AKU DAN JATUH CINTA (EPISODE 2)

Tulisan di bawah ini kukerjakan untuk melanjutkan cerita bersambung (cerbung) berjudul “Aku dan Jatuh Cinta (episode 1) di sebuah event di http://www.kartunet.com/aku-dan-jatuh-cinta-episode-1-1029.

Selamat menikmati🙂

“Roniiiiiiiiii!!” teriakkannya sangat mengagetkanku hingga jantungku berdegub kencang tak beraturan.

Di siang bolong begini, ada-ada saja masalah yang harus kuhadapi. Urusan dengan penelpon yang salah sambung saja belum selesai. Tiba-tiba, sejurus kemudian, ibu kosku mengusikku dengan suaranya yang cempreng.

Aku pun meletakkan ponselku di atas televisi seraya mengambil nafas dalam-dalam. Di dalam kepalaku, kini berkecamuk dua hal, yang pertama adalah rasa penasaranku terhadap seseorang yang tadi memanggilku Kevin. Sedangkan pikiran yang kedua adalah pertanyaan “ada apa ya, kok ibu kos sampai berteriak sebegitunya!”. Untuk pikiran yang terakhir itu, aku berpikir lagi, mungkin ibu kos sudah kesal denganku, karena aku terus-terusan menunggak iuran kos dan listrik.

Memang dua bulan ini keuanganku sedang mengalami kekeringan. Sebabnya adalah kedua orang tuaku lagi dirundung kerugian besar akibat lumbung padi kami di kampung terbakar habis. Dari penjelasan mereka terakhir kepadaku, mereka mengatakan bahwa ada beberapa orang yang sengaja membakar lumbung itu, dengan latar belakang persaingan usaha.

Orang tuaku sebenarnya mengetahui para pelakunya, namun mereka enggan melaporkannya kepada polisi. Selain buta hukum, mereka juga takut kalau-kalau setelah melakukan pelaporan, para pelaku akan membalas dendam dengan perbuatan yang lebih keras lagi.

Atas kejadian ini, mau tak mau aku harus bisa mengerti tentang keadaan orang tuaku di sana. Biarlah untuk sementara ini aku bertahan tanpa kiriman uang dari mereka. Aku masih bisa mengusahakan untuk mendapatkan uang dari pinjaman teman dan kerja serabutanku sebagai pengamen di warung-warung makan di pinggir jalan. Sejujurnya, hasil jerih payahku dari mengamen kecil dan cuma cukup untuk makan sekali sehari dan ongkos transport ke kampus.

Dalam keadaan demikian, mana mungkin aku dapat melunasi kewajibanku terhadap ibu kos. Jika ibu kos tidak bisa lagi menerima penjelasanku nanti, maka aku akan merelakan ponselku untuk membayar seluruh tunggakan. Akan tetapi, aku sedikit ragu, dan merasa bahwa apa mau ibu kos memegang ponselku yang screen reader-nya saja rusak.

Ketakutanku semakin membuncah. Kedua kakiku seakan malas melangkah keluar pintu kamar. Aku bingung ingin berkata apa pada ibu kos. Menggadaikan ponselku padanya, kemungkinan akan ditolaknya. Jika aku mengulangi penjelasan tentang keadaan kedua orang tuaku untuk sekian kalinya, barangkali ia akan menutup telinganya karena ia telah bosan dan kehilangan kesabaran untuk menagihku.

“Aduh, apa aku harus pura-pura tidur ya?” kataku dalam hati.

Sebelum rencana itu kulaksanakan, ibu kosku kembali berteriak tanpa mampu dicegah oleh siapa pun.

“Ronniiiiiiii..ke sini cepat! Apa kurang jelas suaraku?”

“Ayooo cepat!” perintahnya.

“Baik bu!” jawabku sambil mengunci pintu kamarku yang mulai keropos kaki-kakinya.

Aku menghampiri dia dengan bermodal muka pasrah saja. Keringatku pelan-pelan mengucur keluar. Saat aku tiba, dia tampak tertegun memandangi kandang ayamnya. Dia bagaikan orang yang tengah didera kesedihan yang dalam. Kuperhatikan, matanya meneteskan air mata sambil sesegukkan sendirian.

“Semalam kulihat telur-telur ayamku masih ada di sana, tapi sekarang kenapa pada ga ada?” tanyanya kepadaku.

Dia lalu memeriksa ke dalam kandang tersebut dengan tangan kanannya. Ia meraba-raba ke seluruh bagian, namun di sana yang ia pegang hanya bulu-bulu yang rontok dan kotoran-kotaran kering ayam-ayamnya.

“Mana tanganmu, coba masukan!” Ia memegang tangan kananku dan memasukkannya ke kandang.

“Iya kan, tidak ada! ke mana perginya telur-telur itu?” tanyanya serius.

“Ah syukurlah, ibu kos bukan mau nagih!” ucapku dengan senang dalam hati.

“Iya, ya bu, pada ke mana telur-telur itu?” tanyaku sambil menggaruk-garuk kepala.

“Dimakan musang kali bu!”

Musang adalah binatang pengganggu bagiku. Setiap malam, aku selalu terbangun karena musang-musang tersebut. Mereka kerap membuat kegaduhan di loteng. Sekali aku pernah melihat salah satu dari kawanan mereka. Kalau menurut dugaanku dia mungkin induknya. Badannya gempal seperti kucing peranakan, warnanya hitam bercampur sedikit kecokelat-cokelatan, serta ada garis-garis putih samar di batok kepalanya.   Sewaktu aku menatap matanya yang merah, dia berhenti. Padahal, niatanku tadinya ingin menghajarnya dengan tongkat sapu tapi seketika nyaliku menjadi ciut. Anda mau tahu kenapa aku akhirnya menghindar?. Karena aku bergidik setelah dia memamerkan gigi-giginya yang tajam.

“Kalau musang yang memangsa, dia pasti akan menerkam ayamnya juga!”

“Ini kerjaan orang bukan musang!” tegasnya.

“Benar juga sih bu!” aku setuju dengan pendapatnya.

Sulit dijelaskan, gara-gara beberapa butir telur saja orang bisa menangis. Tapi kalau kupikir-pikir kembali memang wajar lah ibu kosku menangis. Sepengetahuanku, ibu kosku telah menanti cukup lama agar ayam-ayamnya menetaskan telur. Jika telur-telur itu hilang maka artinya, bisnis telurnya kandas. Padahal, bisnisnya ini baru ia rintis.

“Semalam ada orang asing ga yang datang ke rumah ini?” tanyanya.

“Setahuku ga ada! tanyain aja penghuni yang lainnya bu!” kataku.

“Ya sudah, kamu boleh pergi!” katanya., tatapan matanya sangat sayu.

Aku benci dengan kata-kata telur. Telur mengingatkanku pada seseorang yang telah menorehkan kenangan buruk pada hidupku. Grace, mantan pacarku, sangat suka sekali telur. Habis nonton film di bioskop, dia akan memintaku untuk menemaninya makan kerak telur di suatu tempat yang bising dengan bunyi knalpot yang meraung-raung. Kalau sudah makan itu, dia akan lupa segala-galanya, termasuk kehadiran diriku. Aku sebenarnya tidak mengganggap hal tersebut sebagai hal yang penting. Apa yang dia suka akan kuturuti karena aku sangat mencintai dirinya.

“Kerak telur ini enak loh, kamu mau?” dia menyodorkan kerak telur itu ke dalam mulutku.

Kalimat itu senantiasa terngiang-ngiang di pikiranku ketika aku mengingat Grace. Tapi mau bagaimana lagi, sejak Grace kupergoki berselingkuh dengan seorang pria paruh baya, aku menjadi benci dengan telur dan Grace. Tidak ada lagi tempat di dalam hidupku untuk telur dan Grace. Memakan telur berarti aku memaafkan tindakan Grace yang telah mengkhianatiku. Silahkan semua orang menuduhku kekanak-kanakan, perasaanku tentang Grace dan telur tidak dapat berubah.

Kini, aku menganggap cinta itu seperti permainan. Siapa yang lebih lihai dalam permainan cinta, maka dia tidak akan tersakiti. Sebaliknya, mereka yang lemah di permainan cinta, bersiap-siaplah untuk merasakan pahitnya cinta. Aku jatuh cinta hanya sekali, yaitu kepada Grace. Oleh karena itu, sampai saat ini, jatuh cinta yang untuk kedua kalinya belum kurasakan. Tapi, seingatku, aku hampir jatuh cinta pada seorang cewek, teman kelasku. Dia menarik perhatianku, karena wajahnya seperti bintang sinetron. Hidungnya mancung, dan berambut hitam ikal panjang. Tapi lama-lama aku bosan dibuatnya, setiap berpapasan dengannya, dia sering mengejekku dengan ucapan-ucapan yang membuatku bad mood.

“Hai, muka telur, kapan kita bisa kencan?”

Kalau aku sudah kesal, maka aku segera medudukkannya di bangku ruang tunggu di depan kelasku. Di situ aku akan membisikan ke telinganya perkataan-perkataan yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal.

Bersambung…..