JUARA TANPA MAHKOTA

Final leg 2 tanggal 29 Desember 2010 di stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, akan menjadi tugas terberat Riedl. Ia harus mengejar defisit gol. Setidaknya pemain timnas menyarangkan 3 gol biar terjadi penalti. Walau misi itu terbilang cukup sulit. Kemungkinan lain adalah,  Indonesia bakal mencetak 3 atau 4 gol di menit-menit terakhir nanti. Bisa saja, pada menit-menit tersisa, semisal 3 menit terakhir, Irfan Bachdim atau Gonzales menceploskan gol lebih dari 2. Para pemain dunia sering menganggap menit-menit terakhir merupakan momen yang menentukan. Johan Cyruff, legenda bola Belanda menceritakannya di puisi ini: “In each game there are only three minutes, and those of course subidivided into moments, that really matter in three minutes you win or lose”         

Rabu itu tiba!. Terjungkalnya timnas di Bukit Jalil perlahan dilupakan. Headline tentang pertandingan hidup mati timnas ramai di berbagai koran-koran Indonesia. Salah satunya ialah “GO..GO timnas” di koran bola.  GBK akan jadi arena balas dendam timnas. Sepanjang hari, ribuan orang mengular hingga ke jalan-jalan di luar stadion untuk mengantri tiket. Bahkan ada yang datang dari malam dengan menggelar tenda beralas lantai yang dingin dan beratap kolase-kolase awan malam dari langit ibukota.

Di belahan dunia mana pun, sepak bola selalu menarik dan mempesona. Banyak orang menyerah pada perasaan romantis dan tergila-gila pada bola. Sastrawan Inggris, Nick Horby, pernah berkata: “Saya tergila-gila dan jatuh cinta pada sepak bola, seperti saya harus tergila-gila dan jatuh cinta pada wanita.” Selain itu, sihir sepak bola telah membuat manusia untuk melakukan apa pun. Makanya, sepak bola kerap disindir mengarah ke unsur religiositas sebab menggantikan dan mengkhianti peran keagamaan.

Lautan orang berkostum merah putih datang bergelombang untuk membanjiri GBK. Suara-suara mereka melontarkan pekikan semangat.  Sanjungan terhadap lambang burung garuda pun meluber ke mana-mana. Di GBK, sepak bola telah mendekonstruksikan pengertian suku, ras, etnis dan agama. Para suporter tampak menyingkirkan perbedaan-perbedaan yang melekat di antara mereka. Melalui bola mereka berkumpul kepada satu keidealan. Satu keidealan yang menyatukan dukungan terhadap timnas dengan seia-sekata.  Prinsip idealisme inilah yang diyakini dapat menyokong penampilan para pemain di lapangan.

Alfred Riedl tentu tak mau iseng-iseng memakai strategi catenaccio ala Italia. Filsafat bola catenaccio atau filsafat bola defensif ini tidak cocok dipraktekkan pada tim-tim yang ingin mengejar kemenangan besar. Filsafat dasar catenaccio yang berbunyi “bertahan adalah format terbaik serangan” amat ringkas menelan keberadaan format menyerang total football milikRinus Michels, Belanda. Dengan kata lain, Riedl pasti akan mengidolakan format menyerang sebagai mesiu untuk menggempur pertahanan Mohammed Saber dan kawan-kawan.

Malam ini tiada hujan, angin menyerempet badan-badan yang berkeringat,  sementara di atap stadion tampak sinar lampu-lampu jumbo berwarna keputihan yang menyorot ke lapangan. Kick off segera digulirkan, kedua kesebelasan memasuki lapangan. Wasit asal Australia, Peter Daniel Green, ditunjuk untuk memimpin jalannya pertandingan. Lagu kebangsaan Malaysia mulai diperdengarkan, namun iramanya tenggelam karena bunyi bising terompet-terompet bertanduk para suporter garuda.

Memang tidak mungkin Malaysia merasa nyaman di sini. Malaysia mirip-mirip bagai harimau yang sedang dikelilingi pemburu. Mereka tertekan, terintimidasi, bahkan diolok-olok “Malingsia..Malingsia!” oleh koorkoor suporter. Teror-teror ini layaknya tumpukan kekesalan yang mengendap lalu meledak akibat konflik antar “saudara serumpun” di luar atau pun di dalam sepak bola. Kalau dipandang dari kaca mata sportivitas, tindakan tersebut mencederai fairness dalam bola.  Bola sepenuhnya adalah olah raga, mempertontonkan teror atau makian adalah sebuah kerugian bagi tim tuan rumah. Nasionalisme atau chauvinisme yang berlebih-lebihan justru bisa menjadi bumerang.

“Indonesia tanah airku..tanah tumpah darahku…”, ratusan ribu penonton berdiri, dan bernyanyi serentak. Koor-koor perjuangan itu benar-benar membuat sekujur kulit merinding. Dari dalam stadion, koor-kooritu membaur dengan spanduk-spanduk lebar yang membentang bertuliskan “Forza Indonesia”, “Indonesia Juara”, “Garuda Di Dadaku”, dan sebagainya. Sedangkan nun jauh di Inggris, Cesc Fabregas (mantan pemain Arsenal), dan Rio Ferdinand (pemain MU) mengalirkan dukungannya terhadap timnas melalui twitter. Rasa cemas anak-anak bangsa yang tersembunyi seolah tertutupi.

Babak pertama berjalan, Indonesia mengunci permainan Malaysia. M. Ridwan melakukan solo run di sisi kanan. Ia melepaskan umpan-umpan yang masih dapat dihalau. Pertahanan Malaysia sangat gugup, namun usaha Indonesia belum membuahkan angka. Waktu terus bergulir, pemain Malaysia sesekali menerobos wilayah M. Nasuha lewat drible Mohammad Anshari. Duel sengit terjadi di lapangan tengah. Pergerakan-pergerakan Firman Utina hampir setiap saat dibayang-bayangi body charge dan tackling  Khaerul Helmi dan kawan kawan.

Penonton terus ribut dengan yel-yel tanpa jeda. Dalam suatu serangan, bola yang disepak pemain timnas menyentuh tangan bek Malaysia di daerah 12 pas. Wasit menunjuk titik putih, hadiah penalti buat timnas. Rakyat Indonesia bertepuk tangan gaduh.  Mercon-mercon dibakar, asap tebal berwarna orange kemudian mengikuti,hingga menyembul pekat di tribun penonton. Firman Utina mengambil tugas sebagai penendang. Kiper Khaerul Fahmi bersiap di garis gawangnya. Semua orang tegang luar biasa, jutaan pasang mata hanya terkonsentrasi pada Firman Utina. Firman ambil ancang-ancang, bola pun ia tendang, dan gagal!. Si kulit bundar cuma melesat pelan ke kanan sehingga kiper mudah menangkap. Adegan ini membuat kita tercengang, lalu diam seribu bahasa.

Nervositas berlanjut di babak kedua, karena skor masih 0-0. Kita menghadapi galau tingkat tinggi. Selama pegelaran AFF cup (dulu Tiger cup), Indonesia selalu menjadi runner up. Tahun 2000, 2002, dan 2004, jadi sudah 3 kali. 2010 ini adalah final keempat bagi Indonesia. Sebagian pengamat bola menilai final leg 2 ini bisa dimenangi Indonesia, akan tetapi juara atau tidaknya kita menunggu pertandingan usai. Di babak kedua, timnas mempertahankan pola serangan melalui kedua sayap. “Sang Garuda” terus merepotkan barisan “Harimau Malaya”, kendati sodoran-sodoran bolanya kadang “ngaco”, serta memiliki penyelesaian akhir yang buruk.

Keasyikan menyerang bikin bek-bek kita lengah. Ini dimanfaatkan anak-anak Rajagobal melakukan serangan balik. Dalam posisi bebas, Safi Salee menggiring bola menuju Markus Haris, dan gol!. Hiruk pikuk GBK lenyap. Indonesia menyamakan kedudukan lewat kaki M. Ridwan. Kemudian M. Nasuha membalikkan keadaan jadi 2-1. GBK kembali bergemuruh!.  Detik-detik terakhir mendekat, skor di papan besar masih 2-1. Kita butuh 3 gol lagi untuk juara. Raut wajah Riedl nampak pucat di pinggir lapangan. Sementara, kita semua berdoa dalam kekhusyukan yang jarang terlihat selama hidup. Kegetiran itu pun menjadi kenyataan. Peter Daniel Green menyudahi pertandingan. Malaysia juara karena agregat gol lebih banyak, 4-2. Air mata pemain timnas berjatuhan di reremputan GBK. Ia juga menggenang di pelupuk mata kita. Kekalahan membuat kita bersandar cukup lama di bangku dengan ratapan yang paling kosong dan dalam.

Pendulum takdir sang Penguasa alam semesta konstan di pelukan anak-anak melayu asal negeri seberang. Indonesia memang menang tapi tropi melayang ke Malaysia. Meskipun demikian, rabu malam ini, apa yang telah diberikan oleh Alfred Riedl dan pemain dinilai sudah maksimal. “Pemain kami hanya kurang beruntung!”, kata Riedl kepada media. “Indonesia adalah juara tanpa mahkota.”  Energi kita surut selepas semua ini, seraya penonton yang berduyun-duyun meninggalkan stadion. Sepak bola bukanlah seperti opera sabun yang dangkal. Karena di dalam sepak bola, para pemain menjadi anak-anak manusia yang bergelut dengan kerasnya kehidupan. Pergulatan dengan kerasnya kehidupan itu tak selalu berakhir dengan kemenangan yang gilang-gemilang, atau dengan perayaan akbar mengangkat tropi kejayaan. Sebaliknya, itu semua bisa mendatangkan kepahitan dan kekecewaan secara tiba-tiba.

Sebelum cahaya di GBK dipadamkan secara keseluruhan, dari balik jendela bus yang berkaca agak gelap, M. Ridwan nampak menatap kerumunan suporter yang menghadang laju pulang bus pemain. Ia meneteskan air matanya ketika melihat dukungan dan kesetiaan tetap ada. Betapun  runner up, fans tidak pergi. Keterlanjuran cinta itu justru membuat nyanyian “Garuda Di Dadaku”  makin deras terdengar. Dalam kondisi sesuram apa pun, kesetiaan fans terhadap para pemain memang harus diperlihatkan. Di sepak bola, kesetiaan adalah perbuatan yang bernilai “tinggi”.

Timnas sudah melakukan yang terbaik. Pertandingan malam ini telah melibatkan kita dan para pemain untuk senantiasa berani berhadapan dengan kemenangan mau pun kekalahan.  Selama 90 menit, kita merasakan tragedi, komedi, ketabahan untuk mengalami kegagalan, tekad serta keberanian untuk selalu bangun meraih kemenangan. Artinya, pertandingan ini telah mengajari kita untuk menerima realisme nasib. Sepak bola amat tegas memberikan kita pelajaran hidup dengan segala aspeknya tersebut.

Perjuangan Bambang pamungkas dan tim berjibaku dengan musuh pada akhirnya menggiring kita untuk menemukan sumber refleksi serta permenungan. Sepak bola memang sangat kaya  akan refleksi serta permenungan jika ditelusuri. Seorang filsuf eksistensialis Prancis, Albert Camus, dahulu sangat berterima kasih kepada sepak bola. “Dalam hal keutamaan dan tanggung jawab akan tugas, saya belajar dan berhutang budi pada sepak bola”, katanya.  Sepak bola tak akan habis ditimba atau dikuras kedalamannya. Di sepak bola, kita juga dapat melihat drama kehidupan yang jatuh bangun. Jatuh bangun yang sama dan adakalanya terjadi di dalam kehidupan kita. Seperti tulis Dante dalam Infernal Firenze: “Yang satu roboh, yang lain tegak megah. Dengan kepala, dengan kaki, ia meloncat. Ia bertahan, dengan menaruh kepala pada kaki,”