Pemulung Uang Koin

Ya tuhan, aku tak kuasa mendengar kesaksian Usman. Kerjanya hanya mengais-ngais di sungai yang jorok untuk mendapatkan sekeping koin yang sudah berkarat. Semua dilakukannya demi menyambung hidup keluarganya. Dari pagi hingga sore, dia harus bergulat dengan lumpur yang berwarna pekat dan air yang amisnya minta ampun tak enak di hidung. Aku benar-benar melihat bagaimana Usman memperjuangkan nasib anaknya agar bisa minum susu kalengan dan bersekolah. Jujur saja, aku tidak bisa membendung air mataku untuk keluar.

Istri Usman, Ipah, belum lama ini meninggal karena sakit keras. Ipah seharusnya dapat dipertahankan nyawanya jika memperoleh penanganan intensif di rumah sakit. Tapi karena tidak mempunyai biaya, Usman hanya merawatnya di rumah. Suatu hari, istrinya tidak dapat menahan rasa sakit dan sangat membutuhkan obat, Usman segera pergi ke apotik dengan uang seadanya. Usman hanya sanggup menebus resep setengahnya saja, padahal dokter rumah sakit sebelumnya menyarankan supaya obat ditebus penuh. Usman bilang bahwa inilah kenyataan yang harus dijalaninya, dan ia cuma bisa pasrah ketika istrinya pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan Usman dan kedua buah hatinya yang masih kecil-kecil.

Sepeninggalan istrinya, Usman makin dibekap tanggung jawab yang terbilang tidak ringan. Selain harus terus menafkahi anak-anaknya, ia juga mesti memikirkan siapa yang akan mengasuh mereka saat Usman bekerja. Usman terutama sekali memikirkan si kecil Ajeng yang masih berusia 1 tahun 3 bulan, bagaimana nasib si kecil bila ia tinggal seharian, pikirnya. Syukurlah tak beberapa lama, sang nenek bersedia merawat mereka di rumahnya, setidaknya hal itu membuat Usman tak merasa cemas lagi. Dengan begitu, pertumbuhan Ai (anak pertama) dan Ajeng (anak kedua) ada yang mengawasinya.

Pendapatan harian Usman cuma berkutat pada nominal seribu hingga sepuluh ribu rupiah. Kadang, ia malah tak membawa hasil sepeser pun. Meskipun banyak sungai yang ia datangi seharian, kalau belum ada rejeki mau apalagi katanya. Mencari uang koin di sungai itu tak mudah, sesekali bisa dapat banyak, sesekali malah tidak dapat sama sekali. Dan kadang kala yang dibawanya bukan uang koin, tapi beberapa luka di telapak kaki dan tangan. Usman pernah demam tinggi akibat sebuah tusuk sate. Ceritanya, saat tengah menelusuri sungai, tiba-tiba kakinya menginjak tusuk sate bekas. Beberapa hari setelah kejadian, kakinya membengkak dan bernanah, disertai demam tinggi. Oleh karena itu, tusuk sate adalah momok menakutkan baginya ketika berada di dalam sungai.

Usia Usman baru menginjak 29 tahun, harapan terhadap kedua anaknya agar bisa lebih baik dari nasibnya selalu ia ucapkan. Kalau berbicara tentang anak-anaknya, tampak kesedihan menggantung di kedua mata Usman. Ai dan Ajeng adalah pelecut semangat buatnya agar jangan menyerah. Walau pun miskin, Usman menafkahi anak-anaknya dengan uang halal.  Setiap orang tua ingin anak-anaknya menjadi “orang” suatu saat kelak. Dia menegaskan bahwa apa pun demi anak, karena harta berharga satu-satunya adalah mereka. Biar pun pekerjaannya hanyalah seorang pemulung uang koin, namun ia selalu merasa bersyukur. Memang kemiskinan membelenggunya, tetapi sepenuhnya dari waktu ke waktu ia berupaya melepaskan diri dari belenggu tersebut.

Di saat kita menihilkan arti uang lima ribu rupiah, Usman justru sangat mendamba-dambakan angka sejumlah itu dapat ditemuinya di dasar sungai yang kotor. Dan ketika kita dengan bebasnya bisa keluar masuk rumah makan atau tempat hiburan, Usman justru tengah kelimpungan mencari sesuap nasi untuk mengenyangkan anak-anaknya di rumah. Aku ingin bercermin pada kisah Usman, dan berharap semoga tuhan tak tuli mendengar doa-doa Usman.