(Jangan) Ditimpukin Iklan Jelek

Pernah liat iklan snack atau waffer di mana model iklannya meregang-regangkan selangkangannya sambil ngomong **ya **ya? Kalo belum liat berarti kamu harus liat, mudah-mudahan masih di-placement di tv. Iklan tersebut kemunculannya sering berada di jam-jam program musik atau acara anak. Ketika saya liat sekali, gak masalah, dan berpandangan cuma sebuah iklan. Namun, lama kelamaan saking eksis iklannya saya jadi manggut-manggut sekaligus menepuk kening “alamak dia lagi..dia lagi!”. Saya memang bukan target audience iklannya, dan mencoba berdiri di tengah-tengah untuk tidak menghakimi atau membela iklan tersebut. Teman saya pernah mengadu bahwa iklan itu “Bosok!” saya cuma (pura-pura) mengiyakan. Kemudian saya berpikir sebentar, dan coba ngejelasin kepadanya berdasarkan pengetahuan dipunya tentang iklan. “begini lho, iklan terkadang sengaja dibuat “agak ngeselin” oleh pengiklan/biro iklannya bertujuan agar cepat diingat khalayak sasarannya. Cara demikian bukan berdasarkan serampangan atau straight-sell gak jelas. Ini dipilih karena untuk membedakan tvc produk mereka dengan para pesaing. Singkatnya, segala sesuatu dipersiapkan dengan matang walau berisiko dicap iklan norak”

Sebagian orang tidak menyukai iklan, sebagian lagi menyenangai iklan. Rambut boleh sama hitam tapi isi kepala dan hati boleh berbeda. Dari sini, saya memetik pelajaran penting. Orang kreatif iklan harus mempelajari lebih dalam pola pikir masyarakat secara keseluruhan terhadap iklan baik dan kurang baik itu seperti apa? Membuat orang kesel mudah, tapi membuat orang suka apalagi cinta sama iklannya itu mudah juga asal mengerti mereka.