Sepi

Kali ini mereka tak menunggu,
tanpa berpikir dalam, mereka berdiri.
Menantang sesuatu lalu menunjuk-nunjuk ke segala arah.

Entah suka, atau sudah terbiasa begitu,
Budaya menantang, jiwa penantang.
Dan laksamana perang kian memerahkan telinga mereka kiri kanan.

Berbaris dengan dada membusung ke depan.
Mereka makin menantang, siap berkorban.

Persetan dengan nasib, enyahlah rintihan manusia
yang penting kali ini harus menantang.
Karena tanah ini dilahirkan dari darah dari nafas kematian.
Lalu, di manakah jiwa-jiwa penantang ketika semuanya tidak seperti sekarang.

Sepi