Tukang Gambar & Asisten Pengajar

Suatu hari seorang tukang gambar dikunjungi oleh kawan lamanya WNA yang berprofesi sebagai asisten pengajar di negeri asalnya. Dalam suatu kesempatan, tukang gambar meminta pendapat kawannya itu tentang gambar yang baru saja ia buat.

Sang kawan menolak sebab merasa tak pantas memberikan pendapatnya. Selain di luar kompetensinya, dirinya segan bila apa yang akan dikatakannya nanti akan menyinggung perasaan kawannya tersebut. Namun akhirnya dia mengiyakan karena berpikir tiada salahnya serta merasa pasti apa yang disampaikan akan dihargai.

Sebut saja si tukang gambar adalah A, dan kawannya adalah B.

Berikut percakapannya:

B: I think your drawing is good and interesting. But I have suggestions.
( Saya kira gambar kamu bagus dan menarik. Namun saya mempunyai beberapa saran).

A: I’d be very glad you could give me advice.
(Saya amat gembira kamu bisa memberikan saya nasihat).

B: If I were you. I’d change red into blue.
(Seandainya saya ini kamu. Saya akan mengubah warna merah menjadi biru).

A: Good idea, bro. what do you think about this line?
(Ide yang bagus, kawan. Bagaimana pendapatmu tentang garis ini?).

B: I think it’s too long.
(Saya rasa ini amat panjang).

A: You’ re right. How do you feel about the blue?
(Kamu benar. Bagaimana perasaanmu soal warna biru ini?).

B: You should mix that and white. Unless, it doesn’t look good.
(Kamu seharusnya mencampur warna itu dengan warna putih. Jika tidak, maka akan kelihatan tidak cocok).

A: Oh ya!! And I’d better draw once more.
(Oh ya!! Dan saya lebih baik menggambar sekali lagi).

B: Good!! Try once more, so your drawing will be perfect.
(Bagus!! Cobalah sekali lagi maka gambarmu akan sempurna).

A: Thanks so much for your advice.
(Terima kasih banyak atas nasihatmu).

B: you’re welcome.
(Sama-sama).

Begitu berharganya pendapat dari B bagi A sehingga gambar yang telah dibuat oleh A mendapatkan saran-saran yang di luar perkiraan pikiran A. Apabila A adalah orang yang puas diri maka baginya pekerjaan yang telah dibuat tidak perlu dirubah. Tetapi ia tampaknya tidak demikian, dengan senang hati ia meminta orang lain menilai pekerjaannya secara obyektif serta menerima saran tersebut secara antusias oleh karena dirinya ingin lebih baik.

Orang yang mau maju akan membuang rasa malu untuk meminta pendapat kepada siapa saja tanpa membedakan apa latar belakangnya agar apa yang telah dikerjakannya bisa kian maksimal hasilnya. Menjadi orang yang ‘merasa paling bisa’ tentu semua orang mampu melakukannya. Akan tetapi menjadi orang yang dapat membuka hatinya atas saran atau pendapat orang lain tidak semua orang sanggup mengerjakannya.