Sandal Jepit

Gak habis pikir kenapa makin lama orang kian mengeksklusifkan dirinya. Menolak menerima kehadiran orang baru, dan mungkin berpikir panjang sebelum ia mutusin untuk menerima orang baru tersebut.  Jaman emang kayaknya berbalik lagi ke jaman dulu, malah semakin kacau, lebih primitif.

Adakah di antara kita pernah merasa pernah dimentalin (red: ditolak) sama sistem keeksklusifan tersebut? gak usah dijawab, dalem hati aja jawabnya, kenapa aku suruh begitu karena bukannya kita dididik emang gitu, ngendapin semua keganjilan di sekitar kita. Dibiasakan hidup diem, dibekap mulut kita! gak ada maksud siy bikin mikir, tapi itulah realitasnya, makanya harus mikir.

Keeksklusifan jelek, pokoknya jelek bin bapuk. Dampaknya bakal membawa hakekat manusia jauh dari kemuliaan, menghindar dari rasa empati dan simpatik. Mau bukti? liat aja setiap hari bentuknya nyata kok. Pernah diomelin satpam gak waktu masuk ke mall pake sendal jepit? bagi dirinya yang gak eksklusif pasti pernah!

Gimana rasanya?

Pahit atau mau nabokin tuh satpam?

Keselkan?

Niatannya mau cuci mata sekalian nyari barang-barang yang didiskon 90 persen malah diusir keluar. Emangnya ada apa dengan sendal jepit, bisa meledak, bisa bikin celaka?.

Terus, ada apa dengan dandanan yang biasa-biasa aja kalo berbelanja di mall?

Hina, kumel, gak punya duit, atau gak banget begitu?

Gila bener deh, sekarang hobi orang yang suka menilai sesuatu dari luarnya aja udah kronis, sulit diilangin.

 Sadarkah bahwa Tukul berkata “don’t judge the books from the cover”?

Jadi, begitulah ketika eksklusifitas udah menempel di hati orang, bahkan seorang satpam pun bakal merasa dirinya eksklusif karena tempatnya bekerja eksklusif, kalo direnungin moll apanya yang eksklusif? Dikencingin juga, diberakin juga (wc).

Kita ini orang Indonesia bung dan nona, cara kita dari dulu dikenal sederhana! gak suka neko-neko! kenapa sekarang semuanya harus berubah? berganti cara? disuruh eksklusif? Bikin ribet, bikin awut-awutan!

Gak bebas kalo menjadi eksklusif!

Dicaci kalo menjadi eksklusif!

Jauh dari tetangga di samping rumah! makanya sering digosipin.

Mau hidup kayak begitu?

Serba ini, serba itu, jangan sampe dipandang gak eksklusif!

Citra yang ingin dibawa?

Kenapa keeksklusifan selalu dikait-kaitin sama citra?

Sama good behavior?

Bukannya baiknya citra sesuatu itu dipandang dari baiknya kita berpikir?

Baiknya berinteraksi kepada siapapun?

Cerdasnya menghadapi persoalan?

Kuatnya karakter?

Michael Jackson adalah salah satu orang yang dijerat oleh sistem keeksklusifan. Michael sebetulnya gak mau hidup dalam keeksklusifan, namun oleh karena sistem yang telah disepakati oleh orang-orang serakah di sekelilingnya, maka mau gak mau ia mesti jalanin kehidupan yang semu kayak itu.

Denger kan di berita?

 Ia merasa sangat, sangat kesepian, gak ada orang yang mau berbagi dengan dirinya ketika kesedihan tengah berkecamuk di hatinya. Padahal ia begitu mengharapkan kiranya ada orang yang mau menemaninya.

Nah, atau ada kisah laennya tentang merasa kesepiannya sang raja pop tersebut, di lagu yang berjudul “stranger in Moscow”, jelas sekali jika Michael menumpahkan curhatnya akan kesepian dirinya, diambil dari pengalaman pribadinya ketika di suatu tengah malam ia berjalan sendirian berencana mencari teman yang mau berbagi keluh kesah, namun kasihan ternyata ia pulang tanpa apa-apa, gak ada orang yang bisa ditemuinya untuk berbagi.

Aku gak tau banyak soal Michael Jackson, tapi itulah makanya aku ngajak mikir, gak diem aja, ngajak nyari pengetahuan-pengetahuan baru meskipun yang kita temukan bukan tokoh idola kita, supaya kita mikir, keluar dari sarang, keluar dari kubikel-kubikel kaku, sofa-sofa empuk yang bikin males membaca, males mencari berita baru.

Hidup itu adalah sebuah lapangan lebar, jangan bersembunyi, bermain-mainlah ke segala penjurunya. Jadilah manusia sederhana sehingga gak takut kotor, gak takut bau, dan selalu mempunyai jiwa sosial, gak menutup akses diri untuk orang luar berkenalan.

Jangan tanya aku apa itu definisi keeksklusifan, sebab dari awal kan udah ditekenin kalo aku ngajak mikir, ngajak gak diem, ngajak bergerak untuk jadi manusia normal dan jadi manusia independen.