BERKARYA MELALUI MEDIA SENI MURAL (CERPEN TENTANG JOGJA)

Selalu ada hal yang bikin hati saya senang sama Jogja. Terutama yang menyangkut daya magnet kota ini di bidang art (baca: nyeni). Sepanjang jalan Malioboro kemarin, saya betul-betul terkesima, betapa Jogja full inspiration. Daya gerak anak-anak muda di sini betapa nyata dalam menciptakan sebuah atmosfer kreatif. Seketika saya berpikir “karya mural mereka bagus-bagus, berkarya secara kolektif, pasti bangga bisa dipamerin di sini!”.

Mural-mural tersebut merupakan karya para peserta  Mural Competition Jogja wall nation 2009 yang diselenggarakan oleh PEMKOT & KODIM 0734/ Yogyakarta. Bertema “Spirit of Panglima Besar Jendral Sudirman”,  para peserta diminta menterjemahkan brief menjadi seni mural yang relevan dengan tema. Di atas media triplek berukuran 2,4 x 1,2 meter (bagi peserta perorangan) dan 4,8 x 1,2 meter (bagi peserta kelompok) mereka saling beradu konsep maupun ide kreatif. Hasilnya luar biasa, mural-muralnya unik, kreatif, sangat menghibur.

Di Jogja belakangan ini memang kental dengan seni muralnya. Seingat saya, tiap sudut hingga gang-gang Jogja selalu menempel mural-mural. Seperti di fly over jembatan Lempuyangan, Kota Baru, Jl. Perwakilan, Jl. Prof. Dr. Yohanes, Jl. Beskalan, di daerah Wirobrajan, dan sebagainya. Para kreator tidak saja datang dari anak-anak muda atau seniman setempat.

Tercatat, beberapa seniman mural luar negeri baik perorangan maupun kelompok pernah menggoreskan sapuan kuasnya di tembok-tembok Jogja. Sebut saja, karya Midori Hirota asal Jepang di Jl. Perwakilan, Malioboro. Sementara yang lainnya adalah enam orang seniman mural asal Amerika. Mereka tergabung dalam Clarion Alley Mural Project (CAMP).

Apresiasi masyarakat Jogja terhadap seni mural cukup baik. Mereka mendukung agar seni mural di Jogja tetap eksis. Anak-anak muda kota gudeg ini dibiarkan berekspresi secara terbuka. Melalui seni mural, diharapkan pesan-sesan sosial dan budaya bisa tersalurkan dengan indah. Menempatkan seni mural sebagai penghias tambahan pada kota. Seni mural perlahan masuk membaur dengan kebudayaan lokal Jogja yang “ngangeni”.