangi suami tercintanya itu:

“Dia sebenarnya berjiwa malaikat. Perangainya bisa ditebak dari raut wajahnya saat menang atau kalah. Itu ketika saya harus menghindarinya. Kini saya bisa menyesuaikan mood-nya dan tahu kapan bisa berkomunikasi dengannya lagi,”. (Goal.com)

Tidak saja Suarez, setiap pemain bola pasti ingin mempersembahkan kemenangan bagi klubnya masing-masing. Sesulit apa pun pertandingan, penampilan mereka bersama tim harus sempurna, cacat setitik, penonton bisa tak puas. Lantas, apakah demi mengejar kemenangan, seorang Suarez sampai harus bertindak rasis kepada Evra?. Meski kita meninjau hal ini sebagai psy-war yang dilakukan seorang pemain agar konsentrasi pemain lawan pecah, namun tetaplah, psy-war dengan menggunakan isu-isu sensitif seperti rasisme, merupakan perbuatan yang tidak elok. Duel panas di lapangan, jangan sampai membuat otak pemain ikut panas, yang pada akhirnya melontarkan perkataan-perkataan yang dapat melukai.

Suarez kiranya harus menerima konsekuensi dari apa yang dibilang orang sebagai karma. Ketika pertandingan melawan Manchester United, yang berlangsung sabtu ini (11/02/12) di Old trafford, fans the reds devil mencemoohnya. Penolakan Suarez berjabat tangan dengan Evra menjelang kick-off, makin menyulut kekesalan orang yang menyaksikan pertandingan tersebut. “Huuu” rasanya cocok jika dilemparkan kepada pesepak bola yang arogan, seperti Suarez.

Suarez pastilah merasakan betapa frustasinya mendengar “huuu” terus-menerus ke telinganya.  Setiap kali kakinya memegang bola selalu bunyi “huuu”. “Huuu” adalah tanda rasa tak simpatik. “Huuu” adalah ungkapan balas dendam. Dan “huuu” adalah ganjaran bagi sebuah kearogansian. Evra paham sekali dengan apa yang sedang terjadi di sekelilingya. Seolah, ia ingin berbagi “huuu” dengan para penonton.

“Huuu” yang menyeruak di dalam stadion, mengisyaratkan sebuah firasat getir, bahwa karir Suarez nampaknya akan segera berakhir di Liverpool. Pemain yang identik dengan prilaku buruk dan suka membuat keonaran, tak jarang sering didepak dari klub atau timnas, misalnya, Paul Gascgoine!.  Lebih daripada itu, membuang pemain yang tidak mampu memberikan contoh yang terpuji kepada para fans, bukanlah sebuah keputusan yang menakutkan menurut banyak pelatih. Brutalisme, mau pun rasisme bukan sekedar basa-basi. Di Inggris pula, keduanya merangsek dan tertahan di kelompok-kelompok penonton dan prilaku para pemain. Sepak bola yang sportif, you’ll never walk alone!