Di bawah Temaram Malam

Mereka ada di dingin-dingin malam yang paling mencekam.

Perasaannya biru, sementara kulit-kulitnya terbungkus cahaya lampu-lampu merkuri.

Bulan yang mengangkang menunjukan mereka pada arah yang salah.

Mereka diperdaya dan tak berdaya.

Mereka merintih dengan suara yang tercekik lalu diam tak bergeming.

Kegelapan melayang-layang seperti kapas yang hendak jatuh.

Kemudian pelan-pelan mulai membuai wajah dan hati.

Mereka termenung terus memanjangkan doa.

Mata-matanya lebam ditusuk oleh debu-debu malam.

Mereka menjalani hari-hari yang biasa, dan kedinginan yang sama.

Cinta mereka melapuk di dinding-dinding tebal yang sudah senja.