Perjuangan Sang Anak Rusa

Berhari-hari sudah sang anak rusa tersesat di dalam hutan. Setiap lembah dilalui, sejumlah anak sungai tak lelah ia telusuri. Siang dan malam terus berganti. Tetapi, tak ada satu pun jalan yang dapat menuntunnya lepas dari hutan. Wajahnya tampak pucat dan matanya layu. Badannya bergetar menggigil ketika berhenti di muka sebuah gua. Ia akan berjalan mengendap-ngendap, karena takut langkahnya didengar harimau.

Saat malam datang, guna menghindari endusan harimau dan babi hutan, sang anak rusa kerap berlindung di balik pohon pinus besar. Itulah tempat beristirahat sekaligus benteng perlindungan yang aman baginya.

Sang anak rusa bertahan hidup cuma dari buah-buahan busuk yang berserakan di tanah dan rumput-rumput liar hutan. Minumnya berasal dari kubangan air. Sungai-sungai memang ada, namun ia takut sebab di situlah kerap tampak kumpulan harimau-harimau besar ‘ngetem’.

Di perjalanan di pagi itu, ia bertemu dengan seekor tupai dewasa. Betapa riang hati, setelah berkilo-kilo berkelana akhirnya ada juga yang bisa ditemuinya. Tupai tersebut tengah asyik mengupas pakis hutan yang pahit rasanya itu dengan gigi tonggosnya. Tupai pun tersentak ketika didatangi sang anak rusa.

“Wahai bapak tupai, bisakah membantu saya tunjukan jalan keluar dari hutan ini?” pinta sang anak rusa.

Tupai pura-pura tuli, malah kian asyik menyantap makan paginya. Sang anak rusa mengulang permintaannya lagi:

“Bapak tupai yang baik, sungguh berterima kasihnya saya kepada bapak, bila bapak tupai mau memberikan petunjuk ke mana jalan keluar dari hutan buas ini!”

Tupai itu akhirnya membalas:

“BeEERRiiiSSSSiiKK, huuu!!” buah pakis yang tadi digenggamnya ia lemparkan ke anak rusa tersebut.

“Maaf bapak!” ujar anak rusa memelas.

“Oke..oke ane akan bantu ente, tapi ane punye satu syarat!”

“Apa itu bapak tupai?”

“Ente nyanyi lagu dangdut, jatuh bangun-nya Meggy Z!”

“Pake joget yaa!”

“Bapak tupai, saya tidak bisa bernyanyi, apalagi dangdut !!”

“Ahh, pagimana sih ente, mao ane kasih tau kagak?”

“Baiklah bapak, tapi bagaimana kalau lagu kasidahan saja, saya hapal di luar kepala?”

“Waduh, ente pake nawar-nawar lagi..ngeselin! ya udah bungkus dah, cepet nyanyi!”

Bernyanyilah sang anak rusa. Sambil memejamkan mata, ia sebarkan suaranya. Penghayatannya patut diacungi jempol. Sementara tupai bak seorang juri bawel. Sedikit-sedikit protes karena anak rusa tak berjoget. Andaikata Bens Leo atau Anang jurinya, mungkin perlakuannya bakal beda. Justru sang anak rusa akan langsung dikandidati sebagai idola cilik paling ‘gress’.

“Saya sudah bernyanyi bapak, sekarang saya tagih janji bapak tupai!” pinta sang anak rusa.

“Wah ente belom 5 lagu, udah setop aje. Oke deh ane kasih tau!”

“Ente ikutin aje jalan setapak ini, terussssss…pokoknye jangan belok-belok, kalo ada
portal nunduk ya,hehehe!” jawab si tupai sambil berguyon.

“Terima kasih bapak tupai atas kebaikannya, saya pamit dulu!”

“Giiih daaah lu sono!”

“Ehhhh..ehhh??” panggil bapak tupai.

“Ada apa lagi bapak?”

“Kalo udeh sampe, misscall yee,hihihihi!” tupai kegirangan.

Sang anak rusa bergegas mengikuti arahan dari tupai tersebut. Rona-rona kebahagiaan terpancar jelas di pulas wajahnya. Hal yang diidam-idamkannya selama ini tinggal menghitung waktu saja.

Sayang kebahagiaannya cuma seujung kuku. Tiba-tiba sang anak rusa kaget bukan kepalang. Di depan matanya tampak gerombolan anak-anak harimau. Kaki sang anak rusa seperti terkunci. Bibirnya kelu, matanya meredup ketakutan. Tupai ternyata telah menjebaknya.

“Ho..ho..ho teman-teman, lihat siapa yang datang? Seekor anak rusa lezat cuy!!” Teriak salah satu di antara mereka.

“Hore..hore..hore, ayo kita sikat saja sekarang!!” sambut seekor anak harimau yang lainnya.

Salah satu anak harimau mendekatinya. Kalau tidak salah, ia adalah bosnya. Ini bisa dilihat dari kalung yang menggantung di lehernya. Di mana terdapat deretan taring babi. Konon ceritanya, lambang tersebut menyimbolkan bahwa harimau yang paling kaya adalah harimau yang berkalung taring babi terheboh. Meskipun yang kaya bapaknya, namun simbol ketajiran tersebut bisa latah juga ke anaknya.

Ia pun berbicara tepat di hidung sang anak rusa:

“Hai anak rusa? sudah bosankah kamu hidup? berani-beraninya datang ke sarang
si raja hutan?”

“E..e..E..e..E..e..e!!” suara sang anak rusa gelagapan.

“Sudah, bos langsung saja kita cabik-cabik badannya!!” saut salah seekor harimau itu.

Ketika gerombolan mereka ambil ancang-ancang untuk menerkam anak rusa tersebut.
Sang anak rusa berkata:

“Sabar guyscalm down!!” ucapnya.

“Kalian boleh menikmati sesuka hati tubuhku tapi apakah kalian kenyang kalau cuma makan
diriku saja, kalian kan banyak?”

“Maksud elo..maksud elo?” tanya salah satu dari mereka.

“Biar kalian semua kenyang, aku akan memanggil teman-temanku yang lainnya!” bujuk sang anak rusa.

“Hei anak rusa, kamu ingin membohongi kami yah? tak usah yauw!” jawab si bos.

“Tidak bradda, mana berani anak rusa yang kecil ini mengelabui si raja hutan, berdosalah saya!”
kata anak rusa.

Sang bos kemudian berpikir, sembari berputar-putar mengelilingi sang anak rusa:

“Benar juga, baiklah, kami setuju!” kilahnya.

“Lho bos, tidak bisa begitu, gegabah artinya!”

“Dalam sidang mingguan kemarin, kan kita sudah sepakat kalau jangan biarkan mangsa lari!”
sela anak buahnya.

“Aah, waktu itu kan saya ke toilet, tahu-tahu sudah sah saja. Padahal ketua belum ketok palu!”

“Jadi tidak sah, dan ingat saya bosnya!! saya anak harimau terkaya di hutan ini!” sambung si bos.

Anak-anak harimau sibuk bersitegang satu sama lain. Di lain sisi, sang anak rusa terus cari inspirasi buat mengkadali mereka.

“Oke deh bos, kami sundul-sundul saja alias dukung keputusan bos! ujar anak buahnya.

Sang anak rusa pun mengajukan permintaan:

“Tapi saya punya permohonan?”

“Apa itu anak rusa?” balas si bos.

“Bagaimana caranya agar teman-temanku bisa aku bawa ke kalian, sementara mereka tak tahu jalan masuk hutan ini?”

“Ah, itu soal gampang. Hutan ini cuman ada 1 pintu, untuk masuk dan keluar!”

“Kamu lihat bukit di sebelah tenggara itu? di sanalah pintu itu berada!” tegas si bos.

“Baiklah jika begitu, saya akan menjemput teman-teman dulu, setelah itu saya mungkin
akan kembali!” seloroh sang anak rusa.

“Yah, cepatlah kami sudah lapar, tak sabar ingin melumat habis kalian!”

“Awas jika kamu mendustai kami, kami tak segan-segan mengejar!”

“Dan satu lagi? ingat kami raja hutan pelari tercepat setelah cheetah, dan jangan lupa
saya anak harimau terkaya lho, he!!” dengan congkaknya anak harimau itu berkata.

“Itu sih dua bos!” balas anak rusa.

“Wuss, jangan bercanda kamu, cepat jemput!!”

“Siap bos!!”

“Ada ongkos tidak?” kata si bos.

“Ada bos, hehe!!” anak rusa menimpali humor sang bos pekok tersebut.

Sang anak rusa pun berlari sekencang-kencangnya. Semak belukar ia terabas tanpa ampun. Kecepatannya tidak bisa dikontrol lagi. Upayanya mengelabui gerombolan harimau-harimau culun tersebut berhasil. Ia baru saja luput dari maut. Sukses mendapatkan peta untuk pulang. Oleh karena itu, ia enggan membuang peluangnya tersebut.

Si anak rusa terus berlari, melompat-lompat mengangkangi rintangan. Nafasnya menderu bak suara lokomotif. Namun tiba-tiba larinya terjegal. Kakinya menyandung sebuah tumpukan kayu-kayu bekas illegal logging garapan manusia. Tubuhnya terpelanting, berguling-guling sampai jatuh di bibir jurang.

Sang anak rusa pingsan. Kulitnya tampak terkoyak. Di jidatnya terlihat lebam membiru. Sang anak rusa harus segera siuman, bila tidak habislah riwayatnya. Hujan mulai turun dengan deras. Guntur meledak di atas langit. Sang anak rusa mesti bangun. Ia mesti bangkit. Nyawanya kini di ambang kematian.

Suara-suara kecil berdesing di kedua telinga sang anak rusa. Rupanya berasal dari kepakan sayap-sayap seekor lebah betina yang terbang mengitari tubuh sang anak rusa.

“Anak rusa…ayo bangun… ayo bangun!!” seru lebah itu.

Kelopak mata anak rusa pelan-pelan membuka, sambil menahan rasa perih tak terkira, anak rusa mengigau.

“Ibu…tolooong aku…ayah tolooong aku!!!”

Mendengar rintihan anak rusa itu, sang lebah makin memaksa anak rusa itu agar segera sadar.

Diantuplah olehnya badan si anak rusa agar bergeming:

“Ayo anakku, kamu harus bangun!!”

“Ayo…sayangku, bangun, jangan kamu tiru tim sepakbola Indonesia yang tidur terus!!”

“Ayo…ayo, kamu jangan menyerah, kamu harus hidup!!”

Anak rusa itu pun bangun. Walaupun masih tergopoh-gopoh ia berjalan. Kemudian ia menyingkir dan berteduh di bawah pohon randu hutan.

“Egh..egh…egh…ibu siapa?” tanyanya sambil mengerang kesakitan.

“Aku lebah anakku, panggil saja bunda lebah!!”

“Aku tinggal di pohon itu!!” balasnya sembari menunjuk pohon yang dimaksud.

“Ada apa dengan dirimu anakku, mengapa kamu begitu tergesa-gesa?” sambungnya.

“Ibu, berhari-hari saya tersesat di hutan ini!!”

“Nih anak, disuruh panggil bunda, masih aja panggil ibu!!” protes si bunda.

“Maaf bunda!!”

“Saya ingin keluar dari sini bunda, tolong saya bunda!!” pinta sang anak rusa.

“Di mana rumahmu anakku?”

“Di hutan Margaelok bunda!”

“Wah itu masih jauh sekali. Tapi sudahlah, ayo kamu harus bangun dan teruskan perjuanganmu!!”

“Ayo lekas, nanti kamu bisa dimangsa oleh si raja hutan!!”

“Baik bunda!”

“Pintu keluar hutan ini tepat di bukit itu!!” bunda lebah mengarahkan.

“Lekaslah, kalau sudah malam bisa berbahaya lewat sana!!”

“Karena harimau dan binatang buas lainnya akan bertambah banyak di sana!” sambung bunda lebah lagi.

“Terima kasih bunda atas pertolongannya!”

“Ini aku bekalkan kamu madu dari sarangku, minumlah selama menuju bukit itu!” bunda lebah sambil mengepalkan tangannya ke tangan anak rusa.

“Terima kasih bunda…sekali lagi terima kasih!”

“Iya..iya cepatlah, yang bisa menolongmu adalah dirimu sendiri anakku, ayo buruan!!” seru bunda lebah lantang.

Titah sang bunda lebah secepatnya diikuti oleh sang anak rusa. Rasa sakit dan pedih yang mendera seakan-akan hilang dalam sekejap. Sang anak rusa berdiri dengan gagahnya. Ia melanjutkan perjuangannya. Dan pada akhirnya, ia pun berhasil meloloskan diri dari dalam hutan buas tersebut.

Begitulah cerita perjuangan sang anak rusa malang tersebut. Memiliki kemampuan dan kekuatan yang terbatas tidak menjadikannya lemah dan menyerah. Semangatnya hebat. Harapannya kuat. Tegas mengambil keputusan, dan mampu melewati segala persoalan.

Dipiciki oleh tupai namun ia tetap teguh. Diancam dimatikan oleh anak-anak si raja hutan tetapi justru sebaliknya, ia bisa mengelabui gerombolan liar yang banyak omong tersebut. Selalu ada inspirasi. Otaknya dipakai, meskipun pada kondisi terjepit sekalipun.

Adapun usaha keras disertai ketulusan dan cinta kasih akan senantiasa diberkahi oleh tuhan. Di titik nadir harapannya, datanglah pertolongan dari bunda lebah yang baik hati. Sang anak rusa yang pemberani. Mempertaruhkan nasibnya di atas kakinya sendiri. Kesabarannya seluas samudera. Badan boleh kecil tapi harapan jangan sampai kecil.