Menghadapi Krisis Dengan “Power of Powerless”

2001, tepatnya pada hari-hari setelah tragedi 9/11, perusahaan penerbangan United Airlines mengalami suatu krisis yang sama sekali tidak bisa diprediksi. Dampak masif tragedi 9/11 tersebut mau tidak mau turut mempengaruhi bisnis United dan menimbulkan krisis yang perlu diantisipasi dengan segera.

United saat itu tidak dapat berpikir banyak, karena peristiwa 9/11 mengharuskan mereka menerima konsekuensinya, yaitu krisis terhadap bisnis penerbangan. Dalam kondisi seperti itu, tidak mungkin bagi mereka melancarkan kampanye iklan yang sarat penawaran untuk mengembalikan respon pelanggan agar terbang kembali bersama United.

Justru sebaliknya, pihak United menarik semua iklan yang beredar, ini serta merta membuat keadaan United seperti perusahaan yang gelisah dalam menentukan arah bisnis mereka selanjutnya.

Fallon worldwide sebagai mitra United memahami betul krisis tersebut. Tidak banyak pekerjaan yang bisa dilakukan oleh tim Fallon, selain mendengarkan penuh perhatiaan masalah yang tengah dihadapi United. Kemudian, sedikit pekerjaan mulai disiapkan tim Fallon untuk membantu United.

Beberapa staf mengunjungi bandara Minneapolis untuk mendatangi para karyawan maskapai itu. Di sana, tim Fallon menemukan rasa solidaritas yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Para karyawan, meskipun berada di kenyataan yang pahit, mereka masih mampu menunjukan sikap penuh semangat sebagai satu keluarga yang ingin perusahaan mereka kembali aktif dan membawa terbang lagi pelanggan ke tujuannya.

Landasan itu membawa gagasan besar untuk menanggulangi krisis di tubuh United Airlines. Tim Fallon mengerjakan sebuah iklan “krisis” yang ingin menyampaikan kepada seluruh orang Amerika bahwa United Airlines bertekad mengantarkan kembali mereka terbang.

Tim Fallon mengangkat kekompakan para karyawan dalam berbagi perasaan kepada pelanggan. Dukungan kreatif pada kasus ini menitikberatkan pada pernyataan United terhadap apa yang sebetulnya terjadi pada semua orang selepas 9/11. Dan dengan itu, United juga ingin menunjukan empati bahwa pihak United turut merasakan tragedi ini dan berharap semua orang bisa bangun dengan berpegangan tangan melewati krisis ini bersama United.

Pada tanggal 21 September 2001, iklan itu tayang secara nasional di seluruh  surat kabar. Menurut pengakuan tim Fallon, iklan cetak tersebut merupakan salah satu iklan yang tersulit yang pernah mereka kerjakan. Penciptaan iklan tersebut menjadi titik balik bagi perusahaan Fallon.

Mereka belajar menghayati krisis klien, dan mereka juga meneguhkan keyakinan betapa pentingnya mendengarkan klien. Reaksi positif pelanggan dan karyawan atas iklan itu membuktikan, bahwa pemahaman tim Fallon terhadap krisis klien adalah benar.

Dalam keadaan krisis, semua orang memang butuh suatu tindakan yang cepat, dan adakalanya berisiko. Pada kasus di atas, risiko kecil, namun tindakannya yang “sederhana” membuat pemulihan yang baik bagi kehidupan suatu perusahaan. Pada krisis, kita berusaha mempertahankan kontinuitas hidup.

Kita pasti berubah dalam keadaan yang seperti itu. Dengan beralihnya realitas, kita diminta sadar untuk membangkitkan kemampuan yang luar biasa, yang selama ini tersembunyi pada diri kita. Power of powerless, ketidakberdayaan kita sebenarnya bisa melahirkan kekuatan. Persoalannya adalah apakah kita mampu menghadirkan kekuatan tersebut di masa krisis?. Untuk itu, berarti kita harus memprediksi kecenderungan kekuatan apa yang bisa kita angkat dalam diri kita agar krisis ini bisa berlalu.

Seperti telah disinggung sebelumnya, dalam krisis, otomatis realitas berubah. Dan di sini, yang kita persangsikan hanyalah seri keadaan yang mempertanyakan kemampuan kita untuk menghidupkan kekuatan di diri kita yang samar dan tak tampak. Melalui “kekuatan” ini, semua orang bisa menghindar dari krisis.

Kita perlu menarik rahasia alam semesta, vibrasi-vibrasi positif dalam diri kita menjadi peluru terpenting. Robert wong, creative director Google labs, menceritakan sedikit bagaimana ia menarik bakat-bakat anak muda yang tersembunyi dengan mengumpulkan mereka pada suatu grup dan mendengarkan antusiasme mereka tentang dunia dan aspeknya.

Dia berpendapat, dalam ketidakmungkinan, kejelian orang dalam menganalisis segala kesempatan mutlak dilakukan. Dia tidak saja menggaji anak-anak muda itu, memberi tempat tinggal, namun juga perhatian. Ini merupakan kekuatan kreativitas dan analisa saat mengatasi krisis. Dan setelah itu, dunia akan memperhatikan apa yang telah mereka lakukan.

Kita tentu saja dapat melakukan itu semua. Dalam ketidakmungkinan masih tersedia kemungkinan, dan kekuatan atas itu ada. Mungkin itulah sebabnya, mengapa filsuf Perancis keturunan Aljazair, Jacques Derrida, lebih senang mendeskripsikan suatu khayalan kolektif yang terjadi di suatu kelompok masyarakat sebagai l’im-possible (ketidak-mungkinan) dibanding menggunakan istilah utopia.

Ia berpikir, jika dalam ketidakmungkinan bisa saja terjadi “kemungkinan” tentang adanya masyarakat yang ramah dan terbuka terhadap siapa saja. Ide Derrida tentang ini, seakan-akan membawa pembenaran serta relevansi terhadap kemungkinan terdapatnya solusi ketika krisis datang.