Menikmati Sunset Dengan Menyantap Ikan Bakar Di Pantai Depok, Bantul

Laju sepeda motor saya berkisar pada kecepatan 70 sampai 80 km/perjam. Menggoyangkan tubuh saya, meliuk-liuk di jalan raya Bantul yang berkelok-kelok. Sesekali hamparan sawah nan hijau di samping kiri kanan, mencuri mata ini. Elok dan tertata rapih kesan barisan sawah-sawah tersebut. Meskipun masa panen masih jauh, tetapi keindahannya tak mengurangi keharmonisannya berdampingan dengan bukit-bukit di sekelilingnya.

Setiap kali berhenti di lampu merah, kembali saya mengecek jam digital saya, untuk mengetahui berapa lamakah saya berjalan. Kebiasaan ini selalu menjadi keharusan bagi saya, karena dengan mengukur waktu selama perjalanan, saya sekaligus dapat belajar tentang keakuratan waktu untuk tiba di tujuan dengan timing yang tepat.

Berkendara di jalan Bantul agak sedikit berisiko, apalagi ketika jarak tempat wisata telah semakin dekat. Saya perhatikan kendaraan-kendaraan roda dua di depan saya jarang sekali memberikan celah untuk bisa menyalip. Padahal, lampu sein kanan saya telah aktif memberikan sinyal. Apakah selama mereka mengemudi benar-benar malas melihat kaca spionnya? tapi sudahlah, mungkin inilah tantangan tambahan bagi saya.

Jarak antara motor saya dengan motor teman saya kurang lebih 20 meter,  jauh toh? Insiatif untuk mengkudeta posisi mereka tak pernah kesampaian. Dalam hati, saya menggerutu “apa gara-gara oli saya yang jelek? baru aja diganti, wah ampsiong si ngkoh gw dikasih oli ecek-ecek”

Perlintasan jalan lokasi wisata yang saya tuju kian tampak jelas di pelupuk mata. Satu atau dua kelokan lagi, mungkin saya akan tiba. Perseneling mulai saya turunkan. Kini motor saya sudah mulai mendongak ke atas, karena tanjakan. Tak lama berselang, pintu gerbang masuk pantai Parangtritis sudah tampak. Namun tujuan saya bukanlah ke sana.

Sebelum mengarah pas ke gerbang tersebut. Saya kemudian membanting kemudi ke arah jalanan kecil yang hanya cukup dilalui oleh satu mobil saja. Yah, jalanan inilah yang akan membawa saya menuju pantai Depok, tujuan rekreasi saya.

Rekreasi ke pantai sebetulnya bukan agenda rutin saya. Ingin ke pantai ketika perasaan ini sudah jengah akan kejenuhan aktifitas sehari-hari saja. Sekalian menemukan inspirasi baru, nafas baru, dan kesegaran baru. Pantai bagi saya mampu memberikan atmosfir tersendiri bagi kesehatan jiwa.

HTM ke pantai Depok lumayan murah. Satu motor dikenai 1500. Sedangkan mobil  3000. Tetapi di mulut pantai ini, sikap korupsi ikut mewabah. Para petugas menaikkan biaya sepihak, dari 1500 menjadi 2000 untuk motor. Tidak tahu kalau mobil, mungkin dipatok 2 kali lipat.

Memasuki areal pantai, hati saya digelitik oleh baliho besar salah seorang caleg dari parpol tertentu. Mbah Bardi politikus lokal kesohor.

Bagaimana saya tidak dibikin tertawa, wong setiap hari foto aki-aki itu intens saya jumpai di jalan-jalan dekat kos teman saya. Di mana-mana selalu ada!

Hahahahahahha, semoga di Pemilu nanti, si engkong tak masuk angin agar bisa melihat konstituennya mencentang foto tuwirnya.

Kisah selanjutnya adalah saya bersama teman-teman melangkah ke lokasi pelelangan ikan. Inilah nikmatnya jika ke pantai Depok. Sambil menunggu sunset kita dapat mengisi perut dengan menu seafood pilihan. 1,5 kilogram ikan kakap ekor kuning dan 1,5 kilogram cumi merupakan kudapan sore saya di pantai Depok. Untuk 2 jenis panganan laut tersebut cukup mengeluarkan 30.000.

Supaya menggugah selera, binatang-binatang laut tersebut mesti diolah oleh tangan para ahli yaitu tukang masak. Di pinggiran pantai Depok, terdapat deretan warung yang menawarkan jasa memasak. Warung ibu Rini akhirnya menjadi tukang masak kami. Lantaran perut belum lapar, saya putuskan nanti saja masakannnya diolah, kami ingin kongkow-kongkow dulu di tepi pantai.

Seiring senja merangkak, perut mulai keroncongan. Baliklah saya dengan 2 teman saya ke warung. Setelah menunggu berapa lama, kudapan kami pun tiba. Wuiiih, sedap sekali wanginya! cumi saus tiramnya sayang bila didiamkan apalagi ikan kakap bakarnya, meledek-ledek saya terus “ayo berani apa makan gw?“ kata si ikan “waduh nantang gw yah lu, gw sikat kerempeng lu” balas saya dalam hati.

Sedang asyik-asyiknya melahap semua itu. Dendam saya kepada teman yang kemarin sms bahwa ia tengah melancong ke daerah perkebunan teh di Purbalingga kembali mencuat ke permukaan. Tanpa tedeng aling-aling, saya bergegas meminta kepada teman di sebelah saya untuk membalas dendam. Sms pembalasan kami kirim, “tamparan ombak, hembusan angin, dan birunya laut mengiringi santap sore kami dengan cumi dan ikan bakar di pantai Depok” begitulah kira-kira bunyi sms-nya.

Oh, syahdunya makan dengan pemandangan pantai di depan mata. Apalagi tepat di belakang saya, ada gadis ayu berperawakan seksi dengan celana hot pants-nya juga lagi makan. Sayang ada monyetnya kalau tidak I ready to rock n roll to you girls. Memang hidup selayaknya mesti dinikmati!

Habis makan sepah dibuang, artinya saatnya kembali ke pantai. Sebuah kacamata hitam oakley gadungan siap membingkai mata saya untuk narsis-narsis-an di muka lensa kamera.

Hits single album kedua Efek Rumah Kaca berjudul ‘Kenakalan Remaja di Era Informatika’ menjadi tembang pembuka di telinga saya. Ketenangan saya di atas dek perahu nelayan kian mantap geloranya. Saya minta teman saya untuk mengabadikan gambar saya.

Ketenangan saya pudar. Ketika dua teman saya sedang sibuk hunting. Merasa penasaran, saya hampiri mereka. Dasar semprul, kutu busuk, tempe gosong! saya sangka memotret landscape, ternyata kameranya memotret cewek-cewek yang basah kuyup bajunya.

Sunset pun datang, tak ingin melewatkan kesempatan ini tanpa dijepret. Saya kembali menyuruh teman-teman saya membekukan gambar saya dengan latar sunset tersebut.

Ketika usai senja, saya dan teman-teman masih stay adem ayem di dek perahu nelayan. Bak seorang pembalap F1 di atas podium yang menyemprotkan sampanye-nya. Sekaleng minuman berwarna hijau produksi negeri Belanda meramaikan euphoria kami di awal malam. Perjalanan di pantai Depok tamat sudah. Pukul 19.00 kami berangkat tuk kembali pulang.

 Forever young…forever young!! hooreee..