Pesan Kultural Dan Identitas Ketradisionalan Dari Pasar Jodog

Pasar Jodog terletak di Pandak, Bantul.  Jaraknya 2 km dari pusat kota Jogja. Pasar ini hanya ada pada tanggal-tanggal yang berhari pon menurut kalender Jawa. Pasar Jodog telah eksis selama puluhan tahun. Keberadaannya menjadi arena transaksi jual beli bagi penduduk di sekitarnya. Orang-orang di luar wilayah Pandak sering juga mengunjungi pasar ini. Pasar Jodog adalah cermin pasar tradisional yang bukan cuma sekedar merefleksikan kegiatan utama dari sebuah pasar pada umumnya yakni jual-beli. Pasar Jodog bisa pula dikatakan sebagai refleksi relasi antara adat kebiasaan orang jawa dan alam.

Pada jaman kolonial Belanda, pasar kerap dijadikan pos  bagi Belanda  untuk mengamati aktifitas rakyat. Selain itu, pasar dianggap lahan yang strategis untuk menyebarkan pengumuman-pengumuman penting tentang  kebijakan kepada rakyat. Pasar sudah menjadi titik pertemuan untuk memuaskan kebutuhan dari segi ekonomi dan sosial. Sosiolog maupun antropolog melihat pasar sebagai muara interaksi sosial-ekonomi masyarakat, di mana berbagai lapisan bertemu dalam sebuah kebutuhan yang sama.

Seorang psikolog memandang pasar sebagai sarana untuk berinteraksi dengan anggota masyarakat lainnya, setidaknya mengenali dan terlibat dalam konsep komunikasi jual-beli. Sosiolog seperti Ellen Meiksins Wood dalam From Opportunity to Imperative: The History of the Market, menyatakan “hampir setiap definisi ‘pasar’ berkonotasi pada sebuah kesempatan (Emka Heru, “Senjakala Pasar Tradisional”).

Di pasar Jodog kita dapat menemui beberapa lapak penjualan. Di bagian dalam terdapat para pedagang pakaian dan sandal. Ada pula yang menawarkan kebutuhan bahan pokok, semisal beras dan sayur mayur. Sementara di sebelah luar,  tampak para pendagang  ikan dan belut dengan bak-bak air berukuran sedang maupun besar. Penjaja dompet yang menunjukkan koleksi dompet-dompet kulit berharga murah di kios kayu kecilnya. Penjaja  barang-barang bekas yang menggelar dagangan di atas karung bekas atau membiarkannya saja di  tanah.  Ahli servis jam rusak yang mendengarkan radio mini sembari menunggu pelanggan.  Pengisi korek gas yang duduk di depan warung yang sudah tak terpakai. Di bawah pohon yang rindang terlihat  pedagang burung-burung bersama sangkarnya di atas sepeda ontel. Lalu, di persimpangan jalan nampak seorang ibu yang menjual tembakau di karung-karung. Kalau dagangan tembakau, biasanya pelanggannya adalah kakek-kakek.

Interaksi antara pedagang dan pembeli di pasar Jodog tampak begitu alami. Masing-masing pihak berkomunikasi secara luwes tanpa rikuh. Terkadang mereka bersenda gurau satu sama lain. Proses tawar menawar terasa mengasyikan, kesan bertransaksi yang berbelit-belit tidak nampak. Di pasar tradisional ini, tergambar suasana pasar yang interaktif.

Geliat  pasar Jodog bertambah meriah dengan sabung ayam yang diselenggarakan di sebuah lapangan kecil di tengah pasar. Sabung ayam dilakukan oleh sekelompok petarung tanpa menggunakan taruhan uang. Mereka melakukannya cuma untuk menguji seberapa tangguh ayam-ayam Bangkok kesayangannya. Penonton tampak terhibur ketika menyaksikan ayam-ayam saling patuk di “miniatur coloseum ala Bantul” itu. Spot yang ramai pun dimanfaatkan oleh pedagang angkringan untuk menjual nasi kucing dan sebagainya.

Pasar Jodog diapit oleh alam yang indah. Saat memasuki pasar kita bisa melihat pemandangan  sawah-sawah padi yang membentang. Bukit-bukit yang permai terlihat membentengi sawah-sawah. Barangkali inilah salah satu petunjuk yang mampu menjelaskan,  mengapa adat kebiasaan orang jawa tak lepas dengan alam. Di mana lokasi pasar  diletakkan dekat dengan alam.  Setiap  kebiasaan manusia Jawa seperti berdagang kerap mempertimbangkan keberadaan alam supaya mendapat keberkahan atau kelimpahan spiritual. Manusia jawa meyakini alam sebagai sesuatu yang istimewa sebagai anugerah tuhan yang maha esa yang patut dihargai.

Menurut Frans Magnus Suseno, pergulatan manusia Jawa dengan alam membantu masyarakat Jawa dalam meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan dan kebudayaannya. Masyarakat di sekitar pasar Jodog menggunakan perhitungan berdasarkan tanggalan di kalender jawa. Hari-hari baik menjadi prioritas dalam proses penentuan. Bagi mereka,  kalender jawa merupakan semacam buku petunjuk. Karena mereka meyakini bahwa kalender jawa mempunyai penjelasan tentang hari-hari yang sakral dan hubungannya dengan sifat  kealaman. Salah satu hari yang baik menurut mereka adalah hari pon. Makanya mereka memilih hari-hari pon sebagai bukanya pasar Jodog.

Secara ringkas, kegiatan orang Jawa (lokal/pedesaan) menekankan keselarasan antar sifat manusia dengan sifat kealaman agar menciptakan hubungan yang baik. Ini sekaligus mendambakan harapan supaya terhindar dari malapetaka.