WANTED: LUMAKSONO TRI SARJONO

Berhati-hatilah terhadap modus penipuan baru. Bentuk teranyar dari penipuan ini adalah komplotan penipu sengaja menaruh sebuah amplop berwarna cokelat yang terbungkus sampul plastik di pagar halaman Anda atau mencecerkannya di pinggir jalan. Pada cover depan dokumen tertulis “Documen Penting”. Lalu, di bawahnya diikuti oleh nomor registrasi dan nomor handphone. Bila dicermati sudah jelas kalau ini adalah penipuan. Pertama, si penipu kurang teliti menulis dalam bahasa inggris pada kata “Documen”. Seharusnya, kata “document” dalam bahasa inggris harus diberi akhiran “t” jadi “Document”. Biar pun diketik menggunakan software microsoft word pasti jika kita menulis dokumen otomatis berubah menjadi “Document”. Yang kedua ialah pemilihan font type. Penentuan font type Monotype Corsiva pada kata “Documen Penting” kayak “UNDANGAN SUNATAN”.

Hampir saja saya dikelabui oleh dokumen tersebut. Ketika semalam saya menemukannya tergeletak di depan pagar halaman kost saya. Sekilas, saya berpikir mungkin ini adalah faktur penagihan kartu pasca bayar milik orang-orang kost. Oleh karena itu, barang tersebut saya ambil dan tidak berani saya buka. Segera, saya coba tanyakan ke semua orang-orang kost, apakah mereka merasa kehilangan sebuah dokumen?. Ternyata tiada satu pun merasa telah kehilangan dokumen tersebut. Sampai akhirnya saya tanyakan kepada istri anaknya bapak kost saya, Titis, yang bahenol itu. Barangkali miliknya atau keluarga yang lainnya. Tapi, jawabannya sama, yakni bukan punya mereka. Lantas, oleh si Titis dokumen itu ia buka.

Kemudian, ia bilang:

“waah toy, isinya cek 4 milyar 700 juta sama surat-surat tanah…”.

“ahhh, yang bener kamu?” balas saya.

Suami si Titis, Yosi, yang bertubuh pendek dan tambun ditambah keling mentereng menceletuk:

“udah kamu cairin aja ke bank!”

“wah jangan bro, kalau cek ini palsu gimana, bisa disangka sindikat pemalsu cek aku ama pihak bank, biarin aja entar aku telpon orangnya aja” pungkas saya.

Di waktu bersamaan teman kost saya berceloteh:

“kaya kamu..kaya kamu…kaya kamu, syech Puji kalah sama kamu!!”

“kaya munyuk” cela saya.

Dokumen penting itu pun saya minta kembali. Dalam hati saya berkata:

“aku harus balikin ke si pemilik mungkin ia kalang kabut karena dokumen pentingnya hilang”.

Saya memeriksa isi dokumen tersebut untuk mengetahui siapa pemiliknya. Di dalamnya terdapat SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan) atas nama: Lumaksono Tri Sarjono, direktur PT. Mico Graha Pavindo Surabaya, dan beralamat rumah di Jakarta Utara. Kekayaan pria ini sungguh bombastis yaitu 25 milyar rupiah. Ada juga Surat Keterangan Tanah dari Badan Pertanahan Nasional cabang Manokwari, Papua selain cek 4 milyar 700 juta. Ketika saya hubungi nomor telpon yang tertera di cover dokumen, pertama-tama mail box terus. Setengah penasaran saya coba terus untuk menghubungi si pemilik diselingi oleh guyonan di otak saya:

“siapa tau kalo dibalikin dapet cipratan yah seenggaknya 700 jutanya lah, lumayan untuk bikin bisnis lapangan futsal sama modal buat kawin”.

Hingga akhirnya panggilan saya dijawab oleh suara seorang laki-laki. Saya pun menjelaskan bahwa saya telah menemukan dokumen miliknya:

“halo selamat malam pak, apa benar ini nomor Bapak Lumaksono Tri Sarjono” ujar saya.

“yah betul tapi pak Lumaksono sedang istirahat karena habis rapat” jawab lelaki itu. “Anda siapanya yah” tanya saya kembali.

“oh saya Ilham, stafnya pak” balas dia lagi.

“begini pak saya menemukan dokumen penting atas nama Bapak Lumaksono” saya menimpal.

“oh gini aja pak, besok bapak telpon lagi aja” tukasnya.

“ooh gitu yah, gak bisa bapaknya yang telpon saya” balas saya.

“ooh bapak aja yang telpon lagi” katanya.

“ooh yah sudah” saya tutup telpon saya.

Keragu-raguan saya semakin besar, kenapa saya yang mesti menghubunginya kembali. Padahal, logikanya kalau benar dokumen itu penting baginya maka ia yang akan bergairah menelpon saya. Ini justru sebaliknya. Keyakinan saya kian membuncah bahwa ini penipuan. Saya cross check satu persatu surat-surat berharga itu. Keganjilan demi keganjilan mencuat ke permukaan. Di mulai dari pengetikan yang salah pada Surat Keterangan Tanah. Pengetikan tanda titik dua menjorok terlalu jauh sehingga tidak sama dengan keterangan yang lainnya. Masa iya pegawai BPN bisa salah mengetik ketika membuat suatu surat penting. Logo BPN pun tampak keruh warnanya. Setahu saya surat-surat resmi pencantuman logonya memiliki separasi cetakkan yang berkualitas bagus pada gambar logo. Kemudian, kebodohan si penipu berikutnya adalah SIUP (Surat Ijin Usaha) terkesan seperti leaflet yang berisi informasi kost-kostan. Di SIUP itu, nama perusahaan PT. Mico Graha Pavindo tata letaknya dibuat word art yang meng-emboss seperti tampilan headline sebuah rental komputer “Rental Komputer 24 Jam”. Peletakan informasi nomor registrasi dari perda setempat miring meletot. Mungkinkah petugasnya lagi SMS-an sewaktu men-cap SIUP itu. Stempel dari Disperindag pun terlihat masih baru, padahal SIUP itu dikeluarkan pada September 2006. Mayoritas dokumen-dokumen tersebut materinya di scan oleh komplotan penipu ini. Memang, biodata sang direktur sahih meyakinkan dengan kekayaan bersih 25 milyar. Namun, formalnya kalau kekayaan bersih seseorang itu sepengetahuan saya jika membaca kekayaan orang di media massa nominal keseluruhannya selalu berangka ganjil seperti 12, 4 milyar rupiah, misalnya. Nah ini kok digenapkan?.

Kegelian saya tak surut sampai di sini. Foto sang direktur: Lumaksono Tri Sarjono tampangnya tidak pas untuk style-an seorang direktur. Rambutnya cepak setengah pelontos seolah-olah habis digerogoti rayap. Kedua matanya menanar fokus tapi sendu. Ingin melotot namun hanya seperempatnya saja seperti orang habis bergadang terus pagi-paginya dipaksa foto box sama teman-temannya. Mulutnya menggumpal seperti orang yang selalu menyemburkan kebohongan. Jeleknya, tuan direktur Lumaksono Tri Sarjono bak salah seorang penipu jalanan dalam film Benyamin Sueb yang menipu bang Beny ketika bang Beny dikadali dalam permainan dadu koprok oleh komplotan mereka. Hingga pada akhirnya bang Beny terpaksa melego jam tangan dan pakaiannya kepada mereka dengan harga murah supaya bisa pulang naik angkot.

Saya kira cuma saya saja yang mendapat dokumen sialan itu. Ternyata, banyak orang-orang di sekitar lingkungan tempat tinggal saya menerimanya juga. Oleh karena itu, waspadailah modus terbaru dari komplotan penipu ini. Analisa saya tentang modus ini adalah jika kita tergiur oleh umpan mereka lalu dengan intensif menghubungi si pemilik dokumen. Takutnya terjadi penggendaman (hipnotis) jarak jauh melalui line telpon. Dan, para penipu itu menggiring kita pada iming-iming imbalan besar tapi dengan syarat harus menyetorkan dulu sejumlah uang ke rekening mereka. Atau, mereka meminta nomor rekening kita untuk memberikan imbalan kepada kita. Bohong itu, yang ada saldo di rekening kita dikuras oleh mereka. Karenanya, mari kita cerdas menganalisis segala keberuntungan yang kita dapat hari ini. Siapa tahu itu merupakan salah satu bentuk penipuan. Jangan cepat percaya, sekali lagi saya tekankan jangan cepat percaya. Saran saya, rajin-rajinlah berolahraga dan hindari tawaran tak jelas dijamin pikiran kita tidak akan terbujuk oleh modus-modus penipuan. Dan, jangan lupa chek up kesehatan lahir batin kita secara rutin kepada tuhan lewat sholat. Bahwa kita masih diberi-Nya sehat dan otak jernih untuk memperoleh rejeki yang halal melalui cara yang mulia.

Saya bersama teman-teman kost sepakat. Andaikata ada kesempatan bertemu dengan Bapak Lumaksono Tri Sarjono di jalan Malioboro atau di Alun-alun selatan Yogyakarta. Kami mau menelanjanginya tanpa sehelai benang pun melekat di tubuhnya. Menggelitiki sekujur badannya sampai puas pakai jari-jari kami agar ia bisa mentertawakan ketolollannya menjadi seorang penipu tua yang tidak professional. Serta, mencabuti satu persatu bulu hidung dan bulu ketiaknya pakai pinshet (alat pencabut bulu) supaya ia merasakan sakitnya orang-orang yang menjadi korban penipuan gerombolannya. 6 pesan buat Bapak Lumaksono Tri Sarjono:

1. Sebaiknya nama bapak disingkat saja jadi: Ir. Lumaksono SH. SIP. Tri (tiga) Sarjono (sarjana) terlalu panjang.

2. Anda akan disumpahi penyakit memalukan yaitu Panu, Kadas, Kurap oleh para korban. Dan, semoga permanen di tubuh.

3. Jika ingin membentuk tim penipu yang kreatif. Lakukanlah fit and proper test dulu terhadap bakal calon anggota.

4. Pilihlah profesi yang lebih menantang. Misalnya, kuncen kuburan keramat atau pemberi makan ikan Piranha.

5. Kalau ingin mencetak dokumen gunakanlah tinta asli jangan suntikan.

6. Dan, sebelum kejahatan Anda terbongkar polisi. Mulailah datangi travel agent terdekat untuk membeli tiket buat kabur.