BUTUH PENDIDIKAN INSPIRATIF

Thursday, March 05, 2009

Berapa banyakkah jumlah pelajar dan mahasiswa di negeri ini yang mengamini bahwa pendidikan berlatar kurikulum pelajaran padat dan sifatnya formal dapat membentuk dirinya menjadi manusia-manusia kompetitif bahkan berpikir multilateral?. Penulis meyakini jumlah presentasenya sangat kecil. Aturan ketat yang dikeluarkan oleh pengambil-pengambil kebijakan di institusi pendidikannya masing-masing mengenai kurikulum pelajaran yang harus diikuti berbanding terbalik dengan skala kemampuan rata-rata siswa-siswinya. Artinya saat siswa-siswi dengan kemampuan rata-rata diberikan beberapa mata pelajaran yang menguras isi otak maka keadaan connect failure akan terjadi. Dan ujungnya adalah pemaksaan kehendak dari satu pihak. Sementara si pihak yang dirugikan (siswa-siswi) masuk lebih dalam lagi ke jurang ketidak jelasan. Adilkah jika realitas yang ada demikian?.

Pendidikan adalah mata dari sebuah bangsa, darinya manusia mampu meretaskan ide dan gagasan yang mengalir membanjiri sendi-sendi kehidupan masyarakat suatu bangsa untuk melahirkan bentuk-bentuk nyata yang bisa digunakan bagi kemaslahatan orang banyak seperti teknologi. Menilik beberapa tahun ke belakang kebijakan format pendidikan di Indonesia, selalu saja menimbulkan kontroversi dimasyarakat. Penentuan nilai kelulusan seorang siswa atau siswi oleh pemerintah (Departemen Pendidikan Nasional) yang tidak berdasarkan voting bersama yang melibatkan, kalangan praktisi, pengamat serta siswa-siswi membuat makna pendidikan di negeri ini kian runyam arahnya. Kalau begini jadinya, ribuan siswa-siswi yang tak lulus UAN selalu berulang-ulang dan entah hingga kapan dapat dihentikan.