“Aku Akan Sangat Sendirian Tanpamu”, kata Bob Dylan

Bob Dylan in Joan Baez’s dressing room, location unknown, 1964. Photo by Barry Feinstein courtesy of The Morisson Hotel Gallery

Aku memasuki ingatan-ingatan dalam hidup yang sangat manis. Di dalamnya, aku yang untuk pertama kalinya mengingat bagaimana ketika itu, seorang kawan memperkenalkan aku dengan penyanyi gaek, Bob Dylan. Dia memberikan sejumlah album Bob Dylan kepadaku. Dia bilang bahwa aku harus mendengarkannya. Resensi musiknya tersebut tentu aku apresiasi dengan tangan terbuka.

Apalagi setelah ia bilang bahwa Bob Dylan merupakan  musisi yang berpengaruh bagi  Iwan Fals. Berita ini membuat antusiasku makin besar saja. Aku memang pernah membaca satu artikel di majalah musik, yang mengulas tentang hubungan musikalitas Iwan Fals dan Bob Dylan. Dalam wawancaranya, Iwan Fals mengakui jika perkenalannya dengan musik terjadi ketika seorang pramugari memainkan lagu Blowin’ in the wind milik Bob Dylan untuknya di pesawat. Semenjak itu, Iwan Fals terinpirasi dengan lagu-lagu Bob Dylan.

Aku sangat berterima kasih kepada kawanku itu, karenanya aku bisa lebih tahu tentang musik-musik Bob Dylan. Kegemaran untuk mendengarkan musik-musik yang berkualitas memang hobi yang menyenangkan. Petikan gitar Bob Dylan menjadikan telingaku santai. Sejenak, aku seakan-akan dibawa bertamasya melihat lembah-lembah yang sepi dan terjal di atap sebuah gerbong lokomotif. Mengongkang-ngongkang kaki, dan bersandung bersama tiupan harmonika yang partitur-partiturnya mengeluarkan bunyi yang sangat indah.

Aku berderap, mengangkat kepala, dan mataku terbelalak tatkala lokomotif tersebut berhenti di sebuah stasiun yang gelap, jiwanya hilang, karena semua orang sudah melupakannya. Dan Dylan terus mengaliri kesenduan itu dengan iringan irama yang beranjak lemah intonasinya. Dylan menghibur stasiun yang renta dan kehilangan penggemar tersebut.

Itu hanyalah ringkasan elegi dari lagu-lagu Bob Dylan, yang aku dekatkan pada plot kisah-kisah dalam dongeng. Dan di untaian dongeng-dongeng ini, baginya, Dylan, terdapat kisah-kisah tentang perjalanan-perjalanan hidup yang penuh paradoks. Menurutku, bahkan yang paling menarik adalah, bagaimana cinta disorotinya seperti simbol yin yang, harus ada keseimbangan. Orang yang mencintai secara tulus akan dicintai sama tulusnya.Dylan tak pernah bohong jika bicara cinta.

Aku terkesima ketika Dylan berceloteh tentang sebuah kerinduan seseorang terhadap kekasihnya. Kerinduan itu tampak menggebu-gebu, dan penuh pengharapan. Ke mana pun engkau pergi, ingatlah hanya aku, aku akan sangat sendirian tanpamu, kata Dylan. Ah, saatnya aku menyudahi catatan ini, aku ingin tertidur dan menyelipkan kerinduan itu di mimpiku.