Penasaran

Ia mengendap-ngendap masuk padahal sudah diingatkan agar menjauhi rumah itu oleh penjaga keamanan yang seram dan berengosan. Nyalinya sebetulnya tidak seberapa, bobot berat tubuhnya saja 50 kg.  Jika keberadaannya diketahui maka giginya akan dirontokkan, ancam si penjaga tadi. Ia memanjat  tembok, kedua tangannya tergores dan mengeluarkan darah karena pecahan beling yang melapisi kepala  tembok. Setelah berhasil menyelinap, tepat di mana ia berdiri tampak sebuah halaman luas yang terurus. Matanya menggeliat, sembari membalut kedua tangan menggunakan sobekan kausnya.

Bulu kuduknya berdiri ketika akan memasuki jalan setapak yang menuju sebuah pintu. Ia lanjutkan mengendap-ngendap, dikecilkannya suara langkah kakinya. Hampir sampai di tujuan, tinggal beberapa langkah saja. Namun tiba-tiba ia dikejutkan! “praaaaaaaaaarrrrrngggg” suara piring terjatuh dari balik pintu. Spontan, ia berlari tunggang langgang dan akhirnya terperosok jatuh.

Ia bangkit ditemani oleh nafasnya yang hampir semaput. Matanya kembali menggeliat, menatap sekitar, apakah kedatangannya diketahui? Ia sudah siap apalagi dengan risiko yang bakal terjadi apabila tertangkap. Ia  membayangkan saat-saat yang menyakitkan ketika  tertangkap. Giginya dirontokkan, kulitnya memar-memar, dan kepalanya direndam di air.

Menurut kabar dari mulut ke mulut, rumah itu dahulu sangat terbuka. Orang-orang yang rumahnya berdekatan dengan rumah tersebut bisa keluar-masuk sesuka hati. Dan di setiap akhir pekannya sang tuan rumah mengadakan jamuan yang disebut “makan pagi bersama”. Di mana hidangan istimewa seperti bubur kacang hijau, nasi goreng sapi, dan jus tomat ala sang tuan rumah disajikan di atas meja panjang yang diletakkan di halaman luas di belakang rumah. Akan tetapi tanpa alasan yang jelas suami istri renta itu tidak lagi mengadakan acara  yang penuh kegembiraan dan kemudian pada akhirnya menutup rapat-rapat pintu mereka.

Ketakutan yang dibayangkannya tidak terbukti, tak ada seorang pun yang datang menyergapnya. Ia kembali berjalan, mengendap-ngendap seperti semula. Selang beberapa menit, ia tiba di muka pintu. Baru ingin disentuh, pintu terbuka sendiri. Isi rumah tersebut tak begitu mewah. Cuma satu benda saja yang kelihatan mencolok , yaitu sebuah foto besar  seorang lelaki dan perempuan lanjut usia yang sedang tersenyum satu sama lain. Ia meneruskan mengendap-ngendap, dari satu tempat ke tempat lainnya. Memperhatikan setiap sudut rumah tanpa takut dipergoki pemilik rumah.

“Anak muda, apa yang sedang kau cari?” tiba-tiba suara berat seorang lelaki menyapa sehingga membuat tubuhnya beku.

Parasnya pucat bukan kepalang, ingin bersuara tapi tak kuasa.

“Dari sini aku sudah memperhatikan kau yang di luar tadi berdebat dengan penjaga!” “mau apa anak muda?” sekali lagi orang tua tersebut bertanya.

Udara terasa pengap di dadanya, namun perlahan ia bisa mengatasi kematikutuannya dan mulai berbicara maksudnya walaupun agak terbata-bata di awal;

“Eee, aku siap jika digelandang ke polisi pak!”

“Bukan jawaban itu yang aku perlukan, aku tanya sedang apa kau di sini hey anak muda?”

“Sudahlah, mari ikut aku!” orang tua itu mengajaknya ke suatu tempat.

“Kenalkan ini istriku, namanya Jenny” “hai ibu, aku Kokoh!” sapanya namun wanita itu hanya tersenyum.

“Setiap pagi dan sore  aku membawa Jenny dari tempat tidurnya lalu  mendudukkannya di kursi ini”

“Menyuapinya semangkuk bubur, memberinya obat, setelahnya aku mendendangkan cerita-cerita dan lagu-lagu   supaya membuatnya tersenyum” ucap sang suami.

“Tampaknya anda begitu mencintainya pak?”

Lelaki tua hanya tersenyum dan membalas;

“Anak muda lihatlah kumpulan bunga mawar yang kuselipkan dipangkuannya!”

“Setiap hari aku memberikan bunga mawar kepadanya!”

“Kau harus tahu anak muda, Jenny dan aku hanyalah sepasang insan manusia yang diciptakan, dipertemukan, dan akhirnya dipisahkan”

“Untuk tahu seberapa besar cinta kita pada pasangan atau sebaliknya, jangan lihat pada saat ini tapi pada masa yang akan datang!”

“Mmmmhuuuu..” lelaki tua itu menarik nafas dalam-dalam dan termenung;

“Demi kedamaian  Jenny, akhirnya aku putuskan untuk mengasingkan rumah ini dari kedatangan orang lain”

Sambil menyapu keringat sang istri dengan selembar tisu lelaki tua berjanggut lebat itu kembali bertanya;

“Ahh lupa aku saking  terhanyutnya bercerita, mari kita kembali ke pertanyaan ku tadi, Karena alasan apa sehingga kau mengendap-ngendap kemari anak muda?

“Penasaran!” jawab Kokoh.