Zio Sang Kapten Angkasa Masa Depan

Illustration by Mael, Coloring and copy by myself

Selama mengenyam pendidikan di Yogyakarta. Sosok yang satu ini tak bisa dilupakan begitu saja dari hidup saya. Nama lengkapnya Fritzio Putra Hans, biasa dipanggil Zio. Terkesan ke-Itali-italian memang, maklumlah ayahnya seorang Juventini (fans klub Juventus). Makanya, ia terinspirasi oleh nama-nama pemain bola liga Italia yang keren sekaligus tampan rupanya. Zio dilahirkan di Magelang, tanggal 10 Oktober 2004.

Kepalanya bulat seperti biji kacang ijo raksasa, hidungnya bersembunyi ke dalam alias pesek, sepasang bola matanya jernih, kulitnya tak putih-putih amat, dan perawakannya kurus. Sementara, rambutnya menjadi obyek olahan oleh kedua orang tuanya. Kemarin dicukur gundul, besok dirubah Mohawk.

Zio banyak menggoreskan kenangan yang ekspresif untuk saya. Kehadirannya bak oase di tengah gurun tandus. Memberikan air kedamaian di saat sedu sedan berkecamuk. Zio tumbuh dengan pesat, perlahan ia tumbuh dari seorang bayi imut menjadi bocah laki-laki yang tanggap akan segala hal. Cerdas menirukan lagu-lagu orang dewasa, dan kritis terhadap apa yang dilihatnya. Walaupun, sesekali kenakalan muncul dari dalam dirinya. Bersahabat dengan ayahnya sejak SMA bikin saya kian akrab mengenal bocah penggemar serial animasi Jepang Naruto tersebut.

Perkembangan motorik Zio mengalami kemajuan hari demi hari. Pergerakkan badannya meningkat tajam. Itu terlihat, saat ia gemulai melakonkan jatilan (jaran kepang) di hadapan saya. Sementara, kemampuan kognisinya ikut terdongkrak meningkat. Hal ini terbukti ketika ia begitu menghayati perannya sebagai pemain jatilan. Bebas berlari ke sana-kemari dan menggeleparkan tubuhnya di lantai lalu berguling-guling kesetanan laksana kesurupan. Aksinya menandingi pemain aslinya. Saya dan kedua orang tuanya hanya terperangah dan bertepuk tangan. Zio bukanlah pengidap Autisme, saya jamin secara fisik dan mental Zio sehat. Namun, karena memiliki intelegensia yang lebih, ia jadi kebanyakkan gaya, kata ABG “lebai”. Tak apalah, mending banyak gaya daripada mati gaya.

Jika mendengar sang bunda mengeluh kepada suaminya tentang tingkah polah anaknya yang bikin menangis teman-teman sebayanya, dan sok jagoan di sekolahan. Saya cuma tertawa di antara dua sohib karib saya itu. Apalagi melihat reaksi si suami yang kalem dan berlagak bijak menanggapi curahan hati isterinya. Di saat bersamaan, Zio malah asyik sendiri dengan mainan mobil-mobilannya. Dengan wajah memelas, Zio sesekali menoleh dan berjanji kalau ia tak akan nakal lagi. Semakin membahanalah tertawa saya. Padahal, selang beberapa waktu kemudian perangai koboynya kambuh lagi. Sungguh, Zio anak yang pintar mengakali kemarahan mamanya meski sebatas sementara.

Di TK-nya Zio dikenal hebring oleh murid-murid lainnya. Pamornya diakui seantero sekolahan. Gelak tawa dan canda para murid-murid TK tersebut kenyaringannya akan berkurang jika Zio tak ada. Di bidang pelajaran, prestasi belajar Zio grafiknya lumayan bagus. Ponten-pontennya jarang merah.

Ketika teman-temannya berjajar memperhatikan instruksi dari ibu guru. Di seberang sana Zio malah terhanyut berayun-ayunan sendirian. Itulah lukisan karakter Zio ketika di sekolah, belajar sesuai aturannya. Apabila saya tengah santai di bangsal rumahnya, selalu saya tanyakan ke Zio, dapat apa sajakah dari sekolah hari ini?. Sambil menyeruput minuman saya, Zio berkata bahwa gurunya hanya mengasih pekerjaan rumah. Setelah itu, ia pun bergegas menuju kulkas untuk mengisikan ulang gelas minuman saya yang airnya telah dikurasnya. Samar-samar, terdengar pula suara sang mama yang tampak kebingungan menentukan menu-menu panganan buat takzilan di sekolah Zio.

Seandainya saja gurunya tidak bekerja ektrakeras memahami cara bagaimana mendidik Zio secara baik. Barangkali, kelebihan Zio yang lain tidak bisa terangkat. Dibutuhkan kesabaran dalam mengasuh Zio. Lagipula, Zio tak mengerti gaya-gaya belajar yang serius. Zio cuma paham main adalah belajar, ataupun sebaliknya, belajar ialah main.

Bukanlah suatu pegangan jika seseorang yang nakal atau malas belajarnya sewaktu kecil masa depannya tak akan cemerlang. Tengoklah, Albert Einstein, Winston Churcill, dan Thomas Alpha Edison. Orang-orang hebat ini agak kurang memuaskan prestasi belajarnya ketika kanak-kanak. Misal Einstein, ia sering melamun saat di kelas. Winston Churchill, gagap dan cadel. Kemudian Thomas Alpha Edison, ia kerap diusir keluar kelas karena sering memperolok gurunya. Jadi, bagi saya biarkan Zio belajar sekehendak hatinya, kita tak akan pernah tahu di mana bakatnya bila ia terus dipaksakan dengan apa yang tidak disenanginya.

Setiap akhir pekan, saya sering bermalam di rumah keluarga tersebut. Paginya, bersama-sama kami pergi Sunday Morning ke kampus UGM. Sekedar makan opor ayam atau menemani Zio di atas pelana kuda sewaan mengelilingi areal kampus. Kalau Zio sudah larut di pundak kuda, ia tak mau berhenti. Selalu ingin tambah dan tambah. Kasihan juga bila menatap raut muka kusir kudanya yang nampak kepayahan meladeni permintaan Zio. Ia akan setop jika sang mama sudah menasihati setengah menekan.

Habis bermain, biasanya ada-ada saja ulahnya. Menatap deretan penjual mainan kaki lima di sepanjang trotoar, bikin air liurnya naik turun. Ia akan melengos menghampiri etalase barang dagangan tersebut, dan meminta kedua orang tuanya untuk membelikannya. Saya dan kedua orang tuanya cuma geleng-geleng kepala. Kalau dibelikan takutnya tak berumur panjang dan nantinya teronggok jadi barang bekas di gudang seperti mainan-mainan lainnya. Namun, karena saking cinta pada putra semata wayangnya. Kedua orang tuanya pun mengabulkan permintaan Zio.

Zio gemar sekali mengambil kunci motor saya. Setelah itu, ia akan mendatangi motor saya lalu menyalakannya. Ditekanlah tombol klakson berkali-kali, memanggil saya untuk mengajaknya berjalan-jalan. Posisi duduknya yang di depan kerap menghalau gerak saya.

Namun, saya tak bisa melawan kemauan Jenderal boncel tersebut. Bagi saya kesenangannya lebih berarti dari segalanya. Sifatnya yang periang selalu menyemarakkan perjalanan. Bait-bait lagu band J-Rock ‘Kau Curi Lagi’ didendangkan apik lewat mulut mungilnya. Meskipun, ia menyanyikannya agak terbata-bata. Akan tetapi, syukurlah Tuhan menganugerahkan kepada saya suara yang (tidak) merdu sehingga mampu membetulkan lirik-lirik yang salah ucap oleh Zio.

Mimpi buruk terjadi di siang bolong itu. Ketika saya hendak mampir ke warung bersamanya untuk membeli sesuatu. Tanpa pikir panjang, Zio menganjurkan opsi kepada saya agar ke Mirota Kampus saja. Mirota Kampus adalah swalayan langganan Zio sekeluarga. Masih ingusan sudah cerdik beriklan ini anak.

Lagi-lagi, saya tak kuasa membendung rayuannya. Sesampainya di sana, latihan pernafasan telah saya persiapkan sedari awal. Benar saja, barang belian saya dikalahkan oleh Zio. Bila saya berbelanja hanya untuk satu barang. Sebaliknya, Zio justru memborong sejuta barang. Ia melenggang kangkung ke meja kasir, dikepalnya keranjang belanjaan yang sudah dibanjiri oleh ice cream dan cokelat-cokelat kesukaannya.

Dalam pacu jantung yang terjepit, keluarlah ide. Saya bertutur kepada Zio kalau Tuhan sangat membenci orang yang makan berlebihan. Alhamdullilah, sifat penurut Zio mencuat seketika. Saya bantu dirinya meletakkan kembali semua makanan ringan tersebut ke tempat semula. Tinggal semangkung ice cream dan sekerat cokelat saja yang akhirnya ia genggam. Sebenarnya, saya ingin sekali menyaksikan perut Zio bergelimang dengan ice cream dan cokelat. Tapi apa daya, pundi-pundi uang di dompet kurang melimpah. Nantilah, jika tiba waktunya, kalau perlu bangun sekalian pabrik-pabriknya. Amien.

Tuhan terus menampilkan sisi-sisi kebaikkan yang dimiliki oleh Zio. Saban saya akan menunaikan ibadah sholat maghrib, tanpa disuruh Zio ikut berjemaah di samping saya. Kendati, kekhusyukkan sholat saya agak luntur akibat sedikit-sedikit melihat sarungnya yang mengendur. Walaupun demikian, sholat bareng Zio akan selalu saya dambakan.

Kemuliaan yang mirip pun kerap ia perlihatkan. Tatkala seorang Tunawisma menunduk di hadapannya, dengan cekatan ia mendermakan sejumput uang recehan pemberian mamahnya. Selain itu, Zio juga santun akhlaknya, bila saya hendak pulang ke indekost ia mendekati saya lalu meminta salim.

Rasanya, saya percaya bahwa Zio bukanlah anak nakal melainkan seorang bocah berumur empat tahun yang baik serta berbakat . Hanya saja, perlu kepekaan kita melihatnya melalui sudut pandang yang berbeda. Akan menjadi tugas kedua orang tuanya untuk terus memoles nilai-nilai positif yang terkandung pada Zio.

Bakat Zio yang mudah menyerap kata-kata, acap kali dieksploitasi oleh kedua orang tuanya, terutama ayahnya. Entah dendam atau senewen terhadap saya, kejombloan saya kerap dijadikan sasaran empuknya. Tempo-tempo oleh ayahnya itu, Zio diajarkan sejumlah pertanyaan singkat untuk di arahkan ke saya.

Secepat kilat, Zio melaksanakan titah tersebut. Sedikit malu-malu, Zio pun menanyakan di manakah pacar saya?. Supaya hatinya tentram, saya selalu membalas bahwa pacar saya lagi pulang kampung, dan mungkin tidak akan pulang kembali ke Yogya. Zio hanya manggut-manggut. Di atas bangku rotan, ayahnya cengengesan keranjingan. Gara-gara kelakuannya saya terpaksa berdusta di depan Zio. Untuk membalas kejengkelan terhadap ayahnya. Saya suka menyindir ayahnya, bahwa uruslah kembali Kartu Tanda Penduduknya, revisilah tahun kelahiran, jangan dimuda-mudakan.

Andaikan keadaan uang di saku lagi mendukung. Saya bersama keluarga Zio, menyempatkan diri menjajal suara pergi berkaroke. Zio paling girang bernyanyi, saya lebih tertarik Zio yang membuka konser daripada ayahnya duluan. Sebab, suara sang ayah bikin gendang telinga saya mau pecah. Sepertinya Giant mesti waspada terhadap rival terberatnya ini.

Zio suka culas, giliran saya bersenandung mikrophone saya diserobotnya. Biar sama-sama adil berduetlah kami. Aneh, skor saya selalu rendah, padahal seluruh energi bernyanyi telah saya keluarkan sekuat tenaga. Naga-naganya dipengaruhi oleh rusaknya mesin pemutar. Klasemen suara terindah selalu dipuncaki oleh mamanya Zio. Dibuntuti saya dan Zio di urutan berikutnya. Sedangkan, ayahnya Zio bertengger di posisi terbuncit atawa jadi anak bawang.

Bung kancil diperkenalkan dengan olahraga Futsal. Animonya terhadap sepak bola ruangan ini begitu besar. Umpamanya, tim saya ditantang oleh tim lain. Saya selalu memberi aba-aba kepada ayahnya supaya Zio turut serta. Meski Zio ujungnya cuma jadi penonton, namun ia tak kecewa. Wujud antusiasnya ia alihkan dengan bersorak-sorak di bibir lapangan untuk menyemangati ayahnya yang menjadi kiper.

Saya ingat, ada kejadian kocak sewaktu di lapangan Futsal. Setelah saya lelah bergumul melawan keringat, Zio bertanya ke saya. Zio meminta saya menilai apakah hidungnya pesek atau tidak?. Saya jawab bahwa hidung Zio tidak pesek cuma belum mancung saja. Kemudian, saya julurkan tangan saya ke hidungnya dan memijat batang tulang hidungnya dari bawah ke atas. Lalu, saya ungkapkan ke Zio bahwa sebentar lagi hidung Zio pasti mancung. Pengobatan alternatif saya rupanya ditentang oleh mamanya. Mamanya berang sebab operasi kilat saya telah meninggalkan rona kemerahan di sekitar hidung Zio. Tadinya ingin berniat baik malah disangka malpraktik saya.

Hulubalang (komandan) mini saya ini sangat alergi terhadap hantu. Apabila bengalnya sudah di luar batas, obat peredanya adalah dengan menceritakan kisah-kisah hantu yang suka memangsa anak kecil ke Zio. Zio akan bergidik, dan merengek ketakutan di rangkulan ayahnya.

Tapi hampa juga kalau tidak tampak tindak tanduk Zio yang seru itu. Zio enggan membeo jika lagi bermain PSP (Play Station Portable). Zio piawai mengendalikan satu game tembak-tembakan di situ. Sukar sekali menanti-nanti letupan Zio bila sudah demikian. Seorang manapun tak ada yang berani mengganggunya. Kecuali saya!. Saya suka menjahili Zio, PSP miliknya saya bajak. Zio tak akan tinggal diam, tindakan sewenang-wenang saya itu dibalasnya dengan memukul dan menendang saya. Pekikan penolakan pun menyembur lewat gorong-gorong mulutnya. Memang saya biang kisruh, tapi saya puas karena suasana tidak lagi sepi. Zio darahnya kembali memanas.

Kebiasaan Zio naik pesawat terbang mengilhaminya pada sebuah impian besar. Jika dewasa kelak, Zio ingin sekali menjadi seorang Pilot. Cita-cita Zio untuk menjadi supir pesawat udara tak pernah redup. Ia selalu memeliharanya sepanjang hari. Ditunjukkannya dengan berlari keluar rumah saat mendengar deru mesin pesawat melintas di atap rumah. Kemudian, ia akan berjingkrakkan seraya berteriak-teriak “pesawat…pesawat!”.

Ayahnya pernah berkisah, bahwa Zio saat berada di atas awan sering bermain mata dengan para pramugari. Tante-tante cantik ini sering dicuri hatinya oleh Zio. Lewat berbagai kesempatan, mata Zio tak pernah lengah memandang tubuh semampai mereka berlenggak-lenggok. Alamak, saya kalah jantan darinya.

Mudah-mudahan mimpinya jadi Pilot tak karam. Berharap ayahnya giat membulatkan tekad Zio menjadi seorang kapten angkasa masa depan. Asal tahu saja, Zio lebih bernyali menghadapi turbulensi di dalam pesawat ketimbang ayahnya yang gemetaran sambil komat-kamit menutup mata.

Suatu hari, tangisan Zio membuyarkan perayaan ulang tahunnya di sebuah pondok sea food di kawasan Lippo Karawaci. Ia menangis sekeras-kerasnya, kedua orang tuanya panik bukan main. Dari arah jembatan, teman perempuan saya menggendongnya menuju tempat kami semua makan. Darah segar mengucur deras dari ubun-ubun kepalanya, Zio mengerang kesakitan menahan perih. Bocornya cukup besar, diameternya sekitar 5 cm. Kekalutan tidak saja menghinggapi kedua orang tuanya, namun juga ke saya, serta teman-teman yang lainnya. Renyahnya udang asam manis dan legitnya black forrest langsung lenyap di benak saya.

Menurut keterangan teman perempuan saya itu, saat Zio bermain perosotan di taman, tiba-tiba Zio terpeleset. Dan, akhirnya kepala Zio dijilat oleh besi penahan. Zio segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Agar tak terjadi infeksi berkelanjutan, Zio pun harus menjalani operasi ringan.

Tak tega hati ini saat menyaksikan Zio dibekap mulutnya dan dipegangi sekujur badannya supaya tidak meronta-ronta ketika dijahit kepalanya. Walaupun dianestesi, Zio kian meraung-raung pilu saat sebatang jarum lancip bekerja saling silang menutup lukanya. Kesakitan Zio berubah menjadi amuk kemarahan. Bahasa-bahasa kebun binatang pun terlontar dari mulutnya, Sampai-sampai suster yang ikut memeganginya pun selain dapat caciannya juga terkena cipratan air ludah Zio. Di luar ruang operasi, mata sang mama sembab oleh air matanya yang jatuh berlinang. Sesekali berpelukkan dengan teman-teman perempuan saya.

Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya operasi selesai. Di halaman rumah sakit Zio sudah mulai bisa ketawa-ketiwi dihibur oleh teman-teman pria saya. Di HUT ke empatnya, Zio diberikan bingkisan istimewa oleh Tuhan. Tidak manis memang, namun akan terkenang seumur hidup.

Di penghujung tahun lalu, terakhir saya melihat Zio. Itu pun dalam keadaan tak mengenakkan. Hari itu Zio harus pindah ke Tangerang, karena ayahnya dipindah tugaskan ke kota seribu pabrik itu. Saya berdiri memandang Zio yang meringkuk sedih duduk di atas pagar pendek.

Hati bocah perkasa itu sekejap warnanya berganti merah jambu. Ia menjadi begitu perasa. Kemurungan tergambar pada parasnya, jiwanya terguncang, matanya berkaca-kaca. Zio seakan tak rela bila berpisah dengan teman-teman mainnya di Yogya. Dan juga seolah-olah tak siap jika harus beradaptasi dengan lingkungan barunya kelak. Jalinan persahabatan yang telah merekat antara Zio dan para sobat kentalnya itu selama sekian tahun akhirnya mesti pupus seketika.

Kala itu, aroma keharuan tak dapat terbantahkan. Semua orang terbenam dalam isak tangis. Para tetangga merubungi keluarga Zio, mereka akan bersiap melepas maskot kesayangannya yaitu Zio. Kedua pipi Zio basah dilumuri bekas bibir bercampur air mata. Jika Zio bersedih karena akan berpisah dengan pasukan bermainnya. Lain soal dengan si mama, mamanya merintih sedih lantaran harus meninggalkan rombongan ibu-ibu teman merumpinya.

Di paruh yang sama, ayahnya Zio sibuk memasukkan tas-tas padat berisi pakaian ke bagasi taksi. Sedangkan, saya berkonsentrasi di pojok bangku menghitung barang-barang keluarga tersebut yang sudah diwariskan ke saya. Sehabis adegan termehek-mehek tuntas, Zio sekeluarga pamit dan berlalu menuju Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta untuk terbang menuju ke Jakarta.

Di sudut kota gudeg ini, bayang-bayang keluarga tersebut berserakan di pikiran saya. Andai saja mama dan ayahnya Zio tahu kalau siomay mang Udin di perempatan Kentungan masih tersedia meja kosong, pasti tanpa ragu mereka akan mengajak kembali saya makan sore di sana. Masa-masa bersama mereka kini sangat saya rindukan. Terutama sahabat kecil saya, Zio. Saya ingin sekali membawanya kembali berputar-putar menembus riuhnya jalan raya. Lalu. menghabiskan waktu bersamanya berlama-lama berkaroke ria ataupun pergi ke bioskop menonton film kartun dan superhero terbaru.

Bagaimanapun liarnya Zio, ia tetaplah tandem karoke terbaik saya, joki terhebat saya, teman makan siomay saya dan jagoan kesayangan saya. Mungkin, dengan membaca novel Totto Chan karangan Tetsuko Kuroyanagi, dapat menghapus kerinduan saya akannya, meskipun cuma sementara. Semoga Totto Chan versi pria tersebut selalu disayangi oleh orang-orang di sekelilingnya. Buat Zio ‘Sang Kapten Angkasa Masa Depan’ …“Oom mau nyari pacar dulu!”.